"Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)

Minggu, 06 Maret 2011

MIMPI SEBAGAI JEMBATAN HIDUP

Semua orang pasti pernah bermimpi. Namun apakah kita mampu menangkap arti “firasat” mimpi tersebut. Mimpi-bermimpi memang tidak dapat diterjemahkan kedalam tataran ilmiah, akan tetapi bukan berarti mimpi itu kosong makna. Adanya satu asumsi dan motifasi metafisis yang menjadikan sebagian orang percaya pada adanya firasat “mimpi”. Pertanyaannya kenapa kita harus percaya dan mengulas soal mimpi ?. jawabnya sangat sederhana “karena kita tidak pernah tahu siapa kita, dan kita pun tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di hari ini, esok bahkan minggu-minggu yang akan datang”.

Orang bermimpi biasanya disebabkan dia terobsesi “mengimpikan” sesuatu, kemudian obsesi itu menghantarkan pada alam tidur atau bermimpi. Bermimpi dan obsesi adalah dua kenyataan yang berbeda. Obsesi adalah sesuatu yang dibangun diwaktu sadar. Sedangkan ber-mimpi adalah sesuatu peristiwa yang terjadi dibawah alam sadar “saat tidur”. Ber-mimpi dan obsesi merupakan dua dimensi yang berbeda pula (fisika dan metafisika). Kita tidak bisa memadukan dua dunia yang berbeda itu. Kalau kita Ibaratkan keduanya ibarat minyak dan air, yang tidak mungkin bisa disatukan (lebur).

Namun dua dunia yang berbeda di atas menarik untuk kita bahas dalam ranah praksis saat ini. Hal ini sejalan dengan animo masyarakat yang cenderung menyukai dunia metafisika. Kenapa menarik, karena dunia metafisika itu memang ada. Adanya dunia metafisiak yang tidak terjemahkan dalam dunia reil menarik untuk dibahas. Hal ini sejalan dengan konsep yang ada “diyakini oleh masyarakat kita”. Masyarakat kita adalah masyarakat yang inklusif, dimana mereka percaya terhadap ramalan tertentu (seperti terinstrumen dalam filem hantu, horor lainya).

Mengapa saya ingin membahas masalah mimpi ? kita sendiri sadar, bahwa hidup yang kita jalani memiliki dua dimensi (fisika dan metafisika). Pembacaan ini bisa kita mulai dari sejarah. Kemudian dari sejarah inilah kita dapat mengerti dan paham mengapa masyarakat kita fanatik terhadap mimpi yang mereka alami. Nabi Muhammad sw adalah representasi dari dunia fisika dan metafisika. Dimana Dia mampu menerjemah mimpinya dalam ranah praksis, semisal saat Nabi menyepi di Gua Hiro bermimpi menerima wahyu “iqrok”.

Turunnya wahyu kepada Nabi Muhmmad dan nabi-nabi sebelumnya disampaikan oleh Tuhan melalui malaikat dengan perantara tirai atau mimpi. Perantara turunnya wahyu melalui mimpi disepakati oleh umat islam secara universal. Lewat mimpi wahyu disampaikan kepada Nabi Muhammad. Kemudian Muahammad sebagai orang yang menerima mimpi melakukan sebuah gerakan (dakwa). Dakwa ini dilakukan secara perlahan dan tahat-demi-tahap, secara garis besar perjuangan Muhammad berhasil merubah wajah Arab yang awalnya tidak beradab menjadi lebih beradab.

Ada sebuah pelajaran penting dari apa yang dialami oleh Muhammad adalah ketika Dia mampu menerjemahkan mimpinya menjadi sebuah gerakan. Bagaimana dengan kita, dan mimpi manusia pada umumnya. Tidakkah kita bisa mewujudkan mimpi seperti yang Muhammad lakukan. Kita pasti bisa, Karena pada prinsipnya kita sama ”sama-sama manusia” yang diberi keleluasaan, perasaan, keinginan, harapan. Kalau Muhammad makan, makannya nasi, minum-nya minum air, tidur, dan Dia juga ngesek (hasrat sex) apa yang dilakukan oleh Muhammad merupakan sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia karena kita juga makan-makan nasi, minum-nya minum air, tidur, dan ngesek juga.
”Belajar hidup dari mimpi, memulai hidup dengan bermimpi”.

Saya yakin bahwa kita (manusia) pernah mengalami mimpi, terlepas mimpi itu baik atau buruk. Hal ini untuk memudahkan kita dalam mengenal ”analisis” dua alam yang berbeda yang pernah kita jalani. Bermimpi bagi saya adalah sebuah pintu masuk untuk memasuki dunia yang lebih luas dan tidak dapat diprediksi sebelumnya karena dengan kita bermimpi secara tidak langsung telah tertanam harapan. Sehingga harapan itu akan menjadi pemicu untuk lebih oktimis dalam menghadapi hidup.

Sedangkan mimpi itu sendiri merupakan sebuah jawaban terhadap harapan. Secara tidak langsung orang akan mengalami kepuasan ketika dia tengah ber-mimpi. Contoh ketika seseorang remaja mengalami perasaan cinta terhadap wanita dia selalu berharap untuk bertemu dengan wanita yang dia cintainya, walau hanya dengan bermimpi. Namun karena satu alasan lain atau kesibukan tertentu mereka tidak bisa bertemu. Kenyataan itu sempat menjadi pemicu keterputusan hubungan cinta mereka karena jarang bertemu.
Namun kasus itu tidak berhenti sampai disitu saja. Pada satu saat ketika mereka saling mengabaikan perasaan mereka, keduanya mengalami sebuah pengalaman yang sebelumnya belum pernah mereka alami yaitu mereka sama-sama bermimpi. Dalam mimpi itu mereka bertemu di sebuah tempat tertentu awal pertama mereka saling kenal. Dalam mimpi itu mereka kembali saling menyatakan keseriusan hubungan mereka dan kometmennya untuk hidup bersama. Singkatnya setelah mimpi itu terjadi mereka pun saling menghubungi dan mengajak bertemu. Saat pertemuan itu terjadi percakapan panjang saling menceritakan kesibukan mereka masing-masing, sehingga mereka saling menceritakan pengalaman mimpi mereka. Setelah itu terwujudlah apa yang merek ber-mimpi sampai saat ini.

Atau kita pernah mengalami sebuah peristiwa dimana peristiwa tersebut sudah tidak asing, seakan kita pernah mengalami sebelumnya (implimentasi dari mimpi). Keyataan ini sering saya alami akan tetapi saya tidak menarik sebuah konklusi dari peristiwa itu. saya menganggap itu hanya kebetulan saja. Karena saya pernah merasakan atau bermimpi dimana mimpi itu seperti kenyataan namun itu belum pernah terjadi sampai saat ini.

Bukan maksud saya untuk melakukan penghakiman terhadap apa yang saya katakan diawal akan tetapi di sini justru saya ingin mengajak anda untuk bisa belajar hidup dari mimpi atau bermimpi untuk hidup yang lebih baik karena hanya dengan cara itulah kita bisa merekayasa hidup ”memaknai hidup” untuk selalu mensyukuri nikmat Tuhan.
Menurut pandangan Sigmund Freud mimpi merupakan penjabatan keinginan manusia yang tidak bisa dicapai sebelumnya. Dengan bermimpi orang bisa merasa sebuah fantasi