"Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)

Sabtu, 31 Desember 2011

MENANDUR RINDU



Aku ingin menandur rindu pada separuh malam-Mu
Hanyut dalam desir, hening, mengalir lah air mata
Oh jiwa, betapa engkau rapuh
Betapa egkau lusuh, tanpa asuh yang Asih

Perkenan aku menanam bibit cinta
Perkenan aku membajak sawah yang mulai basah oleh rintik semalam
Perkenan aku lebur dalam kuyup tanah yag membau

Bila esok fajar sudah menyinsing
Biarkan cinta dan kerinduan baluti langkahku
Dan sebelum embun bergegas
Biarkan aku menenun indah pagi-Mu
Baca Selengkapnya di sini..

LUPAKAN



......, Aku harus berusaha melupakan semua harapan dan mimpi-mimpi yang pernah terlintas antara aku dan kamu

Aku harus terbiasa dalam hampa
Mentabahkan hati dalam sunyi

Bila pun waktu mempertemukan
Tentu bukan lagi dalam pahat bingkai
Baca Selengkapnya di sini..

SETELAH IBU



Setelah Ibu
Aku merajut temali Robbi
Menyusuri firman tentang kaki
Sebuah jalan yang dimulyakan
Bertaut rasa meminang lara

Setelah Ibu
Aku mulai sedikit tahu
Mengapa aku ada
Dan keberaan telah memberiku jalan

Setelah Ibu
Seru suara menapak tapak
Tuhan berselancar
Menyatu dalam jarak

Setelah Ibu
===========>>
Baca Selengkapnya di sini..

GUSUR SAJA



Saya tidak mau lagi bicara soal legal formal
Terkadang orang sok disiplin dan pintar “legalitas”
Tapi tidak pernah bisa menghargai hak-hakorang lain

Pada satu terntentu loyal pada agama
Di sisi lain malah bertolak belakang dengan keadaban “agama-nya”
Klisnya mengajari, tapi praktisnya lebihi Tuhan

Jadi lupakan saja soal legal formal itu
Sebagaimana kita berak di pagi hari
Tak usah mendisiplinkan, sebelum kita bisa berdisiplin dengan Tuhan

Loyalitas itu kadang memang harus digusur
Dan menggusurnya tentu bukan dengan pedang dan tombak
Kita cukup berkata pada diri sendiri
Saya ini hamba Tuhan
Jadi kenapa harus takut
Baca Selengkapnya di sini..