"Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)

Selasa, 05 Juli 2011

SAHABAT : PERJUANGAN & KOMETMEN

Kawan ….. benar apa yang kamu katakan, pertemuan ini mengingatkan kita pada kenangan beberapa waktu silam yaitu masa-masa di sekolah MAN Sumenep. Saat itu kamu mulai menginjak naik kelas dua sementara aku masih baru masuk di kelas satu. Dua tahun lebih kita saling akrab satu sama lain. Hari-hari yang telah berlalu selalu indah untuk dikenang. Entah sudah berapa lama kita tidak bertemu. Seingat aku setelah kamu dinyatakan lulus kita tak lagi bertemu. Dan kali ini setelah 4 th-nan lebih kita kembali bertemu.

Pertemuan ini tergolong istimewa, hal ini bila kita lihat dari kesamaan jalan yang kita lalui. Kita sama-sama menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri. Kamu bilang saat ini sedang cuti, berarti kita sama karena saat ini aku juga cuti. Kita memang tak satu kota aku di Malang dan kamu di Surabaya. Kalau dilihat dari jarak tempuh kalau normal berkisar tiga jam. Kesamaan diantara kita terletak pada nasip sementara tautan takdir tak pernah sama.

Perbedaan yang tampak pada kemampuan beradaptasi dengan hidup dan mampu hidup mandiri. Sementara aku ….heem Sangat jauh beda dengan kamu. Barangkali aku harus banyak belajar dari kamu, dan penglaman kamu. Jujur aku salut atas segala prestasi yang kamu raih. Bila aku mengenang kamu, aku teringat kita hidup bersama di Musollah sekolah MAN. Saat itu kita hampir terbakar. Satu yang tak kala seru adalah saat kau terjatuh di kamar mandi, saat itu kita mengejar waktu menjelang solat Jum'at.

Aku ingat betul perjuanganmu saat itu, tertutama dalam hal keorganisasian. Saat kamu menjadi pemimpin di redaktur majalah sekolah kamu masih mengurusi kegiatan organisasi di luar sekolah. Sungguh kau teman pencerah. Saat aku tak tahu apa itu organisasi kau bimbing aku. Pada saat itu kita mulai saling bertukar pikiran. Di ruang redaksi cara dan tradisi kehidupan baru aku jalani. Aku sangat bangga bisa mengaktualisasikan diri lewat tulisan.

Kamu benar-benar berbeda dengan segudang perubahan pada hidup-mu, saat ini. Ketegasan sikapmu tercermin pada tiap kata lontaran kata. Kau senantiasa bersahaja, sikapmu yang lembut mampu menaklukkan ganasnya kehidupan. Bila saat ini langkahmu tertuju pada satu arah dan mulai terfokus, hal itu merupakan buah manis dari sikap dan kometmen kamu selama ini.

Kini kamu benar-benar berubah, jarak dan usia telah mematangkan segala hal tentang kehidupan termasuk masa depan-mu kelak. Saat ini kamu telah menuai pahit menjadi madu, berbeda dengan dulu saat di MAN. Bila awal mula kau bersungut-sungut dengan keringat maka kali ini kau hanya dituntut dapat munguasai angin. Peluru perjuangan memang belum sepenuhnya termuntahkankan, dan tak harus memang. Selama kita mampu menjalani keadaan dengan tangan kosong buat apa kita memakai peluru pemungkas.

Bila aku boleh ber-ujar kamu benar-benar sukses. Semoga aku bisa mengikuti lankah suksesmu, setidaknya pada jalan aku esok dan nanti. Aku tak begitu mengharap kesamaan takdir terhadap apa yang saat ini aku jalani. Aku cukup belajar terhadap apa yang kulihat dan aku saksikan pada kometmen kegigihan kamu dalam meraih dan mengejar cita-cita. Kita yang terlahir tak sama tak mungkin menyamakan presepsi. Gayung kehidupan tak mungkin beda apa lagi soal kometmen. Soal buahnya kelak bagaimana, itu hanya persoalan perawatan dan waktu.

Kawan tentu kamu masih ingat saat setiap pagi kita saling memburu nasi paling murah (nasi lauk tahu lekangkap dengan sayurnya seharga Rp. 1500) barangkali itu nasi termurah di kota kita (sumenep) saat itu. Kamu ingat air yang kita minum setiap sehabis makan ? Air yang biasa kita minum adalah air-kran. Air di kran tempat Musollah memang tidak mengalir dari tanah suci seperti air zam-zam yang bisa diminum kapan pun dengan khasiat yang menyertainya. Air kran itu hanya air biasa, sebagaimana air yang dijadikan wuduk atau cuci baju. Tapi kita tak pernah menyoal, apakah tubuh kita akan terinfeksi atau akan kena firus ..... kita bagai mahluk dengan kekebalan tubuh yang tak tertandingi oleh apa pun.

Aku benar-benar salut pada sebilah kata-kata yang mengalir penuh ketulusan “.... Perjuangan belum selesai kita arus sukses”. Perjuangan tak akan selesai dan tak pernah mengenal medan dan batas. Selama roh masih menyatu dengan badan dan belum terpisah maka perjuangan akan terus bergulat. Perjuangan sesungguhnya merupakan penanda kehidupan, tak ada kata juang bagi mereka yang tak memiliki pengharapan terhadap hidup.

Hidup bagai medan peperangan, syarat utama orang berperang bukan pada senjata yang ada ditangan tapi pada apa yang perjuangkan. Senjata adalah alat yang statis sementara kehendak ”perjuangan' merupakan sebuah bentuk yang dinamis. Maka pemenang perang adalah bagi mereka orang yang mampu menunjukkan kometmen dan perjuangan yang gigih.



Semenjak pertama aku mengenal-mu di MAN Sumenep dulu, kau sudah penuh ambisi. Di ruang redaksi 2 x 6 m, aku menyaksikan bagaimana kamu menjadi pemenang atas segala beban dan tanggungjawab. Kau pejuang sejati. Di detik ini pada saat kembang merekah wangi semangat-mu senantiasa bagai api yang membara.



Barangkali kebersamaan kita selama kurang-lebih dua tahun tak bisa menjadi alat ukur untuk penilai kamu. Karena sebagaimana dikatakan di awal, hidup ini penuh dinamika. Segala sesuatu cepat dan bisa berubah setiap saat. Namun pertemuan ini semakin memperkuat kesanku akan kamu. Kesan pertama kau memang layak disebut pejuang sejati. Kedua kekonsistenanmu dalam menekuni sesuatu seirama dengan dedikasi yang kamu berikan.

Bila hari ini kamu mulai mereguk separuh kesuksesan itu sebanding dengan pengorbanan yang kamu berikan selama ini. Benar juga apa yang kamu katakan ”orang-orang di kota semua egois dan penuh ambisi, bila kita lamban dan lalai maka selamanya hanya akan jadi penonton”. Aku yakin kata-kata lahir dari kandungan zaman yang selama ini kau selami. Kita harus percaya diri. Kita mesti berani melakukan terobosan baru. Kita tak boleh takut mengambil resiko. Namun segala lakon yang akan dipentaskan harus benar-benar melalui perhitungan yang matang.

Surabaya 03/07/2011
Baca Selengkapnya di sini..

Senin, 04 Juli 2011

MENGAIS MAKNA

Siang menjelang sore (pukul 03 wib) aku meninggalkan Malang menuju satu kota lain, yaitu kota Surabaya. Diri seperti berpacu dengan waktu demi satu “harapan” tujuan. Tujuan itu adalah sebentuk harapan pada keadaan dan perbaikan diri. Ya bukankah kita memang harus selalu melakukan perbaikan diri secara terus menerus tanpa mengenal batas dan waktu. Barangkali dengan upaya dan kometmen kuat, hidup akan menjadi lebih baik.

Terkadang harapan yang terkesan muluk-muluk membuat kita lupa pada keadaan. Tapi tak apa laaaahh….. anda yang saat ini memiliki harapan dan opsesi tinggi terhadap kehidupan, harapan dan opsesi mesti dipelihara sebagaimana kita memelihara diri ini. Barangkali dikemudian kelak harapan dan opsesi itu mengantarkan pada satu puncak kesuksesan. Maka mulai saat ini tanamkan kepercayaan dalam diri anda , yakin anda bisa meraih apa yang ada cita-citakan. Kalau perlu buatlah sebuah susunan jadwal kapan harapan dan opsesi itu mesti dicapai. Hidup itu harus ada target, kata teman saya di pondok.

Hidup adalah peluang. Maka kita harus menciptakan peluang dalam hidup ini. Dengan apa, salah satunya ialah jangan pernah anda berhenti untuk beropsesi pada kehidupan anda sendiri. Saya kira kita tak perlu perbutar-putar dengan apa dan bagaimana. Karena kehidupan ini tidak disusun dengan pertanyaan. Tindakan anda saat ini, akan menentukan masa depan kelak. Baiklah barang kali saya terlalu larut dalam angan-angan.

Hari ini memang sangat mengesankan saya lebih dari sebuah harapan dan mimpi. Sesaat diri menangkap kesan ”keberhasilan dan keberuntungan tak pernah datang pada orang yang tak berkemauan”. Kata orang kita harus tetap semangat dalam menapaki hidup dan harus terus berjuang tanpa mengenal lelah sedikit pun. Dan tak ada perjuangan yang sia-sia. Sebagaimana doa tak ada doa yang tak bertaut dengan harap. Sesungguhnya antara doa dan usaha akan seirama dengan kehendak diri dan Tuhan itu sendiri.

Siklus kehidupan bagai ombak, seorang nahkoda sejati tak akan surut karenanya. Begitu pun dengan waktu yang kita lalui. Setiap detik dan keadaan akan ada tantangan. Kita tak boleh kalah apa lagi sampai menyerah dengan tantangan tersebut.Waktu yang membentang adalah tantangan yang harus dihadapi. Bersyukur saya dengan segala keterbatasan bisa menggagahi keadaan yang tak mudah itu, walau berat namun terlampaui juga. Sementara babak akhir dari apa yang saya tuju merupakan sebuah usaha diri keluar dari dilema hidup. Apa dilema itu ..? aku tak perlu merinci apalagi sampai mengurai diri dengan ber-air mata.

Apa yang bisa kita sikapi dari kenyataan hidup. Menyesal, menyalahkan diri secara terus-menerus ..... kemudian apa yang akan kita dapatkan dari itu semua. Hidup adalah sebuah anugrah dengan segala dinamika-nya, jadi apa pun yang terjadi dan akan terjadi nanti kita tidak perlu khawatir apa lagi sampai cemas karena-nya. Berguru lah pada air yang mengalir, orang bijak bilang seperti itu. Kalau kita dalami makna ungkapan ”Berguru lah pada air yang mengalir,” akan kita temukan sebuah nilai filosofis yang dalam.

Menurut Thales air merupakan pokok kehidupan. Orang hidup butuh air. Hewan, pohon dan semua mahluk di dunia ini membutuhkan air. Jadi air memiliki peran sekaligus sebagai penggerak hidup. Konon pada awal mula bumi merupakan paduan air yang satu yang kemudian Tuhan pecah dengan kehendak seperti sekarang ini.

Air merupakan karunia alam yang tuhan anugrahkan pada kita selaku ummat-Nya. Barangkali bagi kita yang tak pernah berfikir fungsi air selain untuk mandi atau mencuci. Keyataannya air memiliki satu nilai yang banyak bagi kehidupan. Bagi orang yang ahli energi air bisa dimanfaatkan untuk menjadi penerang seperti PLTA. Banyak pakar dan peneliti mengungkapkan tentang alam seperti Harun Yahya dan beberapa ilmuan yang lain. Tapi dalam hal ini saya tidak ingin atau terlalu masuk ke dalam pembahasan teoritis. Karena saya bukan seorang pakar teori.

Ada beberapa hal yang menarik untuk diceritakan dalam perjalanan singkat antara Malang - Surabaya 02/07/2011. Baiklah sekarang saya coba masuk pada sekala waktu yang barangali memiliki satu dimensi menarik sekaligus memiliki nilai pelajaran yang dapat diambil. Satu kata kita mesti optimisme dalam menjalani hidup. Hidup sebagaimana saya katakan di atas akan mengalir. Maka jangan pernah kita mencoba membendung arus kehidupan, tapi jangan pula kita ikut arus.

Kota dengan segala keunikan dan ke-sumpek-an-nya memberi diri satu pelajaran yang berarti. Menurut teman, hidup di tengah kota ”orang kota semua egois dengan segala kepentingannya” maka kita harus bertindak secara cepat, cermat dan penuh perhitungan yang matang. Kalau kita biasa santai, dan basa-basi dengan adat-kultur kota tak begitu peduli terhadap tata cara yang monoton dan kaku.

Berjalan lah sebagaimana angin menyusuri lapang dan rimbun kehidupan. Sapa segala yang dapat anda disapa. Kasihi dengan setulus hati mereka yang dilanda sunyi. Karena hal itu adalah salah satu cara bertahan dalam pergulatan hidup yang kejam seperti sekarang ini. Jangan menganggap remeh keadaan apa lagi kehidupan ini. Hidup butuh tekat dan kepercayaan diri yang tinggi. Percaya diri bukan berarti menganggab diri paling benar, percaya diri mampu menempatkan batas kemampuan dan kelebihan diri.

Surabaya tanggal 03/07/2011
Baca Selengkapnya di sini..

Minggu, 03 Juli 2011

JADI WANITA MODERN (IBU RUMAH TANGGA) ......?!

Apa yang Saya lihat pagi tadi tentu bukan sebuah kebetulan. Seorang Ibu terlihat sibuk dan menyibukkan diri di rumah-nya. Ibu rumah tangga (wanita) itu terlihat asyik bersih-bersih dan merawati anak-nya di rumah. Rumah menjadi satu hal yang indah bagi wanita sekaligus tempat menapaki sunyi-nya. Hari-hari-nya hanya itu dan itu saja. Seakan tiada aktifitas lain. Ungkapan bagi wanita “kasur, dapur, sumur” lekat pada ibu yang saya jumpai pagi tadi.

Sebenarnya bukan kali ini saja saya melihat wanita dengan tinggi badan 65, cm beraktifitas lazimnya wanita kebanyakan. Setiap akan keluar wanita ini selalu saya jumpai dengan rutinitas dan aktifitas yang sama setiap harinya. Saya pun bertanya dalam hati apakah wanita ini menikmati hari-harinya. Tidakkah ia bosan atau jenuh.

Wanita tidak boleh kerja berat dan kasar, maka ia harus diperlakukan dengan baik penuh kelemah-lembutan. Di jaman dahulu wanita memang hanya sebagai pelayan bagi suami-nya. Di luar pelayanan kepada suami dipandang tak wajar atau menyalahi kodrat kewanitaan itu sendiri. namun pada perkembangannya wanita dengan kesadarannya memberontak dan menuntut hak-hak yang sama dengan laki-laki. Wanita harus dibolehkan berkarir (bekerja dikantoran) sampai berpartisipasi dalam dunia politik dan kepemimpinan.

Namun apa yang saya lihat pagi itu seakan bertolak dengan kenyataan dan tuntutan wanita modern saat ini. Wanita itu nampak santai. Entah kesantaiyan itu sekedar pemoles, saya tak paham. Barangkali keadaan yang menjadikan wanita yang saya lihat ini seperti. Kemungkinan demi kemungkinan memenuhi membaur tanya di kepala.

Bagi suami yang memiliki istri seperti saya ceritakan di atas barang kali akan senang-bangga. Tapi benarkah demikian. Ada semacam kekalutan dan keterkungkungan dalam raut wanita itu. Barangkali anak yang digendungnya sedikit mengusir kepenatan dan rasa sumu' di rumah. Ada satu beban yang berat yang dipukul wanita ini setiap saat. Ia harus menghadapi kesunyian, dan kefakuman aktifitas terkecuali “kasur, dapur, sumur” .

Kota yang menjadi menjadi lumbung emansipasi dan lahirnya feminisme justru terlelap dalam bingkai kefakuman. Wanita itu hanya penghuni rumah 'menjadi ibu rumah tangga” tanpa ada aktifitas lain. Merawat anak seperti kodrat yang tak dapat dipisahkan barangkali itu pula yang membuat wanita itu bertahan dalam kesunyian.

Potret yang saya lihat di kota berbalik derajat dengan kebiasaan wanita di kampung. Wanita kampung dengan kesederhanaannya justru selalu aktif dalam kegiatan, dalam penilaian saya kegiatan ekstrem : bekerja di sawah, bakul, bahkan menjadi pedagang asongan. Wanita-wanita di kampung bangga bisa berkontribusi terhadap suminya (membatu pendapatan/penghasilan). Dan kalau diamati lebih dalam lagi penjual asongan di kota rata-rata mereka dari pelosok “imigrasi”.

Dilihat dari latar pendidikan saya berkeyakinan wanita di kota-kota besar seperti Malang ini lebih baik dan maju di timbang dengan wanita kampung atau mereka yang “berimigran” sekedar mencari sesuap nasi untuk keluarga. Jadi masalah feminis, gender mereka lebih paham di banding wanita kampung atau mereka yang datang dari Desa pelosok.

Namun semangat dan keuletan wanita kampung patut diapresiasi, karane wanita kampung mampu menunjukkan diri sebagai wanita yang mandiri “berdikari”. Pada hal wanita kampung tak pernah tahu apa itu feminis, gender, namun kenyataan hidup menjadikan diri mereka pahlawan bagi diri dan keluarga juga anak-anaknya.

MERAWAT ANAK
Di tengah pertanyaan yang terus membeludak di kepala, saya berpositif tingking saja. Wanita dengan segala takdirnya memang tak harus sama dengan laki-laki. Termasuk pada wanita yang biasa saya lihat setiap pagi. Merawat anak adalah satu tanggungjawab-nya. Saya tak hendak mengatakan wanita hanya sebagai basis produksi anak, tidak. Menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak merupakan salah satu hal penting di tengah kondisi kompleks saat ini.

Kasih sayang Ibu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Beberapa penelitian yang sempat saya baca penyimpangan yang sering terjadi dan menimpa anak lantaran mereka kurang mendapat perhatian orang tua (Ibu). Jadi menjadi Ibu rumah tangga merupakan bentuk pengabdian seorang ibu terhadap (anak) keberlangsungan generasi.

Anak adalah idola, ia merupakan pangeran kecil yang senantiasa menjadi pelipur lara pada saat kita jenuh. Saat seorang Ibu melihat pertumbuhan dan perkembangan anak mereka, ada semacam kekaguman yang tak terungkap. Kelucuan demi kelucuan timbul dan lahir dari sang pangeran kecil. Disaat itu harapan menjadi nyata. Mimpi pun tercetus, kelak mereka harus menjadi anak yang terbaik dan soleh-soleha, bermanfaat bagi basa ini.

Kamajuan peradaban tak bisa secara serta merta menghapus dan menghilangkan peran seorang Ibu. Dibalik tuntutan yang muncul dari wanita modern saat ini, sesungguhnya hal itu adalah satu dinamika yang tak harus menghilangkan peran pokoknya (menjadi ibu yang baik bagi anak-nya). Tuhan tak pernah salah dalam menempatkan posisi hamba-Nya, akan selalu ada hikmah dibalik ketertautan agama dan dunia modern saat ini.

Maka wajar bila pada sebuah hadits qutsi Allah mengatakan “ridha Allah itu terletak pada ridho pada orang tua (ibu)”. Dalam sebuah hadis dikatan bahwa “surga ada di telapak Kaki Ibu”. Posisi semacam ini tak diberikan pada laki-laki, khusus pada wanita (ibu).
Baca Selengkapnya di sini..

Sabtu, 02 Juli 2011

MUI DAN FATWA HARAM

MUI akan segera mengeluarkan fatwa haram lagi. Rencana fatwa haram kali ini terhadap pemakaian BBM bersubsidi bagi kalangan yang mampu. Akan dikeluarkannya fatwa haram ini, bersamaan dengan gencarnya kampanya pemerintah dalam penghematan BBM, khususnya BBM bersubsidi. Saat membaca berita rencana MUI tersebut saya sedikit tertawa dan seraya berfikir MUI itu dapat proyek apa, sampai rela pasang dada, bawa agama “Fatwa” untuk mendukung program pemerintah yang terkesan kaku dan ragu-ragu untuk memangkas subsidi BBM. Sebenarnya tidak hanya kali ini MUI mengeluarkan fatwa haram. Sudah banyak fatwa MUI diantaranya : Mengemis haram, merokok' haram, dan beberapa fatwa yang lain. Efektifkah fatwa MUI kali ini ?

Pertanyaan semacam di atas sudah barang tentu jawabannya bisa diterka, bahwa fatwa haram terhadap pengguna BBM bersubsidi bagi orang mampu akan sia-sia. Lihat saja fatwa haram meroko', Haram mengemis,.... yang juga pernah MUI rilis semua mengendap di tong sampah. Peroko' tetap dengan kebiasaannya dan ketergantungannya. Pengemis tetap melakukan aktifitasnya sebagaimana mestinya, lantaran mereka tak ada pekerjaan atau tidak disediakan pekerjaan yang layak.

Munculnya fatwa haram MUI yang sempat diliris Ketua MUI KH Ma'ruf Amin saat melakukan pertemuan dengan Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (EDSM). “Ini terkait dengan hak. BBM bersubsidi adalah hak orang yang tidak mampu. Jadi, jika ada orang yang mampu atau kaya , tetapi tetap membeli BBM bersubsidi, hukumnya dosa” ungkap ketua MUI KH Ma'ruf Amin (Jawapos 28 Juni 2011)

Digandengnya MUI dalam hal pembatasan pemakai BBM bersubsidi melalui fatwa haranya, menunjukkan bahwa pemerintah sudah “putus asa” kehilangan akal dalam hal pembatasan BBM bersubsidi. Di tengah maraknya kampanye pemerintah dalam penghematan “orang mampu tidak membeli BBM bersubsidi”, toh rakyat tak begitu menggubris mereka tetap memilih membeli BBM bersubsidi, karena antara harga BBM bersubsidi dengan Pertamax yang mengikuti harga pasar dunia berbeda dua kali lipat (BBM bersubsidi Rp. 4.500, sementara Pertamax Rp. 8.300).

Dikeluarkannya fatwa haram terhadap pemakai BBM bersubsidi bagi yang mampu konon sejalan dengan kampanya MUI pada acara rihlah nanti. Pada acara rihlah MUI mengangkat tema besar penghematan penggunaan BBM. Dorongan pengehematan terhadap pemakai BBM patut diajungi jempol, mengigat prouksi BBM dunia akhir-akhir ini semakin berkurang. Kampanye pengehematan terhadap pengguna BBM harus terus dilakukan mengingat pengguna BBM yang terus meningkat.

Di Indonesia saja pengguna BBM setiap tahunnya terus meningkat. bertambahnya pengguna kendaraan pribadi dan kemacetan di kota-kota besar yang belum teratasi menjadi salah satu penyebab borosnya pengguna BBM. Dulu bangsa ini bangga kita patut dengan karena bisa mengekspor BBM, tapi sekarang beda. Bangsa kita bukan lagi pengekspor BBM seperti dulu, kita hanya jadi pengimpor.

Menanamkan kesadaran hemat BBM itu penting dilakukan dan ditamnakan pada setiap masyarakat di negeri ini. Namun tak kalah penting adalah sikap dan kebijakan pemerintah di dalam merespon krisis BBM yang bersifat global saat ini. Pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan mesti ditunjang dengan kemampuan intfrastruktur dan pelayanan. Kibijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah atas pemakaian BMM bersubsidi, mesti ditunjang dengan penerapan hukum yang jelas bagi mereka yang melanggar. Selain itu pembatasan kendaraan juga dimungkinkan untuk dilakukan. Banyangkan saja dalam satu keluarga memiliki 1-5 kendaraan (sepeda motor, dan mobil).

Bila pemerintah tidak segera mengambil kebijakan yang tegas atas masalah BBM maka negara akan semakin terbebani oleh biaya subsidi yang semakin membengkak. maka sebaiknya pemerintah melakukan langkah cepat dan tidak populer demi kestabilan negara. Mau tak mau pemerintah akan berhadapan dengan silang senggeta antara masyarakat yang pro dan mereka yang menolak.

Di saat seperti ini, kita ini benar-benar butuh ketegasan Presiden dalam menyikapi krisis BBM, bukan malah memakai MUI sebagai alat kekuasaan. MUI tak memiliki landasan hukum etik terhadap persoalan BBM, melainkan hanya sebatas menghimbau saja. sementara pe-label-an haram dengan penguatan relasi ayat atau agama sangat mudah dipatahkan. jadi sekarang kunci itu ada di pemerintah bukan pada MUI.

Melihat urgensi akan dikeluarkan-nya fatwa haram oleh MUI semalama ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan “relasi” Agama. MUI-lah yang terkesan memaksakan nilai dan dalil agama pada kepentingan pragmatis. Bukan ketaatan yang timbul di masyarakat, Justru sebaliknya MUI akan dianggab lenong yang bisa ditonton tapi tidak untuk digubris apa lagi diikuti.

Pemaksaan dalil agama untuk kepentingan “politis” tertentu membuat masyarakat semakin apatis pada lembaga (MUI) yang selama ini jadi kaki tangan pemerintah (MUI). Dari sekian serimunial fatwa MUI. MUI selalu mengatasnamakan hak, termasuk dalam hal mengeluarkan fatwa haram terhadap pengguna BBM bersubsidi bagi yang mampu.

Sikap MUI yang cendrung menjadi benteng terhadap setiap kebijakan pemerintah semakin menimbulkan masalah, lihat saja fatwa haram meroko', Haram mengemis,.... apakah fatwa itu menyelesaikan persoalan. apakah dengan adanya fatwa kemiskinan dan pengemis menjadi selesai, tidak. Apakah dengan dikeluarkannya fatwa meroko' orang jadi berhenti meroko'. apakah rencana fatwa haram terhadap pengguna BBM bersubsidi bagi yang mampu akan efektif, semua akan sia-sia saja.

Sebagai ummat muslim saya berekeberatan atas semua fatwa haram MUI-tersebut. Keberatan saya di sini karena agama yang mesti menjadi pendamai dan memberikan solusi atas masalah ummat justru menjadi bumerang. Bumerang bagi si miskin “pengemis”. Agama dan penafsirannya tidak hanya dimonopoli oleh MUI sebagai lembaga formal, masyarakat sudah cerdas dan tak butuh fatwa. Alangkah eloknya jika MUI membuka lapangan kerja biar penganggguran dan pengemis tidak semakin bertambah.

Jika muncul prangsaka negatif “jangan-jangan MUI mendapat suntikan dana 'proyek' dari ESDM, kemudian muncullah Fatwa haram itu” pada MUI terhadap dikeluarnya fatwa haram terhadap pengguna BBM bersubsidi, maka hal itu wajar. Masyarakat masih memiliki ingatan yang sangat jelas pada kasus Muhammadiah yang ngotot mengeluarkan fatwa haram, ternyata dibalik "lahirnya fatwa haram"--kengototan itu mereka mendapat suntikan dana dari luar negeri.

Hem... jadi kurupsi itu terjadi dimana-mana, di lingkunagan agama "kia'i" dan ormas “suci-MUI dll” korupsi sudah benar-benar menggurita. Anda punya banyak uang hukum dapat anda beli, termasuk dalil agama pun bisa ada beli. Tergantung nego, lobi dan seberapa besar anda bisa membayar orang ahli pemfatwa halal/haram tersebut.
Baca Selengkapnya di sini..