"Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)

Sabtu, 28 Januari 2012

KALIMAT YANG BERSAJAK

Sekian waktu berlalu, dan kini rasa itu tumbuh bersama hadir-mu
Aku benar-benar tak tahu kenapa ini terjadi padaku
Namun aku tak mungkin terus berpura-pura
Tapi aku merasa tak berdaya untuk melangkah jauh
Ingin kumulai sesuatu yang indah, sebagaimana inginku pad-mu

####

Fakta-“nya” cinta tak selalu berakhir indah
Aku sadari itu
Jadi aku pun mencoba berjarak, aku tak ingin
Rasaku mengawang, dan membuat aku lupa
Ini benar-benar ujian terberat yang aku hadapi
Nanti bila waktu itu tiba
Aku akan bercerita tetang persaanku ini pada-mu

Baca Selengkapnya di sini..

Senin, 23 Januari 2012

MENGHADIRKAN ICMI DALAM TATARAN PRAKTIS

Saat ini tak ada alasan bagi saya untuk tidak menulis. Pertama karena kedepan nanti saya akan berkecimpung di ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) Orwil Jawa Timur di mana saya harus mencatatat seluruh kegiatan dan aktifitas ICMI. Seperti diskusi rutin, kunjungan kerja keberbagai Daerah dan beberapa kegiatan lainnya.

Kedua akan makin banyak referensi dan perbendaharan pengalaman yang bisa saya jadikan cerita “tulis”. Ketiga karena saya menganggap menulis adalah panggilan jiwa dan kemanusiaan. Saya tak cukup kaya untuk membagi-bagikan uang pada teman atau sahabat, tapi saya mencoba untuk berbagi pengalaman kepada siapa pun, setidaknya melalui tulisan seperti ini. Dengan harapan apa yang saya bagi dalam bentuk cerita “tulisan” bisa menambah wawasan khususnya bagi saya peribadi.

Saya bukan seorang penulis yang bisa mengemukakan konsep dan teori. Apa yang salakukan “tulis” hanya sebuah cara untuk mengabadikan setiap momen kehidupan ini, baik  itu dalam bentuk tulisan atau cerita lainnya. Mudah-mudah ketergabungan saya dengan orang-orang bersar di ICMI semakin mematangkan keperibadian dan intelektual Saya. Mensejajarkan diri dengan orang-orang sekaliber ICMI jelas tidak mungkin. Kemungkinan yang dapat dilakukan adalah terus melakukan pembacaan atas apa pun yang saya lihat dan dengar dari mereka, kemudian saya tulis.

Kali ini saya mencoba mencari tahu seperti apa dan bagaimana konsep orang-orang ICMI dalam menata menajeman baik diinternal lebih-lebih subangsih-nya pada Republik ini. Seperti yang pernah saya tulis kemarin, bahwa ICMI Orwil Jawa Timur memiliki beberapa program diantara Pendidikan, Kesehatan dan Pembangunan Ekonomi dll. Di dalam pembangunan Ekonomi ICMI Orwil Jawa Timur mengelinding satu progran Mencetak 10.000, Saudagar Muslim Di Jawa Timur, ada beberapa langkah strategis yang telah dibungun oleh ICMI semisal membangun kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan Pesantran.

Melihat semangat dan SDM yang ada di Internal ICMI saya yakin program-progam yang digagas oleh ICMI bisa diwujudkan dan menjadi solusi yang sulutif atas persoalan bangsa saat ini. Setiap cita-cita yang baik tentu selalu ada batu sandungan yang mesti dilalui, semisal komonikasi dan konsolidasi.  Namun saya tetap optimis dengan pengelolaan menajeman yang baik rintangan itu akan mudah untuk di atasi.

Perkembangan yang saya baca terkait kerja sama dengan beberapa Perguruan Tingi dan Pesantren masih terus digodok. Semisal kerjasama yang tengah dijajaki dengan UNMUH salah satu perguruan Tinggi Swasta di Malang dengan system kemitraan, Pesantren Sidogiri dan Tebuirieng di Jombang . Penggodokan dan komonikasi dengan stakholder terus disenergikan oleh masing-masing kedua belah pihak.

Mewujudkan program Mencetak 10.000, Saudagar Muslim Di Jawa Timur bukan satu hal sulit. Saya katakan demikin karena di internal “orang-orang” ICMI banyak yang berlatar belakang pengusaha. Latar belakang dan pengalaman mereka dalam megelola usaha bisa dibagikan kepada pihak stakholder dalam hal ini PTS atau PTN dan pesantren yang kini menjalin kerjasama dengan ICMI. Dan bukan tidak mungkin meluaskan jaringan keberbagi sektor lainnya selain yang saya sebutkan di atas.

Saya teringat obrolan di salah satu kedai makan bersama orang-orang ICMI. Saat itu melakukan rapat koordinasi adalah tim Saudagar Muslim untuk program Mencetak 10.000, Saudagar Muslim Di Jawa Timur. Beberapa opsi yang diambil adalah pertama memberikan pelatihan kepada berbagai stakhorder. Kedua penyertaan modal dan pendampingan secara intensif. Ketiga memberikan blupirin yang kongrit dengan memanfaatkan potensi di internal ICMI.

Sementara kemitraan dengan perguruan tinggi dilakukan dengan sering job, di mana ICMI memberikan masukan dan tela’a terhadap beberapa pola usaha koprasi di PT tersebut, atau dengan cara menilai sistem yang telah berjalan kemudian memberikan masukan baik dalam bidang SMD, manajemen dan kerjamasa dalam meluaskan bidang usaha yang dikelola.

Untuk kerjasama dengan beberapa Pesantren sudah dilakukan pembicaran intensif, bahkan sekitar bulan oktober 2011, orang-orang ICMI dengan beberapa tim Saudagar melakukan kunjunagan langsung ke Pondok Pesantren Sidogiri dan Tebuireng di Jombang. Pertemuan di Tebuireng langsung mendapat  apresiasi hangat dari pengasuh sekaligus saudara Gusdur, Salahuddin Wahid. Kemudian kunjungan itu menghasilkan beberapa rumusan penting yang selanjutnya ditindak lanjuti melalui mekanisme yang legal (MOU)

Dilihat dari ekspektasi yang baik dari masyarakat terhadap program yang digelindingkan oleh ICMI, tentu hal itu akan semakin mempermudah dalam pengaplikasiannya. Menurut pandangan saya yang diperlukan saat ini bangaimana mensinergikan kometmen dan kerja keras secara reil dari orang-orang ICMI itu sendiri. Bila semua langkah telah dilakukan secara baik maka Insyaallah mengahasilkan nilai yang tentu lebih baik.

Memang mewujudkan progam apa pun bukan satu hal mudah, diperlukan cara kerja yang tak biasa. Dan saya yakin SDM di ICMI lebih memungkinkan untuk mengambil langkah-langkah strategis. Bila program itu sukses maka harapan Ketua Umum dan semua orang di intern ICMI “menghadirkan ICMI di tengah-tengah ummat” akan benar-benar dilihat dan diapresiasi oleh masyarakat.

Saya sepekat dengan paparan ketua ICMI Riau di mana dalam tulisannya ia mengatakan, untuk menghadirkan ICMI dalam tataran praktis tidak bisa dengan kerja yang muluk-muluk, cukup dengan kita melakukan satu aksi nayata. Sekecil apa pun geraka itu yang terpenting bisa menjadi mengatasi persoalan ummat secara nyata.

Wallahu a’lam.
Baca Selengkapnya di sini..

Minggu, 22 Januari 2012

MELIHAT IDE KRETIF ICMI

Tanggal 20 Januari 2012. Waktu menunjukkan pukul 20.15. Suasana Kantor PT. PILARMAS DIADASA seperti bergemuruh meniadakan lelah di siang hari. Beberapa orang terlihat duduk dengan membentuk lingkaran. Sebagian dari mereka yang duduk melingkar sudah saya kenal dan sebagian masih belum. Mereka adalah orang besar dengan kesibukan yang padat, namun tanggungjwab sosial menyatukan mereka dalam satu wadah perjuangan, di bawah bendera ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) Jawa Timur.

Saya diminta untuk menjadi notulen dalam setiap agenda ICMI oleh Ismail Nachu Ketua Umum ICMI Jawa Timur, sekaligus Direktur PT. PILARMAS DIADASA. Sebagaimana pernah Ismail cerita pada saya bahwa Ia memiliki agenda besar untuk mengembangkan dan menghadirkan ICMI pada public. Dia ingin di bawah kepemimpinannya ICMI menampakkan peran-nya secara nyata terhadap masyarat. “bila pada priode-priode  kepemimpinan sebelumnnya kiprah ICMI seperti apsen di tengah masyarakat, maka  untuk ke depan ICMI akan mengambil langkah-langkah strtegis, seperti : pemberdayaan kesehatam, Pembangunan Ekonomi dan penanaman pendidikan yang berahlak dan berkarekter” Jelas Ketua ICMI di Ruang kernya saat itu.

Menjalankan roda organisai nir-laba seperti ICMI diperlukan keikhlasan dan pengabdian. Saya salut terhadap orang-orang ICMI, bagaimana tidak di tengah kesibukannya mereka masih dapat meluangkan waktu untuk kepentingan ummat.

Semisal ketua ICMI, dia bukan tidak ada kesibukan. Justru saya melihat dia merupakan orang yang super sibuk dengan jam terbang yang tinggi. Selain disibukkan dengan berbagai aktifitas ke-organisasi-an sebagai ketua, Dia juga memiliki kesibukan bisnis property, sekaligus sebagai Direktur-nya.

Ternyata meskipun dia seorang yang super sibuk, Orang yang akrap di panggil Cak Mail ini masih sempat meluangkan waktu dan mengabdikan diri untuk kepentingan ummat.  Ketika saya melihat orang-orang yang terjun dalam organisasi social kemasyarakatan dengan penuh ketulusan hati, pesimisme saya akan bangsa terobati.

Ternya Tuhan masih memberikan penyeimbang atas keterpurukan bangasa, sehingga orang-orang yang memang benar-benar menginginkan Negara ini maju dan bersih masih bisa kita bacai dari mereka yang secara suka rela mendedikasikan hidupnya untuk kemaslahan ummat. Apa yang saya lihat dan amati menjadi penyeimbang, ya penyeimbang atas perilaku elit yang koruptif.

ICMI dikenal sebagai organisasi para cendikiawan, dan biasanya kaum cendikiawan merupakan  kelompok elit dari masyarakatnya, namun sebagaimana saya ketahui ICMI bukan organisasi yang elitis yang terlepas dari sosio kultur masyarakat. Sebaliknya ICMI bisa menjadi penjebatan atas cita-cita luhur pendiri bangsa dan ummat secara universal. Kecendikiawan bukan hal yang dilekatkatkan, melainkan membawa satu implikasi pada kewajiban dan tanggungjawab. Kawajiban dan tangungjawab itu bersumber pada nilai keimanan “hati nurani” dan kemanusiaan.

Oleh sebab itu ICMI pun harus terus menunjukkan peran nyata pada masyarakat. Program-program yang prorakyat harus diwujudkan secara nyata. Missal program ICMI Jawa Timur yang menggagas program “membentuk 10.000 Saudagar Muslim di Jawa Timur”, program-program semacam itu saat ini seperti gurita yang menjamur, program kreatif prorakyat pertama kali digelindingkan oleh pemerintah pusat seperti PKM dll. Apa lagi saat Sukarwo terpilih sebagai gubenur Jawa Timur sempat melontarkan satu janji politik yang hamper sama dengan pusat yaitu menciptakan 1000.000,00 pengusaha muda di Jawa Timur. Dilihat dari subtannya apa yang disampaikan Gubenur terpilih pada janji poltiknya sama dengan ide kreatif pusat hanya tema dan pengembangannya yang berba.

Hal serupa saya lihat dibeberapa organisai baik itu dibawah pemerintah seperti KADIN Jawa Timur dan ormas social kemasyarakat lainnya yang juga mengusung tema ekonomi kreartif  yang berbasis kemasyarakatan. Melihat salah satu program yang digagas oleh ICMI “membentuk 10.000 Saudagar Muslim di Jawa Timur”, tema itu sebenarnya hamper-hampir sama dengan semangat kerakyatan yang digelindingkan Pusat-Daerah juga oramas-ormas lainnya.

Kelompok organisasi keagamaan Seperti Muhammadian, NU dan beberapa oramas lain juga mengga-gas satu program yang sama “ekonomi kreatif” dengan desain dan enggel yang berbeda. Seperti saya sampaikan diawal ide Ekonomi kreatif yang kini banyak digagas ormas social keagamaan, dilihat dari subtansinya hapir sama denga program yang digelindingkan oleh pemerintah pusat-Daerah. Hal itu yang saya lihat di ICMI juga ormas social keagamaan lainnya. Pertanyaannya apakah program ekonomi kreatif yang bermasih masyarakat itu bersudah benar dirasakan dan mampu mewujudkan kehidupan yang lebih ekonomis dan dinamis…?

Ide-ide besar bangsa kita (ekonomi kreatif) masih sebatas pewacanaan dan belum mampu menjadi sepirit massal. Dan ke dapan nanti kita harus dapat bergerak secara nyata, bukan sekedar ide dan wacana belaka. Kita harus merubah pola kebiasaan “minset” secara menyeluruh, maka dalam hal ini pemerintah harus tidak hanya menggalakkan proyek pembangunan yang berbasis pada infrastruktur, namun lebih dari semua itu yaitu pembangunan suprastruktur.

Semangat membentuk jiwa kreatif “kewirausahaan” meruapakan sepirit yang baik yang harus terus digalakkan. Bangsa ini harus bisa berkaca pada kebangkitan ekonomi CINA, di mana Negara Tirai Bambu itu hampir menguasi sendi prekonomian di berbagai Negara termasuk Indonesia. Kita mestinya tak perlu kaget dengan diterapkan APEC, harusnya kita membangun pondasi untuk menilik peluang untuk mengekspansikan produk dan usaha dalam negeri.

Malam ini adalah pertama saya mengawal kegiatan perjuangan mereka di ICMI. Saya berharap keterlibatan saya dalam ICMI akan semakin mempertajam kepekaan social, dan bisa membentengi diri hal yang bertentangan dengan nalar dan narani ke iman.

Wallahu a’lam bissoweb


Baca Selengkapnya di sini..

Sabtu, 21 Januari 2012

BIARLAH PERASAAN “CINTA” ITU MENGALIR

Pernakah anda mengalami satu pengalaman hidup yang irasional namun anda benar-benar menjalini kehidupan tersebut, termasuk dalam pengalaman cinta. Saya yakin anda pernah mengalami meski hanya satu kali dalam hidup anda. Pengamalan yang tak rasional seperti subuah bingkisan atas lelah yang tak terperdaayai.

Pengalaman-pengalaman itu bisa beranika ragam bentuk (kemulusan dalam meraih karir, membangun usaha, dan bahkan pengalaman CINTA), yang jelas pengalaman itu merupakan satu moment yang sangat membahagiakan dalam kehidupan kita. Pengalaman-pengalaman itu sering kali datang secara tiba-tiba, penuh kejutan.

Bagi sebagian orang pengalaman hidup yang tak rasional itu dianggab satu karunia yang diberikan Tuhan kepada kita selaku ummat-Nya. Tuhan memang maha berkehandak terhadap apa yang Dia kehendaki. Ketika Tuhan ingin membalikkan keadaan tak ada yang dapat mencegah. Pengalaman hidup yang penuh kejutan sebenarnya telah terjadi pada kehidupan ummat sebelum kita. Dalam perjalan Rasul atau Nabi-nabi kita mengenal istilah mu’jizat, pada tingkatan para Wali dan Ulama’ kita mengenal istilah karomah. Saya mengartikan mu’jizat itu dalam baha yang lebih sederhana dan dalam prespektif yang universal yaitu satu pengalaman hidup.

Sebenarnya apa yang terjadi pada Nabi-Rasul, Wali dan Ulama’ adalah satu pengalam hidup sebagaimana terjadi pada manusia umumnya, pengkiasan derajad menjadikan pendefinisian “pengalaman” pertiwa tersebut berbeda. Menurut saya mu’jizat  “kejadian luar biasa” dalam kehidupan ini tak pernah berhenti dan akan selalu ada.

Apa pun pengalaman dalam kehidupan kita, semoga menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya. Tidak satu kejadia dalam kehidupan ini yang tak baik, semua baik. Mungkin anda bertanya, apakah benar semua kejadian dalam hidup itu baik ?, saya jawab iya, “semua kejadian yang diketahui atau tidak kita ketahui oleh kita, baik adanya”. Karena setiap kejadian di Duni ini adalah ketentuan yang memang disengaja oleh Allah. Maka hanya orang-orang yang bertaqwa lah yang bisa mengambil pelajaran “hikmah” dari setiap kejadian.

Maka beruntung lah orang-orang yang selalu mendedikasikan pengalaman kehidupannya, kemudian mngikhtiari-nya sehingga Ia selalu dapat mengambil hikmah atas pengalaman hidupnya.Karena hidup yang dijalani atas landasan hikmah akan membawa berkah pada sesama, dan kita pun meras damai.

Meski pun demikian kita tidak boleh berandai-andai, apa lagi berpangku menunggu datangnya keajaiban. Keajaiban tak perlu ditunggu atau kita memaksa untuk memperoleh keajabian hidup dengan cara salah, misal pergi ketampat-tempat yang berbau misti s(kuburan, dukun dll). Kita harus memiliki prinsip dalam membangaun hidup, kita tak boleh pasif, karena kehidupan yang kita jalan saat sangat dinamis. Bila kita pasif maka kita akan mati sebelum datang kematian yang sesungguhnya.

Keajabain Dan Cinta
CINTA, sudah berapa kali saya mengulas kalimat tersebut, pada tulisan sebelum ini saya menulis RASA-CINTA, tulisan itu merupkan sebuah pengejawantahan atas apa yang terjadi pada diri saya. Hingga tulisan ini disusun saya masih berperang dengan perasaan. Dalam satu sisi saya mengakui akan parasaan “cinta”, namun karena alasan yang urgen saya pun berprinsip untuk tidak kalah pada pesaan. Ada tanggungjawab yang lebih besar dari sekedar cinta, yaitu membawahi amanah sekaligus tanggungjawab terhadap orang tua. Karena satu waktu saya pernah berkometment terhadap diri juga keluarga saya harus menyelesaikan tugas dan tanggungjawa “kuliah” dulu baru memikirkan persaan “cinta”.
<photo id="1" />
Kuliah-cinta, bagi sebagian orang kuliah-cinta “kampus” menjadi satu bagian tak terpisahkan. Artinya apa, selain mereka mendalami ilmu di Bangku Kuliah mereka juga bisa memperolah cinta dari teman perempuannya saat di dalam perkuliahan. Saya melihat beberapa teman berhasil memadukan dua aktifitas yang berbeda menurut saya (KULIAH-CINTA), dan mungkin mereka adalah satu pengecualian. Begitu lah hidup warnanya selalu memberi kita kesan, dan saya yakin itu adalah anugrah.

Jujur ketika di kampus saya anti pati pada cinta, bahkan seperti tak ada ruang untuk melakukan aktifitas semacam itu. Karena setiap habis kuliah saya sering bergelut dengan teman-teman yang secara idiologi menyoal akan persaan “cinta”. Namun ketika melihat teman-teman asyik bersama pasangannya, hati saya tersentuh. Bahkan pada saat itu saya sempat bertanya pada diri sendiri, kapan saya bisa merasakan romantisme Cinta sebagaimana saya lihat saat itu. Artinya “saya masih normal” heheheheh.

Saat ini teman-teman sekelas di kampus sudah banyak yang lulus, bahkan banyak diantara mereka yang sudah menikah. Sedang saya masih belum lulus kuliah, dan masih belum mendapatkan apa yang saya impikan “keberhasilan-cnita”. Barangkali ini yang disebut keajaiban hidup. Segala kemungkin telah kita rumuskan dalam perencanaan yang matang. Bila sampai saat ini saya masih belum bisa menyempuranakan kehidupan, setidaknya saya hidup dalam sekala kecil.

Saya memaknai harapan dalam kehidupan ibarat sebuah pijar di padang luas, angin dan badai tak boleh menyilahkan lelah. Dan syukur saya adalah, Tuhan masih menanamkan satu kometment pada saya “untuk terus berjalan walau dengan berbagai badai yang menghantam. Dan saya berkeyakinan Allah telah mendesain kehidupan saya dengan baik indah.

Maka untuk perasaan “cinta” yang sewaktu-waktu datang, mengalir lah engkau sebagaimana udara yang kuhirup setiap saat. Bersemilah engkau di luar karang, tanpa batas bagar. Sesungguh cinta adalah anugrah yang mesti kau nikmati tanpa harus kau setubuhi. Cinta adalah tinta ilmu yang dapat melahirkankan buku kehidupan.

Untuk orang yang aku cintai, tak perlu engkau kujamah. Namun aku akan selalu bersetia sebelum kau dan keadaan ini meminta, setidaknya pada perasaan yang menghamba. Hidup ini adalah keajaiban sebagai kajabian cinta dan perasaanku untuk-mu-Nya.


Baca Selengkapnya di sini..