"Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)

Selasa, 19 April 2011

HARMONISASI BUDAYA LOKAL, DALAM PRESPEKTIF “EKONOMI” MODERN

Mon Ajem je' tek ma petek. Mon pete' je' jem ma Ajem.

(Berperilaku-lah secara proporsi, dan jangan mempolitisir diri)

Ungkapan bahasa Madura di atas terlontar dari seorang Ulama' kampung K.H. Abdul azis (Al-marhum). Ketika itu K.H. Abdul azis mengumpulkan masyarakat untuk menghimpun dana pembangunan Masjid. Ungkapan Mon Ajem je' tek ma petek. Mon pete' je' jem ma Ajem, merupakan penegasan sikap dan perilaku “kalau orang kaya ya jangan menyumbang seperti orang miskin dan orang miskin tidak perlu iri dengan orang kaya”.

Kalau didalami ungkapan bahasa Madura di atas, ternyata memiliki aspek yang luas dalam kehidupan keseharian kita. Pertama masalah perilaku kedua budaya, ketiga gaya hidup dan pergaulan. Ketiga aspek itu kini telah mengalami polarisasi dan pergeseran yang besar. Kemajuan di bidang tegnologi telah menggeser nilai-nlai lokal.

Masalah perilaku kini menjadi tema tren dikalangan remaja. Sadar atau tidak perilaku kita kini telah berubah total. Perubahan perilaku ke arah yang baik tidak akan terlalu berdampak namun perilaku nigatif cepat menyebar dan jadi firus. Perubahan itu didorong oleh sikap yang pragmatis, sikap pragmatis ini yang kemudian menimbulkan pengabaian terhadap nilai dan norma yang berlaku di lingkungan. Pertanyaan-nya mengapa perilaku “nigatif” terjadi, dan umumnya pada kalangan pemuda “remaja”.

Tak mudah untuk menjawab pertanyaan mengapa perilaku “nigatif” terjadi, dan umumnya pada kalangan pemuda “remaja”, namun kita bisa lihat dari beberapa indikasi dasar atas perubahan perilaku pemuda atau remaja dewasa ini. Pertama kecenderungan manusia untuk meniru perilaku lingkungan sosial-nya. Kedua sikap ingin beda dari kelompok sosial atau teman. Ketiga untuk menarik atau menyita perhatian orang lain sehingga mereka dikesankan menonjol.

Dalam aspek budaya, sadar atau tidak pergeseran budaya kita saat ini mengarah pada dekadensi moral. Pertama hilangnya rasa tenggang rasa pada sesama teman. Kedua terkikisnya nilai-nilai budaya lokal “menghormati guru”. Ketiga Pergaulan bebas “sek bebas”, penyalah gunaan obat-obatan terlarang dan sikap komsumtif. Penyimpangan penyimpangan tersebut terjadi secara perlahan dan dalam sekala luas.

Gaya hidup, dunia modern mengarahkan kita pada satu pilihan yang terstruktur masif tak terkecuali dalam hal mode dan gaya hidup. Kita sebagai manusia merdeka nyata-nya tak lepas dari pendekatan budaya dan mode. Gaya hidup “mewah” diilustrasikan sedemikian rupa lewat media Elektronik TV Koran dan majalah. Kita pun menikmati sajian “gaya hidup” sebagai satu hal yang alami, tanpa ada sebuah proses penelaahan “menyikapi secara keritis” untuk apa dan manfaat apa yang akan didapat.

Ketiga masalah : Perilaku, Budaya dan Gaya hidup merupakan satu masalah yang kini dihadapi oleh sebagian besar anak bangsa di negri ini “termasuk kita”. Ekspektasi perilaku dan gaya hidup membentuk komonitas lokal “budaya” baru. Kecenderungan ini ditopang oleh arus globalisasi dan keterbukaan informasi. Kita menjadi mahluk gagap dalam menerima kemajuan ini. Mengapa saya katakan demikian karena kecenderungan kita hanya meniru tanpa bisa memanfaatkan untuk memperdayakan kemajuan dan kemudahan “informasi” sebagai bekal dan memotifasi agar hidup lebih bermanfaat pada lingkungan dan bisa memajukan lingkungan kita sendiri.

Kalau kita cermati kemajuan yang digadang-gakangkan saat ini, merupakan kemajuan yang ilusif dan keropos. Alasan ini didasari atas sikap dan kebiasaan kita yang setia menjadi pengabdi “budak” yang rela dieksploitasi, sehingga kita melupakan asas untuk maju dan ber-ke-mandiri-an. Desain modernisasi adalah pengeksploitasian hidup yang sangat luar biasa dan kita menjadi teman sekaligus penikmat-nya.

Setiap gerak adalah modal. Setiap tindakan adalah implus yang sebisa mungkin menghasilkan uang. Dan tampilan adalah sebuah prodak yang senantiasa bisa meraup keuntungan finansial (itu-lah ciri dari pergulatan ekonomi modern). Ya kita terjebak dalam lingkaran ekonomi modern. Ekonomi modern selalu mendayagukan sikap dan tren buyada-gaya hidup sebagai basis keuntungan. Jika kamu mengikuti tren buyada-gaya hidup maka setiap detik akan berubah dan siap menguras pundi-puindi keuangan kita.

Kemudian apa kolerasi dari ungkapan Mon Ajem je' tek ma petek. Mon pete' je' jem ma Ajem, ungkapan ini setidak-nya menjadi keritik pada diri kita agar hidup tidak berlebihan. Ungkapan itu juga hampir sama dengan nasehat yang sering diberikan orang tua kepada kita “ingat dari mana asal-mu” atau satu ungpakan “jangan seperti kacang yang lupa kulit-nya”. Ungkapan-ungkapan itu mendorong pada kita untuk tetap ingat pada nilai lokalitas yang ada. Atau kita ingat sebuah stedment “ber-sikap lokal dan berfikir global”.

Sebagai generasi terdidik kita haus mampu mengkombinasikan nilai-nilai budaya lokal dengan kemajuan “modern” saat ini. Melestarikan budaya lokal merupakan tanggungjawab kita. Generasi saat ini harus memiliki tanggungjawab yang ber-ke-sahaja-an terhadap diri dan lingkungan. Bekal pendidikan bukan untuk menjadikan kita berjarak dengan lingkungan “budaya lokal” dan masyarakat. Kita harus meng-eleminasi sikap gengsi dari diri kita. Saat-nya kita berperan secara aktif “mengharmonisasikan budaya lokal sehingga bisa berniai ekonomis”.

Untuk materi diskusi IKLIMA Malang.

Malang, 16 April 2011
Baca Selengkapnya di sini..

Jumat, 15 April 2011

BILA TAK SAMPAI WAKTU-KU

Untuk teman di kelas IPS Ekonomi A-C dan teman-teman kampus baik di Uin mau pun di luar kampus, Tuhan telah menggariskan jalan hidup kita masing-masing. Pertemuan dan perpisahan adalah sebuah lakon yang pasti akan terjadi pada tiap perjamuan. Kita bertemu di tempat yang dinamis penuh dialektika dan perdebatan. Hidup adalah kesangsian yang tak dapat kita petakan. Jika saja hidup itu dapat disajikan tentu kita akan memilih sajian yang baik-baik dalam setiap waktu. Hidup bukan sebatang pensil, yang mudah menggoreskan tinta di kertas putih sebagaimana kita suka. Penanda selalu jadi alat dan tanya.


Walau aku tak sempat mewarnai kehidupan dengan legenda dan prasasti, tapi aku bisa belajar banyak tentang sahabat. Sahabat adalah pertautan yang beruang, yang tak dapat disekalakan dengan nilai praktis. Kampus nan megah ini jadi simbol, bentuk dan ruang terbangun atas mimpi dan harap akan masa depan. Tapi kita tak pernah tahu bahwa tempat berlabuh ternyata tak bisa mengantar mimpi dan harapan. Kalian pasti tak mengerti apa yang aku maksud, sebagaimana diskusi-diskusi yang terbangun di ruang pengab itu. Ya kalian tak akan mengerti sebagaimana nasip yang tak terselesaikan ini. Lembar kertas “ijasah” tak juga mampu membuat kita tersenyum, lantaran kita sendiri tak mampu mengurus diri.

Bila selama ini kita asyik berbeda sikap di ruang kelas, saat-nya nanti tak akan lagi. Kita sama-sama memburu nasip. Nasip yang hendak kita ubah. Ya selembar kertas “ijasah” seperti menjadi pengantar mimpi dan nasip, tapi benarkah itu..?. Persaingan di lapangan “bursa kerja” ternyata tak semudah yang kita bayangkan. Setiap tahun kampus-kampus me-wisuda ratusan bahkan ribuan mahasiswa, negeri-suasta.

Keyakinan dan kemampuan tak jadi jaminan dalam menjalani hidup. Apalagi jaman sekarang. Kedekatan tetap menjadi prioritas, artinya kita harus punya relasi di salah satu lembaga yang bisa mendistribusikan kita pada pekerjaan. Pekerjaan. Pekerjaan itulah yang kita cari lewat selembar kertas bukan sekil yang bisa menciptakan lapangan kerja. Dengan kita bekerja berarti kita sukses. Sukses terlepas dari pengangguran. Tak soal apakah pekerjaan itu sesuai dengan jurusan atau prodi yang kita tempuh. Yang penting bekerja.


Bekerja itu tak mudah, butuh kesabaran dan ke-dispiln-an yang tinggi. Bekerja itu adalah pengorbanan, fisik dan psikis. Bila kita bekerja di salah satu perusahaan atau lembaga formal lainnya maka bersiaplah untuk didekti. Pendektian itu merupakan pekerjaan yang tak terpisahkan dari seorang pekerja. Seorang pekerja tak lebih baik dari TKI yang ada di rantau. Bila TKI dikatakan (pekerja) budak yang tak berpendidikan. Maka Sarjana juga demikian Cuma bahasa-nya saja yang diperhalus “karyawan”. Padahal intinya sama. Sama-sama bekerja. Sama-sama melaksanakan perintah sang majikan “bos”.

Saat di kampus kita ingin cepat-cepat menyelesaikan studi. Ya kita bosan didekti dengan aneka tugas perkuliahan. Kita pun jenuh dengan ketentuan absensi yang mengikat. Pendidikan yang harus lepas dari pendektian dan pengekangan ternyata hanya ada pada tataran teori di atas kertas. “Pengekangan dan tekanan itu tidak baik, murid harus diberi kebebasan berekspresi karena dalam diri murid ada potensi yang bisa dikembangkan” itu dalam buku. Praktisnya mahasiswa juga didekti mahasiswa juga dicekam ketakutan. Ya absensi kehadiran di dalam kelas seperti peluru yang sesekali menumbangkan nasip dan masa depan. Jika absen melebihi target “banyak alpa” maka ber-siap-siap-lah mendekam dan bertemu dengan dosen yang sama.

Kampus tak juga bisa mendewasakan kita dan melatih kesadaran. Ancaman dan kekuatan birokratis menjadi hal yang dominan dan mengikat. Hal semacam itu bukan tidak baik, namun alangkah baik-nya seorang dosen mampu menanamkan kesadaran sehingga memiliki rasa tanggungjawab atas keberadaan-nya sebagai mahasiswa, tanpa harus ada ancaman “absensi”.

Apa yang diceritakan di atas merupakan pengalaman yang telah teman-teman lewati. Sekarang teman-teman pada sibuk mempersiapkan wisuda. Bagi teman-teman wanita kalian pasti akan memilih mik up yang super mahal sehingga tampil cantik. Setelah itu pulang ke rumah menikah atau di-nikah-kan bagi yang sudah punya pasangan bagi yang belum tentu akan menyusul. Untuk teman-teman laki-laki, tanggungjawab lebih berat, menjadi kepala rumah tangga, menafkahi anak orang. Semoga saja tidak menganggur dan aku yakin Tuhan tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada teman-teman.

Satu hal yang penting adalah jangan sampai keturunan “anak-anak” kita kelak bernasip sama seperti kita. Bukankah kita sendiri ragu dengan apa yang kita jalani saat ini. Tentu kita bisa belajar dari pengalaman. Jangan sampai kita mewariskan keterpurukan dan keraguan pada generasi selanjut-nya. Hal yang terpenting jangan lupa kita bersyukur dengan apa yang telah Tuhan anugrahkan pada kita. Kita tak perlu menyesali apa yang telah berlalu anggap itu sebagai guru berharga di masa depan.

Oya sampaikan salam hangatku buat Dosen dan bapak juga ibu kalian nanti. Aku tak bisa bersama kalian di podium terhormat (Wisuda). Namaku tak akan terpanggil di tahun 2011. Entah tahun ini menjadi tahun kefakuman nasipku. Semoga aku juga berkesempatan seperti kalian, membahagiakan kedua orang tua, semoga Tuhan memperkenankan aku mengajak kedua orang tua melihat kampus nan megah ini. Sungguh doa dari semua teman-teman akan menjadi obor di masa depan. Bila tak sampai waktuku maka aku pun tak akan menyesal pernah mengenal dan bergaul dengan kalian.
Di akhir penghujung perjamuan ini, aku tak bisa memebrikan apa pun selain kata selamat dan semoga sukses. Doaku menyertai kalian.
Baca Selengkapnya di sini..

Kamis, 14 April 2011

SURAT UNTUK MANTAN-KU DI KAMPUNG

“.......” Jarak dan keadaan memisahkan kita. Kini kau bahagia dalam bahtera rumah tangga. Aku senang saat melihat kamu tersenyum bersama anak-mu yang masih lucu dan molek itu. Aku kangen. Aku ingin mendengar banyak cerita dari kamu. Tapi semenjak kamu berumah tangga kamu terkesan menutup diri, aku sendiri tak tahu soal sikap-mu itu. Tapi yang jelas kita tak pernah menyudahi perjamuan di waktu malam. Dan aku tak akan meminta seonggok roti yang ada pada-mu cukup aku melihat kamu bahagia bersama suami dan anak-mu yang lucu-lucu itu.

Surat tidak bermaksud mengganggu keharmonisan dalam rumah tangga kamu. Surat ini hanya sebagai penyaksi sejarah bahwa kamu adalah cinta pertama-ku. “.....” Aku akan mengajak-mu menyelami kebersamaan kita, bersama teman-teman di sekolah dulu. Aku ingat sat aku sering menunggu kamu pulang sekolah, lalu kita pulang bersama. Aku sering menanti kamu di jalan setapak yang tak beraspal. Saat itu kita masih belum menyatakan perasaan. Ya ... cinta SMP memang penuh romansa juga teka-teki yang tak dapat di urai dengan kata dan logika.

“....” Kamu ingat saat aku sering menunggumu, saat itu kamu sering menghindar dan berlari-lari kecil menghindar dariku. Bila aku ingat masa itu terkadang aku tertawa. Saat itu aku kejar kamu, samapi-sampai sendal jepit yang kamu pakai terlerpas lalu aku ambil. Wajah-mu memerah, mata-mu beringsut seperti hendak merobohkan tiang listrik di samping jalan. Dengan nada agak melas kamu meminta untuk menyerahkan sandal yang saat itu masih aku pengang. Kita pun saling mengobrol sambil menikmati jalan setapak yang berpasir.

Sesekali aku menatap wajah-mu yang ranum. Saat itu Aku sangat menikmati. Aku tak yakin aku bisa jatuh cinta dengan kamu. Hari-hari sepulang Sekolah selalu kita isi dengan Canda tawa. Pulang sekolah adalah waktu yang sangat baik untuk kita bersama. Karena di rumah dan lingkungan kita tidak ada teradisi Laki-laki bermain ke rumah perempuan atau sebalik-nya perempuan bermain ke rumah Laki-laki. Kecuali jika bertungan. Kita pun memanfaat waktu pulang dan akan berangkat Sekolah sebagai saat untuk berkomonikasi atau bercanda ria. Hari-hari seperti itu sungguh menyenangkan.

Aku ingat betul teman yang paling kau akrapi dari perjalanan berangkat dan pulang sekolah. Sal, Nutanimra, Buhana. Ketiga teman-mu sering meng-ojlok kita, dan kita menikmatinya. Kini mereka semua telah berumah tangga seperti hal kamu saat ini. Beranak pula. Ya semua teman-teman telah berumah tangga, Tinggal aku yang kini di rantau dalam pencarian diri. Mungkin takdir yang mengharuskan aku jauh dari teman-teman, juga kamu. Mungkin takdir pula yang mengharuskan kita tidak bisa hidup berdampingan.

Masihkah kamu ingat perjanjian dengan teman-teman saat itu “siapa yang nikah duluan ........” aku lupa terusan-nya tapi aku ingat potongan itu. Kamu dengan Nutamira mengira aku akan mendahului kalian nikah. Sebenar-nya perkiraan itu tidak hanya muncul dari kalian orang tua sepupuku juga bilang seperti itu bahkan teman laki-laki Inumsa juga pernah bilang seperti itu. Tapi pernyataan dan perkiraan itu terbantahkan oleh keadaan aku menjadi penyaksi perjalanan rumah tangga kalian ......”

Aku tak tahu betul soal misteri cinta. Namun aku masih ingat apa yang kamu katakan “cinta” pada-ku saat ini ...... “aku mencintai-mu nikahi aku secapat-nya... aku tak mau kehilangan kamu...... ayo ita kawin lari aja” .... ruang tak berlampu itu jadi sakti. Sumpah setia mengalir bagai tasbih berhaluan. Aku percaya dengan keyakinan penuh akan segala ucapan itu. Aku pun mengiyakan bahwa aku akan mencintai-mu selama-nya.

Aku akan mempersingkat cerita ini. Setelah kejadian malam itu kita tak lagi dipertemukan. Kau pun nampak berubah, sampai akhirnya kudengar kabar kau dinikahkan. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat aku dengar kamu melangsungkan pernikahan. Sejurus aku tidak percaya. Namun setelah teman-teman-ku ramai bicara pernikahan itu aku pun ....... darah muda bangkit ... tapi aku pun menekan diri untuk tidak larut dan bisa menerima kenyataan pahit itu.

Yang jadi pertanyaan di waktu itu, “secapat itukah melupakan kata-kata kamu sendiri”. Aku masih ingat bahwa kamu tak pernah mencintai dia “suami-mu”. Tapi waktu menyoal setiap kata dan janji yang pernah kau ucapkan sendiri. Dan kini aku jadi penyaksi dari sebuah perjalanan hidup. Aku pun sedikit mengolah akal “tak perlu ada cinta di dalam menempuh dan membnguan rumah tangga, kepastian dan kepuasan batin menjadi hal dominan”. Ucapan dan peryataan cinta akan menjadi hal yang basi dan menyedihkan.

“....” apa yang aku ceritakan di atas adalah hal yang logis, tak ada tujuan apa pun selain sebagai cacatan pribadi dan kesaksian hidup, bahwa aku pernah jatuh cinta dan dicintai orang seorang wanita ‘ya itu kamu”. Sedikit aku bercerita bahwa setelah kamu berumah tangga aku tak pernah menjalin hubungan khusus “berpacaran” dengan wanita lain. Bukan berarti aku tak punya kemauan untuk hal itu. Keinginan dan rasa cinta pada wanita datang setiap waktu namun masa lalu cukup mengajariku.

Aku pun berkometmen untuk tidak jatuh cinta hingga saat-nya tiba. Aku juga tak ingin bermain-main dengan cinta karena luka yang diakibatkan sungguh tak terkirakan. “......” sikap-ku ini jangan kau kira aku masih berharap pada-mu. Tidak aku cukup bahagia melihat kamu seperti sekarang ini. Namun rasa kangenku padamu sungguh adanya. Aku ingin ngobrol banyak syering dengan kamu. Tentu bukan soal cinta dan masa lalu kita. Aku ingin bertanya bagaimana kehidupanmu setelah berkeluarga dan hari-hari yang kau jalani bersama anak dan suami-mu saat ini.
Baca Selengkapnya di sini..

Rabu, 13 April 2011

MEMBANGUN SUMENEP PASCA SURAMADU


Jemabatan Suramadu sebagai akses antara Madura dan Surabaya akan melahirkan ketimpangan-ketimpangan baru. Kenyataan ini tidak dilepas bila dilihat Madura dalam kapasitasnya masih ada pada taraf pekerja (buruh) dari memperkerjakan (tuan). Jangan salahkan masyarakat bila nanti-nya jadi budak pemodal.


Setelah peresmian Jembatan Suramadu, kawasan Madura menjadi sorotan publik. Sorotan itu dapat dilihat dari beberapa analisis yang dilakukan oleh pegiat pembangunan atau pengembangan kawasan Madura. Beberapa media pun turut melakukan diskusi-diskusi bagaimana Madura setelah ada-nya Suramadu. Apakah Jembatan Suramadu akan berdampak positif atau negatif bagi Madura ke-depan. Sebagai orang Madura saya tidak menginginkan dampak nigatif, tentu masyarakat Madura akan berharab ada perubahan positif pasca diresmikannya Suramadu.

Namun kita juga tidak dapat menutup kemungkinan ada-nya dampak negatif dari pembangunan Suramadu. Dampak nigatif dari pembangunan Jembatan Suramadu antara lain terjadinya transportasi dan transfer budaya yang cepat, sementara tingkat SDM formal orang Madura masih berada pada menengah kebawah. Percepatan pembangunan yang tidak disertai kebijakan pemberdayaan orang Madura hanya akan menciptakan ketimpangan sosial baru.

Dampak yang harus diantisiapasi sejak dini adalah terciptanya masyarakat mangkreng (nongkrong) bareng di sisi jemabatan. Fenomena mangkreng merupakan salah satu kebiasaan yang sering dilakukan orang-orang Madura “pemuda” untuk melihat lalu-lalang antara Madura-Suarabaya. Kebiasaan mangkreng di tempat-tempat umum dapat diantisipasi oleh pemerintah setempat dengan memberikan lapangan usaha (pekerjaan). Pertanyaannya apakah pemerintah punya kepedulian akan hal itu?.

Mengambil rekomendasi diskusi panel yang dilakukan oleh Kompas “bahwa pengembangan atau pembangunan kawasan madura harus dilakukan cara yang tidak biasa harus ada lompatan-lompatan khusus untuk mencapai keberhasilan pembangunan Madura yang baik”. Sampai saat ini kita belum melihat langkah kongkrit pemerintah dalam pengembangan Madura.

Pemuda pun dalam hal ini harus segera bangkit, dan bisa membuktikan bahwa mereka tidak hanya bisa jadi penonton kemajuan. Pemuda harus jadi pengawal yang baik pembangunan Madura dalam jangka panjang. semangat harus dipicu dan dibangkitkan. Namun Semangat saja tidak akan mampu memberikan apa pun ketika terbentur dengan birokrasi yang kaku dan berbelit-beit. Oleh sebab itu aparatur pemerintah harus memasang telinga lebar-lebar dan menyerap aspirasi dari bawah.

Bicara Suramadu tentu kita bicara empat kawasan Daerah yang menopang di hulu-hilir Madura. Empata kawasan itu adalah Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Ke-empat keawasan Dareah ini mau tak mau harus mengenjot pembangunan secara cepat dan ber-keadilan. Cepat dalam artian segala kebijakan yang diambil harus terperhitungkan secara matang dan kapabel. Dan hal yang penting adalah kebijakan itu harus menyokong kepentingan masyarakat atau penduduk Madura.

Sumenep sebagai Daerah paling timur di kawasan Madura memiliki peran yang sangat urgen dalam pembangunan Madura jangka panjang. Sumenep yang dedikadisikan sebagai kawasan wisata, memiliki prospek yang sangat baik. Wisata yang ada di Sumenep terdiri dari dua aspek penting pertama kultur budaya (ke-keratratonan : Baca sejarah Sumenep). Kedua ke-alaman wisata alam yang ada di Sumenep sangat beragam dan menawan diantara adalah Gua Jeruk, Tolobang pantai Slopeng dan pantai Lombang. Seluruh potensi yang tak kalah menarik adalah sumenep memiliki kepulauan yang terdiri dari 125 pulau diantara-nya masih belum tergarab secara baik.

Kini pemerintah Sumenep dihadapkan pada beberapa persoalan mendasar pasca diresmikannya jembatan Suramadu. Persoalan itu antara lain pena-naman modal (Investasi) pengembangan invrastruktur dan penanggulangan kemiskinan yang sampai saat ini masih terlihat lamban. Para pemangku kebijakan yang bersifat santai asal ngantor saja menjadi persoalan tersendiri bagi. Bagaimana Sumenep akan malu jika oknom di dalam pemerintahan hanya leyeh-leye, tidak memiliki pemikiran bagaimana prospek Sumenep ke depan.

Kebiasaan santai di kalangan pejabat harus diantisipasi, tuntutan jaman mengharuskan kita lebih agresif dan progresif. Jika kita senang berleha-leha dan tak mau peras kepala untuk memajukan Sumenep jangan harap proyeksi Sumenep untuk menjadi kota wisata akan membawa manfaat baik bagi rakyat. Kita tentu tidak ingin daerah kita seperti bali yang terkena dengan segala aspek-nya (positif-nigatif). Sumenep “pemerintah” harus memproyeksikan pembangunan sumenep “wisata” yang madani dengan tetap menjunjung nilai-nilai kultur yang ada di msyarakat.

Pengawasan dan intervensi dari masyarakat merupakan hal yang wajib demi terciptanya tatan yang lebih baik dan terkontrol. Sebagai masyarakat kita tidak ingin melihat penyimpangan dalam pengembangan di Sumenep. Oleh sebab itu masyarakat harus berperan aktif mengontrol pemerintah. Pemerintah harus memberikan teladan baik bagi masyarakat. Akuntabilitas dan transparansi menjadi kunci pembangunan di Sumenep.

Hal yang tak kalah penting dalam roda pemerintahan adalah penegakan hukum yang ber-ke-adil-an. Kalau kita amati penyimpangan dalam penegakan hukum sering terjadi. Masyarakat yang buta hukum sering jadi bulan-bulan oleh oknon polisi dan jaksa. Penyimpangan hukum yang dilakukan oleh oknom penegak hukum menjadi berita yang tidak sedap sekaligus mencedrai rakyat. Bayang ketika rakyat berurusan dengan hukum bukan keadilan yang mereka dapat tapi malah kebangrutan karena diperas oleh oknom hukum. Hak-hak warga untuk memperoleh keadilan hanya menjadi candu.

Tanpa mengurangi sara optimis, Saya yakin masyarakat Sumenep mampu melakukan kontrol yang baik-bijak hal itu untuk kebaikan Sumenep. Seluruh elemen masyarakat dan aparatur pemerintah harus terus melakukan kerja sama dan melakukan komonikasi secara intens supaya tidak terjadi dis komonikasi antara pemerintah dan masyarakat itu sendiri.

Banyak-nya penyimapangan yang sering dilakukan oleh oknom pemerintah mulai dari tingkat Lurah, Kecamatan, dan sampai Kabupaten (Pemerintah Kota), harus disudahi, saat-nya kita berpikir masa depan Sumenep bukan perut sendiri. Pungutan liar yang selama ini kerap dilakukan oleh sebagian oknom amat kita sayangkan namun rakyat pun tidak memiliki pilihan selain mengikuti kebobrokan yang ter-sistematis. Penyimpangan yang sangat mendasar seperti saat meminta rekomendasi atau surat kelengkapan ditingkat Kelurahan-kecamatan. Kebijakan baru dari Kecamatan untuk pengambilan KTP, Kecamatan mematok harga Rp. 25.000-75000, Padahal harga asli di Capil (catatan sipil) Sumenep pengambilan KTP hanya dikenakan biaya Rp. 6000. Harus pemerintah benar-benar menjadi pelayan yang baik bukan sebalik-nya memeras rakyat yang sudah terjerat kemiskinan.

Bila pemerintah Sumenep tidak mampu mendorong pembangunan yang berkeadilan dan memberikan pelayan yang baik bagi rakyat maka jangan harap perubahan dan kemakmuran akan tercipta secara baik dan merata. Kesenangan memperkaya diri dan mementingkan golongan “partai” bukan jaman-nya lagi. Sumenep harus bangkit untuk menyambut era yang lebih baik dan pemberdayakan rakyat untuk kemakmuran rakyat.

Bertolak pada Jembatan Suramadu Sumenep harus mempunyai master plen pembanguna Sumenep yang berkelanjutan dan berkesinambungan. Dengan adanya master plen, pembangunan di Sumenep akan lebih terarah dan terencana. Membangun Sumenep harsu dilandasakan pada kejujuran dan menjunjung nilai lokalitas. Dan pembangunan harus terorentasikan semata-mata untuk rakyat.
Baca Selengkapnya di sini..