Pernakah anda mengalami satu pengalaman hidup yang irasional namun anda
benar-benar menjalini kehidupan tersebut, termasuk dalam pengalaman cinta. Saya
yakin anda pernah mengalami meski hanya satu kali dalam hidup anda. Pengamalan
yang tak rasional seperti subuah bingkisan atas lelah yang tak terperdaayai.
Pengalaman-pengalaman itu bisa beranika ragam bentuk (kemulusan dalam meraih
karir, membangun usaha, dan bahkan pengalaman CINTA), yang jelas pengalaman itu
merupakan satu moment yang sangat membahagiakan dalam kehidupan kita.
Pengalaman-pengalaman itu sering kali datang secara tiba-tiba, penuh kejutan.
Bagi sebagian orang pengalaman hidup yang tak rasional itu dianggab satu
karunia yang diberikan Tuhan kepada kita selaku ummat-Nya. Tuhan memang maha
berkehandak terhadap apa yang Dia kehendaki. Ketika Tuhan ingin membalikkan
keadaan tak ada yang dapat mencegah. Pengalaman hidup yang penuh kejutan
sebenarnya telah terjadi pada kehidupan ummat sebelum kita. Dalam perjalan
Rasul atau Nabi-nabi kita mengenal istilah mu’jizat, pada tingkatan para Wali
dan Ulama’ kita mengenal istilah karomah. Saya mengartikan mu’jizat itu dalam
baha yang lebih sederhana dan dalam prespektif yang universal yaitu satu
pengalaman hidup.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Nabi-Rasul, Wali dan Ulama’ adalah satu
pengalam hidup sebagaimana terjadi pada manusia umumnya, pengkiasan derajad
menjadikan pendefinisian “pengalaman” pertiwa tersebut berbeda. Menurut saya
mu’jizat “kejadian luar biasa” dalam kehidupan ini tak pernah berhenti
dan akan selalu ada.
Apa pun pengalaman dalam kehidupan kita, semoga menjadikan kita lebih dekat
kepada-Nya. Tidak satu kejadia dalam kehidupan ini yang tak baik, semua baik.
Mungkin anda bertanya, apakah benar semua kejadian dalam hidup itu baik ?, saya
jawab iya, “semua kejadian yang diketahui atau tidak kita ketahui oleh kita,
baik adanya”. Karena setiap kejadian di Duni ini adalah ketentuan yang memang
disengaja oleh Allah. Maka hanya orang-orang yang bertaqwa lah yang bisa
mengambil pelajaran “hikmah” dari setiap kejadian.
Maka beruntung lah orang-orang yang selalu mendedikasikan pengalaman
kehidupannya, kemudian mngikhtiari-nya sehingga Ia selalu dapat mengambil
hikmah atas pengalaman hidupnya.Karena hidup yang dijalani atas landasan hikmah
akan membawa berkah pada sesama, dan kita pun meras damai.
Meski pun demikian kita tidak boleh berandai-andai, apa lagi berpangku
menunggu datangnya keajaiban. Keajaiban tak perlu ditunggu atau kita memaksa
untuk memperoleh keajabian hidup dengan cara salah, misal pergi ketampat-tempat
yang berbau misti s(kuburan, dukun dll). Kita harus memiliki prinsip dalam
membangaun hidup, kita tak boleh pasif, karena kehidupan yang kita jalan saat
sangat dinamis. Bila kita pasif maka kita akan mati sebelum datang kematian
yang sesungguhnya.
Keajabain Dan Cinta
CINTA, sudah berapa kali saya mengulas kalimat tersebut, pada tulisan
sebelum ini saya menulis RASA-CINTA, tulisan itu merupkan sebuah
pengejawantahan atas apa yang terjadi pada diri saya. Hingga tulisan ini
disusun saya masih berperang dengan perasaan. Dalam satu sisi saya mengakui
akan parasaan “cinta”, namun karena alasan yang urgen saya pun berprinsip untuk
tidak kalah pada pesaan. Ada tanggungjawab yang lebih besar dari sekedar cinta,
yaitu membawahi amanah sekaligus tanggungjawab terhadap orang tua. Karena satu
waktu saya pernah berkometment terhadap diri juga keluarga saya harus
menyelesaikan tugas dan tanggungjawa “kuliah” dulu baru memikirkan persaan
“cinta”.
<photo id="1" />
Kuliah-cinta, bagi sebagian orang kuliah-cinta “kampus” menjadi satu bagian
tak terpisahkan. Artinya apa, selain mereka mendalami ilmu di Bangku Kuliah
mereka juga bisa memperolah cinta dari teman perempuannya saat di dalam perkuliahan.
Saya melihat beberapa teman berhasil memadukan dua aktifitas yang berbeda
menurut saya (KULIAH-CINTA), dan mungkin mereka adalah satu pengecualian.
Begitu lah hidup warnanya selalu memberi kita kesan, dan saya yakin itu adalah
anugrah.
Jujur ketika di kampus saya anti pati pada cinta, bahkan seperti tak ada
ruang untuk melakukan aktifitas semacam itu. Karena setiap habis kuliah saya
sering bergelut dengan teman-teman yang secara idiologi menyoal akan persaan
“cinta”. Namun ketika melihat teman-teman asyik bersama pasangannya, hati saya
tersentuh. Bahkan pada saat itu saya sempat bertanya pada diri sendiri, kapan
saya bisa merasakan romantisme Cinta sebagaimana saya lihat saat itu. Artinya
“saya masih normal” heheheheh.
Saat ini teman-teman sekelas di kampus sudah banyak yang lulus, bahkan
banyak diantara mereka yang sudah menikah. Sedang saya masih belum lulus
kuliah, dan masih belum mendapatkan apa yang saya impikan “keberhasilan-cnita”.
Barangkali ini yang disebut keajaiban hidup. Segala kemungkin telah kita
rumuskan dalam perencanaan yang matang. Bila sampai saat ini saya masih belum
bisa menyempuranakan kehidupan, setidaknya saya hidup dalam sekala kecil.
Saya memaknai harapan dalam kehidupan ibarat sebuah pijar di padang luas,
angin dan badai tak boleh menyilahkan lelah. Dan syukur saya adalah, Tuhan
masih menanamkan satu kometment pada saya “untuk terus berjalan walau dengan
berbagai badai yang menghantam. Dan saya berkeyakinan Allah telah mendesain
kehidupan saya dengan baik indah.
Maka untuk perasaan “cinta” yang sewaktu-waktu datang, mengalir lah engkau
sebagaimana udara yang kuhirup setiap saat. Bersemilah engkau di luar karang,
tanpa batas bagar. Sesungguh cinta adalah anugrah yang mesti kau nikmati tanpa
harus kau setubuhi. Cinta adalah tinta ilmu yang dapat melahirkankan buku
kehidupan.
Untuk orang yang aku cintai, tak perlu engkau kujamah. Namun aku akan selalu
bersetia sebelum kau dan keadaan ini meminta, setidaknya pada perasaan yang
menghamba. Hidup ini adalah keajaiban sebagai kajabian cinta dan perasaanku
untuk-mu-Nya.