"Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)

Jumat, 08 Juli 2011

KOTA PANAS

Surabaya Kota yang panas. Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan Surabaya dengan cuacanya yang panas. Bagaimana pun kota dengan kepadatan penduduk tinggi ini berhasil melahirkan beberapa tokoh nasional semisal, Bung tomo, Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia. Tokoh praklamor. Tokoh pemberani, tegas, bijak, seperti beberapa tokoh pahlawan lainnya.

Panas. Sesuatu yang panas selalu bernuansa negatif. Seperti Neraka yang panas, bahkan konon panasnya melebihi panasnya apa pun di dunia ini. Tak terbayang tentu sebagaimana kita tak bisa membayangkan Neraka itu sendiri. Tapi yang panas bukan tak terjangkau, atau tak dirasakan. Yang panas selalu menghadirkan kondisi yang tak nyaman di badan. Gerah, lusuh, dan beberapa ketidaknyamanan lainnya.

Namun yang panas selalu mengesankan dan menarik perhatian. Maka tak heran jika orang berbondong-bondong terang-terangan atau secara sembunyi berlabuh pada yang panas. Di balik panas ada kenikmatan. Pada yang panas ada nilai keuntungan. Lihat saja pertumbuhan ekonomi surabaya yang menduduki peringkat pertama di seluruh Propensi di Indonesia. Mungkin panas itu yang mendorong pertumbuhan ekonomi maksimum. Semisal Doli.

Sudah kita tak perlu berpolimik dengan panas, karena panas itu juga bagian hidup. Dan hidup itu harus disyukuri. Tulisan ini saya persembahkan sebagai wujud syukur pada yang panas, dan hal-hal yang menyertainya. Karena saya yakin akan selalu ada positif dibalik kejadian atau peristiwa di hidup ini.

Baiklah sekedar bertanya, bagaimana bila perasaan anda saat berkunjung ke sebuah kota. Kebetulan kota yang anda kunjungi secara cuaca berbeda dengan keadaan yang biasa dirasakan di lingkungan anda sebelumnya. Jika hal tersebut terjadi atau dialami, apakah anda tidak akan mengeluh,. Semisal anda tidak betah, bosan dan lainnya. Ketidak samaan cuaca dengan tempat yang biasa ditempati menjadi pengalaman berharga bagi saya. Saya yang sebelumnya terbiasa dengan lingkungan sejuk dan dingin Kota Malang, harus kembali beradabtasi dengan lingkungan panas seperti Kota Surabaya.

Belum sampai satu minggu di Surabaya, cuaca panas terus mengusik. Jika sebelumnya tidur tanpa mengunakan pendingin AC/Kipas Angin. Di Surabaya ini AC/Kipas Angin menjadi satu kebutuhan pokok. Kipas Angin beroprasi penuh selama 24 jam. Alat-alat modern ini pun sedikit mengurangi rasa sumu' (panas).

Waktu pertama kali datang ke Kota Surabaya, pada tahun 2007 yang lalu saya tidak begitu merasakan panas seperti sekarang. Barangkali lantaran di rumah saya di Sumenep juga cuaca panasnya hampir sama, namun tak separah dan sepanas di Surabaya. Ketidak samaan itu lantaran di daerah saya pepohonan hijau masih banyak jadi tensi panasnya agak berkurang. Sementara di Surabaya jarang ada pohon kal ada itu sangat terbatas.

Mencari tempat teduh dan sejuk di Sumenep masih mudah, kita tinggal mencari tempat atau pohon rindang dan menggelar alas di bawahnya maka kesejukan pun akan terasa. Lain halnya dengan kota Surabaya ini, kita sulit untuk menemukan pohon rindang yang bisa kita naungi, walau ada masih belum dapat mendatagkan sejuk lantaran tensi panas yang lebih tinggi.

Tapi yang panas tak harus selalu jelek, ada kalanya panas bisa mendatangkan manfaat bagi kehidupan ini. Bagi orang yang pandai mencari peluang, panas akan menjadi berkah. Dari panas muncul tegnologi seperti Kipas dan AC. Bagi rakyat kecil ”pengrajin kerupuk” panas sangat berharga bagi-nya. Panas juga dapat dijadikan energi alternatif semisal pembangkit listrik tenaga surya dan lainnya.

Di kota panas ini pembangunan bergeliat. Gedung pencakar langit bertumbuhan. Perusahaan-perusahaan bersar tumbuh bak jamur. Penduduk dari seantero dunia datang sekedar mereguk hidup. Hidup di suasana panas. Hidup dengan pergulatan nasib, persaingan dan segala kepentingan diri. Bahkan Madura dengan kepulauannya kita bergegas. Jembatan Surabaya Madura (Suramadu) adalah bukti bahwa yang panas memiliki nilai eksotis di masa depan.

Kalau kita melihat fenomena dan pergulatan hidup di kota panas “Surabaya”, akan banyak menghadirkan cerita yang beranekaragam. Semua cerita itu bermula dari yang nama mimpi dan harapan hidup “makan”. Demi hidup orang rela menjajakan koran, menjadi pemulung sampah, sampai menjajakan diri “melacur”. Pernak-pernik kehidupan itu mewarnai seluruh kota-kota di negeri kita ini.

Bila kita melihat pergulatan kehidupan orang di kota panas seperti surabaya ini terkadang kita terrenyuh. Kehidupan mereka seperti bertepuk sebelah tangan. Mereka seperti diabaikan. Terkucil dari lingkungan-nya. Bahkan terusir dari kehidupannya sendiri.tak ada kemerdekaan bagi orang papa seperti mereka. Kebijakan pemerintah pun tak mampu menolong keadaan. Semua bertumpu pada nasib dan maut.

Keadaan rakyat terlantar dan termarginalkan arti kehidupan sosialnya benar-benar membuat emosi kita terbakar, pikiran kita panas, bahkan panasnya melebihi cuaca kota. Keadilan yang tercabik selalu mengundang iba dan harapan. Kapan kota panas ini mampu menyelimuti nsibnya menjadi lebih baik.

Ya kita memang tak boleh berhenti berharap. Harapan itu tak harus hadir dan dirasakan saat ini dan oleh kita, paling tidak generasi setelah kita tidak bernasib sama seperti kita. Keburu tak mesti diwariskan.

SALAM INDONESIA

Surabaya 2011
Baca Selengkapnya di sini..

Kamis, 07 Juli 2011

KELILING SURABAYA : MUTIARA DI TENGAH KOTA

Sekitar pukul 19.26 malam minggu tiba di kota Buaya Surabaya. Saat kaki menginjak tanah, saya teringat kenangan yang pernah saya lalui beberapa tahun lalu “2007” bersama teman satu kelas di Surabaya ini. Awalnya cerita saya bisa menginjakkan kaki di Kota Buaya ini bermula ketika memenuhi undangan “panggilan” SPMB sekarang SMPTN.

Pada tahun 2007 silam, sekolah MAN Sumenep mendapat kehormatan untuk mendelegasikan murid terbaiknya untuk diikutsertakan dalam Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Negeri seluruh Indonesia melalui jalur undangan. Ketika itu sekolah mendapat 4 jatah formulir, namun karena konfirmasi yang missinklink dan kabar dari panitia di jatim sendiri mendadak, tak semua bisa hadir. Yang bisa hadir cuma dua orang. Saya dengan seorang teman yang bernama Saipul. Sementara teman-teman yang lain keberadaannya tidak dapat dikonfirmasi.

Pengalaman saya ikut SPMB menjadi salah satu pengalaman yang sangat berharga. Momentum SPMB menjadi pintu bagi saya mengenal dunia luar. Karena sebelum-nya saya belum pernah keluar kota. Pada kesempatan itu saya mendapat kehormatan tinggal dan bermalam di salah satu panitia SPMB yang juga dosen senior ITS. Sayang saya lupa nama bapak itu. Yang pasti dia Insinyur bagian teknik. Namun alamat dan nomor rumahnya masih saya ingat (Ketapangkali No : 0xxxx ) tepat utara WTC. Tempat menginap yang dekat dengan WTC tidak disia-siakan setiap malam setelah isya' saya keluar jalan-jalan. Apa lagi ibu pemilik rumah juga menyuruh saya untuk keluar jalan-jalan. “ngak apa kalian keluar jalan-jalan biar tahu Surabaya” ungkap ibu saat itu pada kami.

Kami menempati rumah secara gratis. Tidak hanya itu kami juga mendapat penghormatan yang luar biasa dari keluarga dosen ITS, makan dan hampir semua kebutuhan terpenuhi secara gratis. Bahan ketika akan pulang kami masih diberi bekal uang dan beberapa suvenir sebagai kenang-kenangan. Saya berfikir.... ya Allah ternyata kota dengan segala kegersangan-nya ini masih ada orang yang berhati mulia, memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Satu ketika kami diajak keliling melihat kampus-kampus yang ada di Surabaya. Pada waktu keluarga besar ini mengendarai sebuah mobil Sedan. Pengalaman pertama Naik mobil mewah ya pada saat itu saat diajak jalan-jalan. Sepertinya semua seperti bermula dari hal yang pertama. Naik Bus yang pertama. Naik angkot pertama.

Bila pagi saya dengan teman berolah raga keliling lapangan Sudirman. Sesekali saya menatap patung yang berdiri kokoh. Seorang yang berjasa pada angsa akan senantiasa dikenang oleh rakyat. Perjuangannya menjadi wejangan disetiap forum dan pertemuan. Barangkali mengingat jasa pahlawan adalah salah satu bentuk pengorban generasi saat. Ya semoga generasi tak tercemari oleh virus lupa para pemimpin era reformasi saat ini.

Khotib terlihat gagah di atas sepeda motor warna abu-abu dengan kombinasi yang menyertainya. Dia terlihat memakai sarung dengan baju koko. Sementara di utara sisi jalan segerombolan remaja tengah asyik menikmati malam minggu. Sudah menjadi tradisi setiap malam minggu remaja apel ke pacar atau mengajak pasangannya keluar menghabiskan malam berdua.

Kalau kita tanya kapan awal bermula tradisi apel atau malam mingguan..!! atau barangkali mereka yang selalu aktif apel dan malam mingguan tahu sejarah ”tradisi apel/malam mingguan”. Sementara saya sendiri tak bisa memberikan jawaban secara konkrit. Mungkin karena minggu adalah hari libur jadi menjadi salah satu mumentum berkumpul dengan orang-orang terkasih. Bisa saja kemungkinan ini menjadi sebuah tradisi nasional dan mengglobal. Tradisi apel atau malam mingguan tak mengenal batas dan ruang.

Malam itu juga saya meluncur ke beberapa tempat modern Royal Plaza surabaya, tujuan awal adalah untuk membeli buku untuk kado pernikahan, kebetulan yang akan menikah adalah Mantan pacar Khotib, karena waktu sudah pukul 21.15 gramedia tutup. Sekalian kami melihat pameran foto di lantai 1, foto-foto itu hasil bidikan mahasiswa Surabaya. Nuansa perjuangan terlihat dari hasil bidikan foto-foto itu. Potret ketimpangan sosial jelas terpampang. Enatah bagaimana ekspresi dan tanggaban para pemangku kebijakan jika melihat pameran ini, mereka akan berkomentar seperri apa. Apakah akan muncul sebuah penilaiyan sinisme seperti dilakukan oleh Tifatul Sembiring saat merespon musibah banjir di Wasior dan letusan Gunung merapi. Entahlah. Namun bila hati mereka tak jua terketuk, berarti sudah membatu.

Selesai melihat pameran foto saya dan Khotib menyusuri ruas kota Surabaya yang padat dan ramai. Tak ada kendaraan yang berjalan pelan, rata-rata kecepatan berkisar 60 ke atas. Di perjalanan ternyata kami masih menjumpai Toko yang masih buka, maka buku untuk kado itu pun dibeli dari toko yang buka hingga pukul 11.00 malam itu.

Setelah selesai membeli buku kami menyempatkan ke Taman Bungkul. Taman Bungkul tak kalah ramai dari Taman Pelangi depan kantor Dolog, tempat pertemuan saya dengan teman sekaligus guru kehidupan ini (Khotib). Di Teman Bungkul pemuda pemudi terlihat berpasang-pasangan. Sementara yang tak ada pasangannya sekedar ngopi bareng dengan teman-temannya. Dulu taman ini menjadi sering menjadi tempat mesum. Namun sekarang sudah lebih sopan, hal itu tak lepas dari kebijakan dan tugas keamanan. Ya semua sudut ada mata-mata. Jadi bila ada yang ketahuan melakukan hal-hal negatif ”ciuman” akan kena jurus sepuluh jari.

Sebagaimana saya katakan pada tulisan sebelum-sebelumnya pertemuan saya dengan Khotib bukan sekedar pertemuan biasa. Pertemuan ini bagai sebuah adigium ”bagai jatuh gerimis di gurun berpasir”. Aroma yang menyertainya menghidupkan nilai-nilai perjuangan semasa di MAN dulu.

Pertemuan ini menyibak misteri sebuah ketulusan seorang pejuang dan teguh pada cita-cita. Khotib adalah seorang pejuang yang tangguh, dia tahan banting, ketaatan dalam ibadah menjadikan dia langkahnya mudah dan lurus. Maka wajar bila Tuhan memposisikan sebagai orang terpandang dan dihormati. Kawan terima kasih atas kuliah hidup yang kau ajarkan secara tak langsung itu. Kebersamaan kita yang tak singkat, kenangan dan pergaulan hidup menjadikan diri menandai dalam ”baca” syukur. Aku yakin kau akan jadi perantara yang baik bagi teman-teman seperjuangan kita dulu.

Surabaya 2011
Baca Selengkapnya di sini..

KUNCI SUKSES : KENALILAH POTENSI ANDA SEKARANG

Siapa yang tak ”bangga” ingin dikenal banyak orang. Semua pasti menginginkan hal itu. Bahkan kita pernah dikejutkan berita pengiriman peti mati ke beberapa awak media nasional, konon pengiriman peti mati tersebut bagian dari setrategi untuk memasarkan atau mengenalkan sebuah karya. Hem kok sebgitu-nya yaa...?? memang menarik simpati atau perhatian orang bukan satu hal yang mudah, orang gampag dikenali publik apa bila orang tersebu mempunyai ”keunikan” kelebihan.

Peroses menciptakan keunikan ini lah yang menuntuk kemampuan yang ekstra yaitu sebuah gagasan dan ide baru ”visioner”. Ketika kita muncul ide tertentu, ide tersebut akan memunculkan satu terma, dan terma nantinya akan menjadi sebuah ikon : keunggulan personality. Yaitu personalit yang sukses dan tangguh. Saat anda mendengar kata sukses apa yang muncul di benak anda ? sudah barang tentu sukses adalah impian setiap orang. Namun jarang orang menggapai sukses, kebanyakan orang hidup datar-datar saja. Ada sebuah paradikma baru yang kini digandrumi : orang eksis sukses. Atau sukses eksis.

Perlu ditekan-kan orang eksis belum tentu sukses, sebaliknya sukses tak selama menjadikan diri orang eksis. Cita-cita dan harapan terhadap hidup memang selalu sama, kesamaan itu termaktup dalam dua kata ”eksis & sukses”. Tapi sadarkah kita bahwa kenyataan empiris, setiap orang memiliki pengalaman berbeda di dalam meraih dan menentukan hidup eksis/sukses.

Banyak orang eksis namun mereka tak merasa atau belum sukses dalam kehidupan-nya. Contoh kasus eksis tanpa sukses, tergolong sangat banyak. Biasanya orang-orang yang masuk dalam golongan eksis tanpa sukses terjadi pada orang orang termarginalkan dalam lingkungan sosialnya, semisal karena kemiskinan yang sangat, kebodohan/kegilaan sosial, penjahat dan beberapa kasus lain-nya.

Sementara orang yang masuk dalam golongan sukses tapi tak eksis biasa terjadi pada orang-orang sederhana dengan sepritual yang tinggi. Atau orang yang senantiasa tabah dengan segala cobaan hidupnya. Orang seperti ini tak pernah mengeluh dalam menjalani kehidupan. Hari-harinya senantiasa dipenuhi rasa syukur dan dzikir. Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa bersykur dan berdzikir mereka itu adalah orang yang sukses tapi tak pernah mengharap eksis di mata manusia kecuali mengharap ridho di sisi Allah swt.

Sekarang bagaimana dengan kehidupan kita sekarang apakah kita menginginkan hidup yang seperti di atas. Dan keinginan itu terletak pada kata yang mana eksis-kah atau sukses?. Saya tak akan mengarahkan apa pun, karena saya yakin saat ini ada sudah memiliki target terhadap hidup anda sekarang ini.

Anda tak harus terjebak dalam pengkata gorian hidup atau definisi seperti disebutkan di atas. Karena hal teknis semacam itu bukan satu hal yang penting. Yang terpenting saat ini bagaimana kita mampu membangun kepercayaan diri dan bisa melampauwi segala rintangan dengan senyum dan harapan. Kita boleh berambisi dalam menentukan hidup tapi ingat bahwa kita punya punya keterbatasan dan kelemahan.

Allah memberikan anuggrah berupa kelebihan dan kekurang dinatara masing-masing kaum. Tentu maksud Allah yang demikian memiliki tujuan yang mulia. Kekurangan dan kelebihan pada diri manusia sebenar-nya semua itu sebagai isyarat bahwa manusia perlu bersosialisasi satu dengan yang lain. Bahkan dalam tatanan kenegaraan, antara negara A & B, dari ketidak samaan tersebut mendorong negara-negara untuk saling berinteraksi (kerja sama) satu dengan yang lain.

Kita tak perlu bicara hal yang luas antara negara satu dengan negara yang lain. Kita menoleh pada skop lingkungan yang lebih kecil yaitu keluarga. Dalam keluarga ada anak, ayah, ibu, masing-masing dari mereka karakter tidak sama dan cenderung berbeda. Namun yang sering terjadi dalam lingkungan karakter yang dominan selalu memaksakan dominasinya untuk sama seperti dirinya/orang lain.

Sadar-kah bahwa selama ini, Anda Saya dan juga yang lain ada pada sebuah lingkungan dengan segala keteraturan dan presepsi ”konstruksi sosial yang keliru”. Kekeliruan yang saya maksud adalah kita sibuk mencari kelemahan ”ketidak mampuan” diri, Berbagai upaya dilakukan hanya untuk keluar dari penyakit itu. Terkadang kita memaksakan diri dengan manipulasi kenyataan dengan sebuah lakon yang konyol. Contoh konkrit : kita tak bisa berhitung ”matematika”, tak bisa matematika adalah kelemahan kadang menjadi aib. Untuk menutupi kelemahan itu kita banting tulang belajar mati-matian, bahkan sampai mengundang guru privat ”belajar dengan metode cepat” untuk menutup kelemahan yang ada diri kita atau anak.

Tahukah bahwa apa yang anda lakukan itu adalah satu tindakan konyol, sudah tahu anda tidak bisa namun tetap saja ngotot hanya tak ingin ada predikat ”bodoh matematika” jelek. Kesalahan dan tindakan konyol semacam ini sering terjadi dan bahkan kerap dilakukan oleh orang tua kepada sang anak, demi memenuhi impian orang tua.

Pernahkah anda mendengar seorang ayah/ibu bertanya pada anaknya ”Nak apa yang kamu suka dari pelajaran di sekolah”? Barang kali kita jarang mendengar pertanyaan semacam itu. Karena pertanyaan semacam itu tak populer di kalangan masyarakat. Sementara paradigma yang tertanam di otak para orang tua adalah sesuatu hal yang bersifat populer. Seperti pertanyaan berikut ”Nak ... bagaimana nilai matematika dan bahasa Inggris kamu di sekolah baik-kan”? Orang tua akan bangga melihat anaknya menjadi juara Olimpiade Matematika atau bahasa Asing.

Ketika anak menjuarai even-even ”matematika atau bahasa asing” yang bersekala Nasional atau bahkan Internasional para bangga. Bahkan saat para orang tua melihat kesuksesan pada orang lain dengan trem yang sama mendorong anaknya ”makanya belajar yang serius biar pandai matematika atau bahasa asing, biar seperti mereka”. Orang tua sering menuntut anak menjadi orang lain dari pada menjadikan anak tumbuh berdasar karakter dan potensi yang ada pada diri anak.

Mengapa kita harus lelah dan menghamburkan uang pada hal yang tak disenangi anak. Mengapa orang tua tak menjobai melakukan riset terhadap kecendrungan anak. Tanyai apa yang paling disukai anak. Karena dengan begitu telen anak bangkit dan berkembang. Kepercayaan dirinya pun semakin bertambah.

Sukses tak harus sama dalam arti dan difinisi. Sukses itu harus dimaknai secara proporsianal. Setiap orang berhak untuk sukses dan populer, tapi bukan cara-cara yang tidak terhormat. Apa lagi sampai memaksakan kehendak lantaran mengejar sukses dalam makna sempit. Perlu diketahui orang hidup itu sudah dibekali dengan keterampilan dan kesuksesan pada dirinya.

Pertanyaan mendasar, apakah seseorang telah merasa enjoi menjalani kehidupannya
Setelah itu anda akan dengan sendirinya akan bisa memaknai sukses itu apa dan bagaimana meraihnya. Kemudian apakah anda telah mengenal diri dan kemampuan anda. Kalau tidak segera keali potensi anda anak-anak anda juga lingungan saat ini anda ada.

”Kita semua sepakat bahwa setiap orang itu memiliki kelebihan dan bekal kemampuan yang bersuber dari Allah. Namun saat ditanya apakah kelebihan dan kemampuan kita.... jarang diantara kita yang langsung bisa menjawab”.

Surabaya 2011
Baca Selengkapnya di sini..

Rabu, 06 Juli 2011

RENCANA TUHAN SELALU INDAH

Badan terasa pegal-pegal. Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh dalam jangka waktu yang relatif cepat (3-4 jam) justru membikin kepala pening, Bus yang saya tumpangi bagai tak bertenaga, lemooootttt banget. Semakin komplet lah pendertaan ini. Dalam keadaan seperti itu saya menggerutu pada diri sendiri “kok seperti ini, enggak biasanya”, barangkali karena macet sehingga gerak Bus terbatas. Hawa semakin sumu' ditambah penumpang yang berjubel mulai dari trminal. Semenjak baru akan berangkat dari terminal Arjosari Malang penumpang sudah banyak yang berdiri.

“Jalan macet-macet....3 x 3.” Suara itu terdengar dari bangku duduk di belakang. Entah siapa namun dari suara-nya seperti perempuan. Macet menjadi ciri kota-kota besar. Mobilitas warga kota sangat tinggi dan padat apa lagi saat jam pulang kantor seperti Semarang, macet sudah langganan. Sebagaimana kota-kota lain, Madang, Surabaya ke-macet-an sudah menjadi hal yang biasa. Biasanya tidak separah ini, apa karena nanti malam, malam minggu-an..??. Lengkaplah segala galauku dengan kondisi Bus yang merayab bak semut.

Walau dengan jalan Bus yang kaku dan sangat lambat, akhirnya saya pun tiba di Terminal bungor Asi. Pukul 19.26 m, saya tiba di terminal Bungur Asi Surabaya. Perlahan saya turun dari Bus yang tak mampu menembus kemacetan kota. Sebelum melangkah masuk ke terminal Bus kota saya mencari catatan kecil yang sebelumnya sudah saya persiapkan. Catatan itu berupa petunjuk jalan yang lengkap (naik Bus apa turun di mana). Sambil membaca catatan itu saya langsung bergegas ke tempat Bus kota. Di pintu gerbang beberapa orang menawarkan jasa angkutan “....bali mas, jakarta, .......... mas mau ke mana.. ” suara itu terus bergantian diketokkan ke telinga. Terkadang para jasa angkutan itu membuat saya (atau anda) risih.

Seorang laki-laki dengan jaket kumal menawari saya ojek. Awalnya saya Cuma bermaksud menanyakan alamat yang saya pegang pada bapak itu

“ ... Maaf pak numpang tanya .....kalau mau ke Dolog naik bus apa .....”

“wah ini itu masuk ke dalam mas bagaimana kalau saya antarkan pakai sepeda, itu sepeda saya”. Bapak itu ternyata tukang ojek berbaik hati menawarkan jasa ojek pada saya, Dia terus membujuk saya untuk naik ojek, tapi saya tolak, pada awalnya bapak itu menawarkan harga Rp. 25.000 sampai turun ke Rp. 10.000.

Kemudian saya tanya pada salah petugas resmi di area terminal Bungur Asi. Dari petugas resmi terminal saya Akhirnnya mendapat keterangan yang jelas. Bapak petugas itu langsung menunjukkan salah satu bis yang sedang parkir di lajur dua dari arah selatan. Saya pun langsung menuju Bus yang bapak tunjuk, kemudian duduk di bangku agak tengah. Selang beberapa saat ada wanita (Mahasiswi IAIN Surabaya) duduk di samping kiri saya. Kami sempat ngobrol namun belum sempat menanyakan nama. Tapi dia mahasiswa IAIN Surabaya. Jurusan Skologi. Dan akan berangkat PKL pada salah satu kabupaten di Madura.

Obrolan kami belum usai..... saya bergegas meninggalkan mahasiswi di samping saya, awalnya tujuan saya untuk mengingatkan pada kondektur bahwa saya akan turun di Dolog. “......Pak ini sudah sampai di Dolog.....” belum selesai ngomung tiba-tiba kondektur menghentikan laju Bis, saya pun agak kaget. Perasaan masih bercampur ragu dan tak tentu. Maklum saya belum begitu paham Surabaya.

Saya menelpon teman sambil sedikit mengingat-ngingat keadaan saat saya di turunkan. Belum selai ngomung telp putus... ternyata pulsa habis. Waduh ...... gimana ini, seru saya pada saat itu. saya mondar-mandir sebentar kemudian balik ke arah pertama di turunkan. Dari jauh saya melihat pernak-pernik lampu. Barang kali itu taman yang dimaksud bapak satpam di Stasiun Bungur Asi tadi. Saya menuju cahaya lampu.

Berjarak sekitar 10 m saya melihat bapak satpam.... cepat-cepat saya menuju bapak itu. Saya tidak sempat perhatikan keadaan. Langsung tanya pada satpam “ Maaf pak ... saya numpang tanya, apakah benar ini masuk daerah Dolog”.

“.. ya benar ada apa....” kaget saya mendengar sahut satpam yang tiba bersuara tinggi dengan muka masamnya. Wah kenapa satpam ini galak benar.... grutu saya dalam hati. Apakah karena kecapean. Tapi apa juga dibenarkan marah-marah pada orang yang benar-benar butuh bantuan “kepastian tempat”. Apakah tidak ada bahasa yang lebih bersahabat .... tapi saya masih bersukur bapak itu jawab iya.

Ini juga kesalahan saya, sebelum tanya tak melihat keadaan lingkungan sekitar padahal satpam itu merupakan satpam dari Dolog... Alamaaaaak yaaaaaaaaa!!!! Kata saya dalam hati. Wong jelas di selatan berjarak 20 m tulisan DOLOG besar menempel pada sebuah gedung yang masih terlihat rapi dan baru.

Saya tahu posisi saat itu. namun saya tidak bisa memberitahukan pada teman, lantaran pulsa habis. Sementara tadi tak cari-cari di sekitar area itu tidak terlihat ada jualan pulsa. Kemudian saya berinisiatif untuk tanya lagi pada satpam... Dolog tersebut.... Walau saya tahu pak satpam enggak begitu bersahabat saya tetap tanya pada pak satpam barangkali tahu penjual pulsa terdekat sini. Jelas jawabnya “tidak tahu...!!!.” tak mengenakkan. Waduh kenapa sentimen banget yaa... saya pun kesal, jadi satpam saja sok gitu... hati saya berontak.

Saya tetap tak berputus asa. Masih di dalam lingkungan area Dolog. Ada bapak-bapak usianya kira-kira 50 th-nan ke ata. Bapak ini terlihat sibuk mencatat setiap mobil masuk. Rupanya ada kegiatan mantenan. Wajar banyak lalu-lalang mobil mewah masuk. Saat keadaan agak sepi saya tanya pada bapak itu .... “Maaf mengganggu sebentar,.... pak mau tanya.... kira-kira konter atau jasa pengisian pulsa...yang agak dekat di sekitar sini...barangkali bapak tahu .”

“.. ooo coba sampai masuk ke ...Alfamarrt insyaallah di situ juga jualan pulsa”

”ini pak ...!!”

Saya kembali mempertegas kondisi toku yang berjarak 3 m dari tempat saya tanya sama bapak tua yang halus. Biaaarrrr hari saya seperti mendapat sentuhan segar...... ”alhamdullillah ternyata penjual pulsa di tempat yang sama sekitar 10 m dari bapak satpam yang saya tai pertama. Saya pun langsung dan mengisi pulsa........

Belum sempat masuk ternyata teman saya Khotib telp....

”Di mana aku sekarang di depan gedung Dolog.....”

” .. aku ada di alfamarrt baru isi pulsa...”

Saya tutup kemudian langsung menuju ke depan. Dari jauh sosok Khotib sudah jelas terliat. Kilatan lampu kendaraaan sesekali menerpa wajah nan tanpan itu. Saya tak langsung bertegur sapa. Kelihatannya dia masih berusaha meliat-liat keadaan.

"assalamulaikum.... " tegur saya.

Dia terlihat masih seperti dulu, penuh semangat dan pantang menyerah. Sorot pandangnya tajam memandang ke arah wajah. Dari bibir tecurah senyum tulus. Pertemuan ini seperti mengulang kisah-kisah perjuangan saat di MAN dulu.

Setiap kenangan selalu memiliki kesan sendiri bagi kehidupan dan alur selanjutnya. Cerita yang ceria membuat kita tertawa. Sementara kenangan sedih senantiasa menjadikan diri seorang petangguh. Maka pada kenangan yang berlalu itu terdapat sebuah ibroh yang bisa dijadikan pelajaran yang berarti. Kita pun bisa belajar banyak dari masa lalu. Sebaik-sebaik pelajaran adalah pengalaman itu sendiri.

”Tuhan terimakasih telah Engkau pertemukan kami lagi, dengan teman, sahabat ’saudara seperjuangan di MAN dulu’”, Semoga hamba bisa mengambil hikmah atas segala rencanamu yang agung. Dan berikan hamba dan orang-orang yang senasib seperti saya ketetapan dan keteguhan hati. Sungguh engkau maha pemenuh janji.

Surabaya
Baca Selengkapnya di sini..