"Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)

Selasa, 12 Juli 2011

ANAK PUNK DI ATAS KERETA (Catatan perjalanan : balik dari Surabaya ke Malang)

Kapan kita bisa merasakan enaknya naik Kereta Api”

Potongan kalimat di atas saya kutip dari keluhan anak Punk yang saat itu satu Kereta Api bersama saya. Ketika itu saya dalam perjalanan dari Surabaya mau balik ke Malang. Di jadwal kereta Api “disebutkan” akan berangkat pukul 07.45. namun ternyata terlambat sekitar 10-15 m. Sirine berbunyi tanda Kereta datang, penumpang yang sejak tadi menunggu langsung berkemas. Kereta baru tiba di stasiun Wonokromo sekitar pukul 08.11 lebih. Pusat informasi Stasiun menghimbau pada seluruh penumpang untuk berhati-hati terutama terhadap barang-barang yang dibawa, maklum copet ada di mana-mana. Sedikit lengah barang bawaan anda bisa raib semua.

Kereta sampai Stasiun Wonokromo, penumpang sudah berjubel. Penumpang Kereta penuh, kebanyakan dari mereka berdiri di tempat gang tengah kereta sebagian lagi berdiri di pintu-pintu gerbong kereta. Lebih naif lagi seorang ibu bersama anak dan beberapa penumpang terpaksa berdiri di dalam toilet. Namun kereta tetap memaksakan muatan, di setiap pemberhentian “stasiun” masih menaikkan penumpang.

Ada seorang ibu bersama anak kecil, terheran-heran dengan kondisi penumpang yang begitu sesak. “mas ayo kita turun aja, kasihan si kecil”, ibu itu hendak turun. Tak mudah berbalik turun dari kereta. Penumpang yang berjubel membuat ibu bersama anak-nya terlihat ter-enggah-enggah. “sudah enggak bisa turun” sambung suaminya yang juga terjebak di dalam kerumunan penumpang. Hampir ada pertengkaran. Namun ibu itu akhirnya menuruti apa yang dikehendaki laki-nya.

“Ibu di belakang kereta api sepi “longgar”, atau di depan sekalian” laki-laki dengan rambut tipis keribo itu memecah kebuntuan dan kepadatan penumpang. Sejak Kereta berangkat dari terminal di Wonokromo Surabaya laki-laki ini paling ramai. Ia sering menyita perhatian para penumpang. Suaranya lantang. Badannya memiliki tinggi (173,cm). Laki-laki itu memakai kaos lengan panjang warna coklat.

Pernyataan “Ibu ...... di belakang kereta api sepi “longgar”, atau di depan sekalian” Pernyataan anak Punk itu, hanya sebuah sindiran. Sebelum menaikkan penumpang di Stasiun Wonokromo penumpang kereta memang sudah penuh. Penambahan kuata “penumpang” di Stasiun Wonokromo dan setiap Stasiun setelahnya semakin mempersempit gerak penumpang yang berdiri sejak dari Stasiun sebelumnya. Sementara Kereta masih terus menaikkan penumpang di beberapa Stasiun setelah Wonokroma.

Saya tertarik dengan gaya komunikasi anak Punk di kereta Api saat itu. Ketertarikan saya bukan pada komunitasnya yang sering tampil eksklusif dari penampilan orang kebanyakan. Laki-laki “Punk ” itu seperti sebuah anugrah di tengah kesumpekan karena penumpang yang begitu sesak. Sebuah rokok keretek masih sempat dia sedu di tengah kondisi penumpang yang padat. Dari penampilannya laki-laki ini seperti orang lain pada umumnya. Tak ada satu ciri yang menggambarkan dia anak Punk

Dengan bangga Laki-laki di samping saya memberitahukan identitas dirinya sebagai anak Punk. Pengakuan diri sebagai anak Punk terlontar saat dia mengobrol dengan salah satu ibu yang juga penumpang kereta. Dia tidak sendiri. Ada beberapa teman-nya yang lain, temannya berjumlah sekitar lima orang, empat orang laki-laki dan seorang lagi perempuan. Dari lima orang anak Punk tersebut yang memiliki panggilan (Suhdi) paling aktif dari teman-temannya yang lain. Keberadaan anak Punk di atas kereta Api seperti pelawak yang tak berbayar. Laki-laki dengan rambut warna kecoklatan kribo terlihat sangat perhatian pada temannya.

Kalau di Genk tertentu laki-laki dengan panggilan Suhdi ini pantas menjadi pemimpin di kelopaknya. Namun hal yang demikian barangkali tak berlaku bagi komunitas Punk . Konon di kelompok Punk tak ada kepemimpinan baku dan terstruktur. Anak Punk dikenal dengan kehidupan atau ideologi anti kemapanan. Ciri yang melekat pada anak Punk adalah penampilannya yang aut-aut-an dan kumuh.

Pernak-pernik hiasan memenuhi tubuh anak Punk , hal itu bisa dilihat dari komunitas anak jalanan ini. Tak sedikit yang jijik dengan penampilan anak Punk yang seperti itu. Namun tak begitu dengan apa yang saya lihat di kereta kemarin. Anak Punk ini seperti pahlawan, yang hadir membawa kebahagiaan. Gelak tawa penumpang menandakan bahwa keberadaan anak Punk benar-benar menghilangkan segala keluh karena sesak dengan penumpang.

“Oyi-oyi'.... oyi' mana mati ta.......” lelaki itu memanggil-manggil teman wanitanya yang juga anak Punk . Setelah dia melihat orang yang dipanggil Ia pun terdiam. “Ini cewek hebat dia akan mengikuti kontes tato di Bali”, ujarnya kepada penumpang yang lain. “dia terlihat kecapean sekali” kata seorang ibu yang tepat berada di hadapan wanita dengan penuh tato tersebut.

Wanita Punk ini terlihat pulas tidur dengan posisi duduk. Di sekujur tubuhnya penuh dengan tato. Hanya wajah saja yang tak terlihat ada tato. Pakaiyan yang dikenakan wanita Punk ini terlihat longgar. Tonjolan tubuhnya jelas terlihat. Pahanya terlihat besar melebar, walau anak Punk namun dia termasuk wanita subur. Dengan celana pendek sekitar satu jengkal tangan. Tato di sekujur tubuhnya mudah terlihat , apa lagi dia memakai baju transparan.

Beberapa saat kemudian wanita itu terlihat menggerak-gerakkan badannya. Barangkali kesemutan, melihat temannya sedang bergerak lelaki yang dari tadi aktif dan menghibur cepat mengalihkan tema obrolannya. “ooooyyyy ..iii''' enak yaaa.. tidur” wanita itu terlihat mengernyitkan dahi sambil mencoba berdiri. Keadaan penumpang Kereta yang sesak membuat wanita itu harus berusaha dengan ekstra untuk sekedar bisa berdiri.

Setelah beberapa saat berjuang akhirnya wanita yang dipanggil Oyi' ini pun bisa berdiri. Kembali lelaki itu memanggil sambil menawarkan minuman. Tapi si oyi' ini menolak. Tak berhenti di situ saja, laki-laki itu masih menawarkan sebuah minuman lagi “apa mau minum minuman setan” sembari tersenyum sambil menyebutkan kondisi yang terjadi sebelumnya pada teman wanita-nya. Dia sering teler.

Saya tak mengerti apa yang dimaksud dengan minuman setan itu. Barangkali sebuah alkohol itu hanya perkiraan saya. Seorang ibu dengan sangat santun menyapa wanita yang di sekujur tubuhnya penuhi tato. “Adik cepek ya.....” dengan nada lembut ibu itu menyapa. Dari beberapa obrolan saya menangkap sebuah keprihatinan seorang ibu pada seorang anak. Kultur kejawaan dan kodrat kewanitaan menjadi berlangsung dalam obrolan singkat mereka. Saya tak perlu membahas apa obrolan itu, yang pasti obrolan itu membahas masalah kepantasan dan tradisi kewanitaan jawa pada umumnya.

Biasannya wanita yang menganggap dirinya sebagai orang mapan enggan bergaul atau bersentuhan dengan anak Punk yang secara kultur bertolak belakang “anti kemapanan”. Jangankan berdekatan apalagi mengajaknya ngobrol. Ibu ini berbeda dengan kewanita pada umumnya risih melihat orang-orang Punk. Ibu ini justru ngomong dengan wanita penuh tato ini dari hati kehati, bagai seorang ibu yang mengajak ngobrol anak-nya sendiri.

Dengan seksama saya perhatikan tato-tato di sekujur tubunya. Saya tak melihat satu keindahan apa pun. Barangkali karena saya bukan seorang seni. Kemudian wanita itu menyanggahi obrolan seorang ibu tadi, dia banyak bercerita lebar tentang dirinya. Kemudian ia juga menceritakan bahwa nanti akan ikut kontes tato internasional di Bali.

Sarabaya-Malang 2011
Baca Selengkapnya di sini..

Senin, 11 Juli 2011

UM : LEGENDA KULINER NUSANTARA (Refleksi pada even kuliner di UM Malang)

Kuliner. Apa yang terbersit di memori kita saat mendengar kata kuliner, pasti bayangan kita tertuju pada beberapa sajian makanan yang telah terhidang di atas Meja makan. Etsss ...tahan dulu jangan sampai pandangan dan memori otak kita, mengundang liur. Tulisan bukan untuk menyajikan makanan, atau membuat resep makanan. Tulisan ini saya buat sebagai kesan sekaligus laporan pribadi saat menjadi panitia kuliner Nusantara di kampus UM Malang.

Sabtu tanggal 09/07/2011, salah satu produk kecap kenamaan menghelat sebuah pagelaran Nusantara dengan tema “Legenda Kuliner Nusantara”. Bagi anda yang hobi dan senang memanjakan lidah, tentu tidak melewatkan moment spisial, bermanja ria dengan aneka masakan dan hidangan, acara ini disponsori oleh kecap sebuah produk kenamaan Unilever tbk.

Jam 07.00 panitia harus ada di tempat, begitulah intruksi dari panitia penyelanggara. Ini merupakan pengalaman pertama saya jadi panitia even besar. Jam 07.00 masih masih belum banyak orang terlihat, sebagian panitia yang keleler juga belum hadir. Sementara panitia bagian tata tempat dan dekorasi sudah sibuk dengan aktifitas.

Sebuah panggung dengan ukuran 5 x 8 telah berdiri dari jumat sore kemarin. Pagi menjelang pagelaran hanya menata tata lampu. Son syistem dengan ukuran besar berada di samping kanan dan kiri. Tempat dengan model liter U, memudahkan pengunjung bersantai menyantap hidangan sambil menikmati hiburan yang disajiankan.

Bagi yang sudah berkunjung dan menikmati hidangan spisial kesukaan-nya pada ke acara tersebut sudah tentu merasakan sensasi berbagai hidangan tersebut. Bagi yang hobi makan tapi kebetulan belum sempat hadir, maka saya akan bercerita bagaimana keadaan riuh dan antusiasme pengunjung saat itu. Pada pukul 11.00, acara Lengenda Kuliner Nusantara dinyatakan resmi dibuka.

Sementara para pengunjung sudah berdatangan. Diantara sekian pengunjung banyak bertanya bagaimana cara mendapatkan kupon atau membeli makanan pada acara kuliner saat itu. Barangkali mereka belum sempat baca atau melihat koran, karena beberapa hari sebelumnya acara ini mengunakan media publikasi koran, khususnya Koran Daerah Malang. Atau mereka yang datang enggan melihat papan pengumuman (papan ini memberikan informasi dan tata cara bagaimana pengunjung bisa memperoleh kupon) setelah masuk pintu gerbang.

Selain itu ada stan Informasi yang memang bertugas melayani setiap pertanyaan pengunjung. Di pusat informasi ini juga dilengkapi peta atau skema “stan” para pedang. Jadi bagi pengunjung yang cerdas tak akan kebingungan. Namun ternyata masih banyak juga yang bingung. Maklum negara kita memang negara pemalas, pemalu, lebih suka kebingungan dari pada teliti terhadap berbagai informasi yang tersedia.

Pengunjung adalah raja, stedmen semacam itu sudah umum diketahui oleh banyak orang, namun sedikit yang bisa mengimplementasikan-nya. Selogan semacam itu seperti tak berlaku bagi pedang kelas bawah. Karena sesuai pengalaman masih banyak pedang kecil yang berlaga sok, umumnya kurang menghargai pembeli. Pembeli pun tidak betah dengan cara-cara seperti itu. Maka perlahan dan terus nasip pedang semacam itu akan kehilangan pelanggan.

Berbeda ketika kita berkunjung ke Mall atau Swalayan, umum-nya pelayan di sana sangat menjaga etika, sopan santun terhadap pengunjung atau calon pembeli. Pembeli atau calon pembeli pun merasa senang dan betah dengan keadaan tersebut. Tidak hanya itu Mall atau Swalayan juga terkenal dengan kerapian dan besihnya. Ruangan full Aci, pelayanan yang diberikan sangat memuaskan para pengunjung. Pertumbuhan Mall atau Swalayan saat ini terus subur.

Baiklah, itu adalah fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar kita sehari-hari. Namun jujur kita memang lebih berbetah-betah di Mall dari pada pasar yang kumuh dan pelayanan pun sering mengecewakan. Stedmen ini bukan bermaksud mendiskriditkan keberadaan pedangang kecil atau tradisional. Akan tetapi mereka juga harus melihat kenyataan dan persaingan bisnis yang semakin ketat. Jika pedang kecil “tradisonal” tetap tidak melakukan sebuah inisiatif dan perubahan strategi maka mereka kan tergilas dan ditinggal oleh pengunjung atau pembeli.

Kita tinggal dulu kebiasaan buruk dari pedagang tradisonal, kita berdoa dan mendorong mereka untuk segera berbenah, supaya bisa bersaing secara kompetetif. Kembali pada acara Legenda Kuliner Nusantara. Walau acara atau transaksi baru bisa dilaksanakan padu pukul 11.00, para pengunjung sudah banyak hadir ke tempat acara. Pengunjung mulai bermunculan semenjak pukul 08.35, mereka rela mengantri, duduk di kursi tempat meja makan di depan stan para penjual. Kursi tempat meja makan hampir penuh sebelum acara di buka. Sementara yang lain terlihat berjalan-jalan sambil mengamati para pedagang menata tempat dan bahan jualan yang akan dihidangkan.

Dari sekian penjual yang menyediakan makanan ada dua pedagang yang manarik perhatian saya. Pertama penjual yang berada di tempat dekat pintu gerbang di depan informasi, Warung Pak Kahar. Warung Pak Kahar ini menyediakan soto. Yang menarik perhatian bukan sotonya tapi sebuah foto pemilik warung dengan artis nasional kelahiran Malang yaitu Yunisara. Ada tiga Foto yang di pampang pertama foto Yuni saat menikmati makanan sambil didampingi oleh pemilik warung. Kedua foto di samping bawah foto yang permata nampak pemilik warung sedang berpose dengan pemilik warung. Sementara di beground bagian belakang nampak Yuni sedang mencoba memasak sambil didampingi pemilik.

Sementara penjual kedua yang juga manarik perhatian adalah media tempat ulek “cobek” dengan ukuran besar. Untuk membawa cobek ini dibutuhkan beberapa tenaga paling tidak empat sampai enam orang. Bentuk dari cobek ini layaknya cobek lainnya cuma ukuran cobek yang menurut saya tak lazim, barangkali kal ada even nasional cobek ini masuk dalam kata gori raksasa dan bisa menyabet penghargaan Muri. Cobek ini memiliki luas 1m lebih.

Dari apa yang saya amati ternyata dua penjual tersebut, jualannya habis sebelum acara selesai. Misal warung pak Kahar ini, sekitar jam 4.30 sudah ludes oleh pengunjung. Sementara penjual dengan media cobek besar ini juga sangat ramai dikerumuni pengunjung dan habis sebelum cara selesai.

Ciri pengusaha yang cerdik adalah mereka yang mampu menyita perhatian pengunjung. Kalau saya nilai media yang dipakai oleh dua penjual di atas berperan manarik perhatian pengunjung kemudian mereka berebut membeli apa yang dijual oleh pedagang tersebut. Terlepas dari keberuntungan yang membawahi nasip masing-masing penjual media semacam itu sangat efektif dalam maraih simpati atau perhatian pembeli.
Baca Selengkapnya di sini..

Minggu, 10 Juli 2011

MENINGGALKAN SURABAYA

”Setiap ada pertemuan, akan ada perpisahan”

Kata tersebut menjadi justifikasi di kehidupan ini, bahwa kehidupan harus terus terus berjalan. Hidup tidak boleh statis. Kebersamaan tak akan pernah abadi, ketidak abadian ini lah yang membuat kehidupan ini dinamis. Kejutan-demi-kejutan datang bermunculan. Berbagai farian senantiasa menghiasi hidup, kadang bahagia, sedih, terluka dan lainya, semua itu akan senantiasa dilewati oleh yang nama hidup.

Hidup kita telah ada yang mendesain yaitu “Tuhan sang pencipta”. Maka dalam hidup senantiasa ada keseimbangan. Ibarat waktu ada siang ada malam. Ada mata hari ada renbulan. Langit beserta bintang-nya. Kita yang dikaruniai hidup mestinya mampu menangkap “merenung” moment di kehidupan ini. Dari perenungan terhadap karunia hidup ini, diharapkan kesadaran diri meningkat, rasa syukur pada yang mengatur hidup harus lah senantiasa terpelihara.

Hidup akan terus berputar, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Dalam hidup ada siklus. Setiap siklus ada dan memiliki cerita yang unik. Namun tak semua yang unik mendatangkan kesenangan. Ada kala ke-unikan memasung pilu di dada. Bahkan yang unik seringkali membuat kita terheran-heran.

Pertemuan dengan teman lama di surabaya saya nilai sebagai satu yang unik dan menarik. Keunikan itu hadir dari sebuah proses “menuju mimpi” pengakumulasian hidup. Hidup di kehidupan ini tak boleh sekedar diam, harus ada satu tekad dan keberanian. Kegagalan tak harus dibayangkan sebelum ada satu tindakan. Andai kita gagal dalam satu proses itu bukan berarti tidak berhasil. Justru kegagalan itu merupakan satu keberhasilan dalam sekala kecil, yaitu kita telah berhasil mencoba tapi masih belum sempurna.

Menariknya, pertemuan pertemuan dengan teman lama seperti menjadi titik pijakan hidup. Saya mendapat cermin kehidupan. Saya memperoleh sebuah teladan dan perjuangan. Perjuangan dari seorang teman dalam menapaki kehidupan di tengah persaingan dan modernisasi. “Hidup di kota tak boleh loyo, apa lagi banyak mengeluh dan malas. Keberhasilan tidak untuk orang loyo, banyak mengelus dan malas” ungkap teman.

Keberhasilan tidak hadir secara Cuma-Cuma. Proses demi proses mesti dilalui dan lampauwi dulu. Berhasil bukan titik akhir dari hidup, dan perjuangan. Berhasil hanya sebuah persinggahan menuju terminal keberhasilan selanjut-nya. Tak ada pemberhentian yang haqi-qi, begitu pun dengan keberhasilan itu sendiri. Maka nilai berhasil itu tidak ada pada tataran praktis yang ada hanya simbolis sesaat.

Sesaat saya menilai perjalanan saya di Surabaya yang kurang dari satu minggu kemarin, merupakan keberhasilan. Keberhasilan itu saya lihat dari beberapa aspek. Pertama aspek perjuangan, kedua kometmen, ketiga keuletan, keempat kegigihan, kelima nilai spritual. Aspek itu saya bacai dan teliti dari perjuangan teman-teman yang ada di surabaya kemarin.

Nilai spritula dan syukur adalah satu pondasi yang yang mesti dijaga dan senantiasa dipelihara. Kota dan segala glamornya tak harus menjadikan teman-teman di Surabaya inklud dan terbuai. Benteng keimanan yang mengkristal menjadikan mereka bijak dan bijaksana dalam memandang dan memaknai kehidupan.

Banyak cerita yang sempat saya rekam. Dari sekian cerita yang terrekam memiliki dimensi berbeda satu dengan yang lain. Cerita dan pengalaman seperti ini tak akan di dapat dalam sekolah atau bangku kuliah yang kaku. Tapi alam dan realitas sosial senantiasa memberikan nilai pelajaran bagi mereka yang pandai menggambil hikmah. Maka sesungguhnya segala ketentuan Tuhan itu tak ada yang sia-sia.

Maka barang siapa yang anti sosial sesungguhnya mereka telah menutup diri dari nikmat dan karunia Tuhan. Tak ada satu peristiwa tanpa peran Tuhan. Pertemuan saya dengan teman di Surabaya juga lantaran kehendak dan takdir-Nya. Sehingga nilai pelajaran yang saya dapat bukan sekedar sebuah fantasi atau ilusi apalagi teori. Saya mendapat pengalaman hidup dan pelajaran penting. Terima kasih Tuhan, Engkau mengirimku pada tempat dan orang-orang yang senantisa mengagungkanmu setiap waktu.

Kawan sepertinya saya mesti belajar banyak dari kalian. Terima kasih banyak atas kesediaan dan keluangan waktu, pelayanan yang diberikan. Lebih-lebih nasihat dan cerita perjuangan hidup kalian yang penuh optimisme. Semoga saya bisa mengambil pelajaran baik ini. “tak ada hidup sulit, semua pasti bisa dilalui” kalimat itu menjadi sebuah pamungkas dari perjamuan ini.

Maksud hati ingin memeluk gunung namun apadaya tangan tak sampai. Saya ingin selalu bersama kalian namun itu tak mungkin sebab kita memiliki tujuan dan keinginan yang beda satu dengan yang lain. Perbedaan ini bukan satu yang bersifat mainstrim tapi prinsip. Maka aku cukup mengambil pelajaran dari pengalaman kalian. Dan kesaksian-kesaksian yang saya dapat akan senantiasa menjadi bekal dalam menempuh hidup.

Seperti yang dikatakan di atas pada awal tulisan, bahwa hidup harus terus berputar, maka kita tak mungkin melawan hal itu. Kita harus berpisah. Namun perpisahan ini bukan satu akhir. Kita hanya dipisahkan oleh medan juang yang beda. Semangat dan patriotisme tetap lah sama.

Satu pantun klasik :
Bila ada tumbuh berdiri sumur di ladang boleh kita mandi
Bila Tuhan memberi umur panjang boleh kita bertemu lagi

Salam perjuangan untuk semua pemuda/i Indonesia
Salam .............. Merdeka !!!!
Baca Selengkapnya di sini..

Sabtu, 09 Juli 2011

PELATIHAN TALENPRENEURSIP

Rangkaian perjalanan ke Surabaya kali ini banyak memberi kesan pada saya. Cuaca Kota yang panas, tidak mengurangi kebahagiaan, saya sangat menikmati dan merasa senang. Pertemuan dengan Puguh Irianto pada pelatihan kewirausahaan Agroenergi mengantarkan saya pada beberapa kenangan masa lalu, yang tak kalah penting saya bisa mendapat hikmah dari pengalaman-pengalan kakak kelas sauadara Khotib dan adik kelas Antoso.

Keberangkatan saya ke Surabaya ini untuk menghadiri dan ikut pelatihan Talen Prenuesip di (kantor GAPEKSINDO) Jalan Gayung Sari Timur no 21 Blogs MEG. Beruntung di Surabaya saya ada teman seperti yang saya sebut di atas. Kebetulan teman saya dekat dengan kantor tempat pelatihan. Sebenarnya pelatihan ini masih tahap seleksi. Walau begitu saya senang setidaknya saya bisa bertemu dengan teman lama sekaligus teman-teman baru yang tak kalah membuat saya salut.

Bersyukur saya bisa ikut serta dalam seleksi pelatihan Talen Prenuersip. Setidaknya melalui pelatihan ini saya bisa bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang memiliki mimpi besar terhadap diri dan bangsa ini. Seandainya semua cita-mimpi para peserta pelatihan dikabulkan oleh Allah, pengangguran tak akan separah seperti ini.

Jika semua penduduk di negeri ini memiliki mimpi dan kometmen seperti teman-teman di pelatihan ini sudah barang tentu Negara tak perlu mengekspor TKI. Dan kita tak perlu mendengar kabar penyiksaan atau kematian karena kekejaman para majikan. Kita patut apreasiasi terhadap program pemerintah jatim “mencetak satu juta interprenuersip muda”. Semoga program semacam itu benar-benar terimplementasi secara baik dan tidak sekedar menghambur-hamburkan uang rakyat secara sia-sia.

Pelatihan Talen Prenuersip ini, merupakan program Alumni ITB di Jawatimur bekerjasama dengan Pelindo III. Pelatihan talen prenuersip sekaligus sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah propensi Jawa timur yang bercita-cita mencetak satu juta interprenuersip muda.

Walau acara pelatihan Talen Prenuersip ini gratis, namun tak mengurangi esinsi dari pelaksanaan. ”Tidak ada pungutan biaya apa pun, bukan berarti tak berkualitas” ungkap Instruktur di depan pada peserta. Peserta yang ikut pelatihan datang dari berbagai golongan mahasiswa dan umum. Sebagian dari peserta sudah memiliki usaha. Sebagian lagi merupakan pengusaha ritel kontruksi dan lainnya.

Sebagaimana pelatihan-pelatihan pada umumnya peserta dipersilahkan untuk memperkenalkan diri kepada masing-masing peserta lain. “silahkan saling memperkenalkan diri, supaya terjadi network yang baik” ungkap instruktur pelatih. Perkenalan itu di mulai dari samping kiri secara bergilir. Setelah selesai perkenalan instruktur meminta pada semua peserta untuk mengingat sepuluh nama yang telah saling bekenalan tadi. Dari sekian peserta hanya satu orang yang bisa menyebutkan. Sementara peserta yang lain hanya diam sambil garuk-garuk kepala dan sambil tertawa kecil.

Instruktur itu pun menyayangkan ketidak pekaan peserta dalam mengingat nama satu dengan yang lain. Karena dalam relasi bisnis atau seorang pengusaha dituntut untuk bisa memiliki relasi yang banyak. Salah satu bentuk kecil mengingat orang-orang yang pernah dikenal kemudian diajak berpatner yang nantinya bisa saling menguntungkan satu dengan yang lain.

Pengantar singkat dari Instruktur pelatih cukup memberikan kesan yang sangat dalam bagi setiap peserta. Satu pelajaran yang menurut saya penting dijadikan pegangan untuk kita dan bangsa ini ”gali lah kelebihan yang ada pada diri ”anak” kita dan kembangkan, asah kelebihan itu secara kontinu dan konsisten”.

Namun realitas lingkungan kita selama ini masih terpaku pada nilai kultur, dimana kita sering terjebak pada kelemahan dan sering melupakan kelebihan. Mengetahui dan menjadikan kelemahan sebagai koreksi itu penting. Akan tetapi yang tak kalah penting adalah bagaimana kita bisa memaksimalkan kelebihan yang ada pada diri kita.

Ada sebuah pertanyaan yang menarik untuk kita bahas dan pertanyaan ini bersifat umum sering dilontarkan di publik. Bagaimana kita bisa mengetahui potensi pada ”anak” kita. Pada pelatihan itu instruktur menanayakan hal serupa ”apa kelebihan anda, coba sebutkan” semua diam tak ada jawab. Tak ada satu peserta yang bisa menjawab secara spontan. Padahal sebelumnya mereka yakin bahwa setiap individu memiliki potensi dan kelebihan. Potensi dan kelebihan telah dan sengaja Allah anugrahkan pada ummat manusia. Lalu mengapa kita tidak dapat tahu terhadap potensi diri kita....?

Mengetahui potensi diri bukan suatu pekerjaan yang sulit. Setiap orang bisa melakukan dan menganalisa. Mengetahui potensi dan kelebihan yang ada pada diri sendiri adalah ”wajib” penting karena akan menentukan langkah dan rencana kedepan nanti. Orang-orang sukses di dunia, lantaran mereka telah mengetahui kelebihan pada dirinya : semisal Pemilik Perusahaan Microsoff Billgets, pemain sepak bola dunia Ronaldo, musicus Achmat Dani, pemain bulu tangkis Taufik Hidayat dan beberapa orang sukses lainnya.

Orang-orang yang saya sebutkan di atas mulai sejak dini telah mengetahui talen ”potensi diri mereka” yang ada pada dirinya dan terus mengasah setiap saat. Semisal para orang-orang sukses di atas beralih profesi apa mungkin akan sehebat seperti sekarang. Misal Achmad Dani salah satu Musicus tanah air beralih jadi da'i, entah akan seperti apa masa depannya. Atau Al-marhum K.H Zainudin, Mz, dari pendakwa jadi penyanyi roc, akan kacau masa depannya.

Artinya kita harus fokus pada kelebihan yang ada pada diri kita, bukan sebaliknya yang kerap terjadi kita sering fokus pada kelemahan. Apa yang akan terjadi pada orang yang selalu fokus pada kelemahan..? mereka akan selama-nya mengantung dan tak akan pernah menjadi orang hebat di bidangnya. Dan kelebihan orang yang fokus pada kelebihan yang ada pada dirinya mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi orang top di bidangnya.

Akhir akhir ulasan ini saya berharap kita adalah orang-orang yang fokus pada kelebihan dan bukan termasuk orang yang sibuk mencari kelemahan, apalagi sampai mencari kelemahan orang lain. Maka mulai saat ini kenali diri dan kemampuan ”kelebihan” kita. Tak ada kata terlambat, lebih baik dinilai terlambat dari pada menjadi orang yang tak pernah berbuat apa pun. Jangan takut pada kegagalan, gagal bukan berarti tak ada kesempatan. Pepatah lama mengatakan ”di mana ada tanjakan, di sana pula akan ada jalan lapang”. Bila diri anda sukses jangan egois, jadilah orang yang bermanfaat bagi ummat yang lain. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu mengangkat kehidupan orang di sekeliling kita menjadi lebih baik.

Daya itu obor
Harapan peta
Doa kompas-nya

Surabaya 2011
Baca Selengkapnya di sini..