"Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)

Selasa, 12 April 2011

KAJIAN TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI

Teori Pertumbuhan Rostow
Teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh Walt Whitman Rostow merupakan garda depan dari linear stage of growth theory. Pada dekade 1950-1960, teori Rostow banyak mempengaruhi pandangan dan persepsi para ahli ekonomi mengenai strategi pembangunan yang harus dilakukan. Teori Rostow didasarkan pada pengalaman pembnagunan yang telah dialami oleh negara-negara maju terutama di Eropa. Dengan mengamati proses pembangunan di negara-negara Eropa mulai abad pertengahan hingga abad modern, maka kemudian Rostow memformulasikan pola pembangunan yang ada menjadi tahap-tahap evolusi dari suatu pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara tersebut.

Rostow mambagi proses pembangunan ekonomi suatu negara menjadi lima tahap, yaitu:

1.Perekonomian Tradisional
Perekonomian pada masa tradisional cenderung bersifat subsisten. Pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi masih sangat terbatas. Dalam perekonomian semacam ini sektor pertanian memegang peranan penting. Masih rendahnya pemanfaatan teknologi dalam proses produksi menyebabkan barang-barang yang diproduksi sebagian besar adalah komoditas pertanian dan bahan mentah lainnya. Struktur sosial kemasyarakatan dalam sistem masyarakat seperti ini bersifat berjenjang. Kemampuan penguasaan sumberdaya yang ada sangat dipengaruhi oleh hubungan darah dan keluarga.

2.Prakondisi Tinggal Landas
Tahap kedua dari proses pertumbuhsn Rostow ini pada dasarnya merupakan proses transisi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Sektor industri mulai berkembang di samping sektor pertanian yang masih memegang peranan penting dalam perekonomian. Tahap kedua ini merupakan tahap yang menentukan bagi persiapan menuju tahap-tahap pembangunan berikutnya yang menentukan, yaitu tahap tinggal landas.

Sebagai tahapan yang berfungsi mempersiapkan dan memenuhi prasyarat-prasyarat pertumbuhan swadaya, diperlukan adanya semangat baru dari masyarakat. Menurut pengalaman Rostow, negara-negara Eropa mengalami tahap kedua ini kira-kira pada abad ke-15 sampai ke-16. Pada saat itu terjadi pertumbuhan radikal dalam masyarakat Eropa dengan munculnya semangat Renaissance. Semangat ini telah membalikkan semua tata nilai masyarakat Eropa saat itu yang cenderung statis menjadi dinamis.

Pertumbuhan paradigma berpikir nampaknya merupakan istilah yang lebih tapat untuk menilai fenomena itu.

Pada tahap ini, perekonomian mulai bergerak dinamis, industri-industri bermunculan, perkembangan teknologi yang pesat, dan lembaga keuangan resmi sebagai penggerak dana masyarakat mulai bermunculan, serta terjadi investasi besar-besaran terutama pada industri manufaktur.
3.Tinggal Landas
Tinggal landas merupakan tahap yang menentukan dalam keseluruhan proses pembangunan bagi kehidupan masyarakat. Pengalaman negara-negara Eropa menunjukkan bahwa tahap ini berlaku dalam waktu yang relatif pendek yaitu kira-kira dua dasawarsa. Dalam tahap ini terjadi suatu revolusi industri yang berhubungan erat dengan revolusi metode produksi. Tinggal landas didefinisikan sebagai tiga kondisi yang saling berkaitan sebagai berikut:
a.Kenaikan laju investasi produktif antara 5-10% dari pendapatan nasional.
b.Perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur penting dengan laju pertumbuhan tinggi.
c.Hadirnya secara cepat kerangka politik, sosial, dan institusional yang menimbulkan hasrat ekspansi di sektor modern, dan dampak eksternalnya akan memberikan daya dorong pada pertumbuhan ekonomi.

4.Tahap Menuju Kedewasaan
Tahap ini ditandai dengan penerapan secara efektif teknologi modern terhadap sumberdaya yang dimiliki. Tahapan ini merupakan tahapan jangka panjang dimana produksi dilakukan secara swadaya. Tahapan ini juga ditandai dengan munculnya beberapa sektor penting baru. Pada saat negara berada pada tahap kedewasaan teknologi, terdapat tiga pertumbuhan penting yang terjadi:
a.Tenaga kerja berubah dari tidak terdidik menjadi terdidik
b.Pertumbuhan watak pengusaha dari pekerja keras dan kasar berubah menjadi manajer efisien yang halus dan sopan.
c.Masyarakat jenuh terhadap industrialisasi dan menginginkan pertumbuhan lebih jauh.
5.Tahap Konsumsi Massa Tinggi

Tahap konsumsi massa tinggi merupakan akhir dari tahapan pembangunan yang dikemukakan oleh Rostow. Pada tahap ini akan ditandai dengan terjadinya migrasi besar-besaran dari masyarakat pusat perkotaan ke pinggiran kota, akibat pembangunan pusat kota sebagai sentral bagi tempat bekerja. Penggunaan alat transportasi pribadi maupun bersifat transportasi umum seperti halnya kereta api merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan. Pada fase ini terjadi pertumbuhan orientasi dari pendekatan penawaran (Supply side) menuju ke pendekatan permintaan (demand side) dalam sistem produksi yang dianut. Sementara itu terjadi pula pergeseran perilaku ekonomi yang semula lebih banyak menitikberatkan pada sisi produksi, kini beralih ke sisi konsumsi. Orang mulai berpikir bahwa kesejahteraan bekanlah permasalahan individu, yang hanya dipecahkan dengan mengkonsumsi barang secara individu sebanyak mungkin. Namun lebih dari itu mereka memandang kesejahteraan dalam cakupan yang lebih luas yaitu kesejahteraan masyarakat bersama dalam arti luas.


Teori Pertumbuhan Struktural
Teori pertumbuhan struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme transformasi ekonomi yang dialami oleh negara berkembang, yang semula lebih bersifat subsisten dan menitikberatkan pada sektor pertanian menuju ke struktur perekonomian yang lebih modern, dan sangat didominasi oleh sektor industri dan jasa (Todaro, 1991:68).

Tori Pembangunan Arthur Lewis
Teori pembangunan Athur Lewis pada dasarnya membahas pembangunan yang terjadi antara daerah kota dan desa, yang mengikutsertakan proses urbanisasi yang terjadi di antara kedua tempat tersebut. Teori ini juga membahas pola investasi yang terjadi di sektor modern dan juga sistem penetapan upah yang berlaku di sektor modern, yang pada akhirnya akan berpengaruh besar terhadap arus urbanisasi yang ada
.Mengawali teorinya, Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara
pada dasarnya akan terbagi menjadi dua, yaitu:

1.Perekonomian Tradisional
Dalam teorinya, Lewis mengasumsikan bahwa di daerah pedesaan dengan perekonomian tradisonalnya mengalami surplus tenaga kerja. Surplus tersebut erat kaitannya dengan basis utama perekonomian yang diasumsikan di perekonomian tradisional adalah bahwa tingkat hidup masyarakat berada pada kondisi subsisten akibat eprekonomian subsisten pula. Hal iniditandai dengan dengan nilai produk marginal (marginal product) dari tenaga kerja yang bernilai nol. Artinya fungsi produksi pada sektor pertanian telah sampai pada tingkat berlakunya hukum law of diminishing return. Kondisi ini menunjukkan bahwa penambahan input variabel, dalam hal ini tenaga kerja justru akan menurunkan total produksi yang ada. Di sisi lain, pengurangan jumnlah tenaga kerja yang dipekerjakan di sektor pertanian tidak akan mengurangi tingkat produksiyang ada, akibat proporsi input variabel tenaga kerja yang terlalu besar. Dalam perekonomian semacam ini, pangsa semua pekerja terhadap output yang dihasilkan adalah sama. Dengan demikian, nili upah riil ditentukan oleh nilai rata-rata produk marginal, dan bukan oleh produk marginal dari tenaga kerja itu sendiri.

2.Perekonomian industri
Perekonomian ini terletak di perkotaan, di mana sektor yang berperan penting adalah sektor industri. Ciri dari perekonomian ini adalah tingkat produktivitas yang tinggi dari input yang digunakan, termasuk tenaga kerja, bernilai positif. Dengan demikian, perekonomian perkotaan akan merupakan daerah tujuan bagi para pekerja yang berasal dari pedesaan, karena nilai produkmarginal dari tenaga kerja yang positif menunjukkan bahwa fungsi produksi belum berada pada tingkat optimal yang mungkin dicapai. Jika ini terjadi, berarti penambahan tenaga kerja pada sistem produksi yang ada akan meningkatkan output yang diproduksi. Dengan demikian, industri di perkotaaan masih menyediakan lapangan pekerjaan, dan ini akan berusaha dipenuhi oleh penduduk pedesaan dengan jalan berurbanisasi. Lewis mengasumsikan pula bahwa tingkat upah di kota 30% lebih tinggi daripada tingkat upah pedesaan, yang relatif bersifat subsisten, dan tingkat upah cenderung tetap, sehingga bentuk kurva penawaran tenaga kerja akan berbentuk horisontal. Perbedaan upah tersebut jelas akan melengkapi daya tarik untuk melakukan urbanisasi.

Perbedaan tenaga kerja dari desa ke kota dan pertumbuhan pekerja di sektor modern akan mampu meningkatkan ekspansi output yang dihasilkan di sektor modern tersebut. Percepatan ekspansi output sangat ditentukan oleh tingkat investasi di sektor industri dan akumulasi modal yang terjadi di sektor modern. Akumulasi modal yang nantinya digunakan untuk investasi hanya akan terjadi jika terdapat akses menginvestasikan kembali modal yang ada ke industri tersebut.

Revolusi Ketergantuan Internaional
Interaksi ekonomi internasional diindikasikan dengan faktor modal bergerak dari negeri yang produktivitas marginal faktor modalnya rendah ke negeri yang produktivitas marginalnya tinggi, atau diharapkan akan tinggi, untuk menuju keseimbangan yang secara keseluruhan tidak pernah terjadi. Andai kata pun terjadi maka pergerakan modal antar-negara, yaitu dari negara maju ke negara miskin, pergerakan ini hanya bertujuan untuk menyedot keuntungan dari negeri miskin. Keuntungan yang disedot ternyata merupakan bagian terbesar dari pertambahan pendapatan yang diakibatkan oleh adanya investasi asing sebagai akibat dari pergerakan faktor modal tersebut.

Naiknya pendapatan nasional di negeri miskin sebagai akibat dari adanya investasi asing, tidak dinikmati oleh sebagian besar rakyat di negeri besangkutan karena adanya kepincangan dalam distribusi pendapatan. Fihak-fihak yang menikmati keuntungan yang ditimbulkan oleh investasi asing tersebut hanya terdiri dari segelintir kecil anggota masyarakat dan keuntungan tersebut diperoleh dari hasil suatu proses eksploitasi.

Di samping efek ekonomi dalam pengertian menaikkan kesejahteraan sebagian besar rakyat di negeri miskin tidak terjadi dengan masuknya modal asing ke negeri miskin tersebut, masuknya modal asing ini diiringi juga dengan masuknya sistem kapitalistis dengan segala persoalan dan kegoncangan ekonomi dan sosial yang terkandung di dalamnya. Sistem ini menggeser kebiasaan sosial yang ada pada masyarakat di negeri miskin ini.

Orientasi kepada Asing
Kontrak transaksi berdasarkan faktor pasar mengganti dan mendesak hubungan paternalistik yang telah berlangsung sejak berabad-abad lamanya di negeri ini. Sistem ini menimbulkan pertumbuhan orientasi dalam ekonomi rakyat di negeri tersebut, yaitu dari orientasi pada kecukupan dan pemenuhan pasar dalam negeri kepada orientasi pada produksi untuk memenuhi pasar luar negeri. Orientasi baru ini sekaligus membuat sistem ekonomi rakyat di negeri-negeri ini dikaitkan secara langsung dengan sistem ekonomi kapitalistis di luar negeri dengan berbagai gejolaknya.

Sebenarnya penggantian sistem hubungan paternalistik (sebagai suatu sistem masyarakat feodal atau semi-feodal) dengan sistem kapitalistis yang didasarkan pada rasionalitas pasar dapat merupakan langkah utama dalam mentransformasi masyarakat ke arah kemajuan dan peradaban yang tinggi seperti yang dialami di Eropa Barat. Namun yang terjadi adalah bahwa penerapan nilai-nilai komersial dalam tata hubungan sosial dalam masyarakat feodal atau semi-feodal ini justru telah memperhebat proses eksploitasi terhadap golongan lemah, yaitu massa rakyat.

Proses eksploitasi yang dilakukan oleh penguasa feodal dalam sistem paternalistik terhadap rakyat dipercayai masih tidak sekejam proses eksploitasi yang dilakukan oleh para pemilik modal dalam kerangka sistem kapitalistis. Proses eksploitasi dalam sistem kapitalistis ini diiringi pula dengan proses korupsi dan ketidakadilan dalam setiap tingkat struktur pemerintahan yang mengabdi pada kepentingan pemilik modal dari sistem kapitalis internasional.

Pola Ekonomi Prekonomin Ekonomi Glaobal
1.Teori Unlimited Supplies of Labour merupakan teori tenaga kerja klasik yang disusun kembali oleh Arthur Lewis. Analisisnya tidak terlepas dari tradisi klasik. Tradisi klasik dalam hal ini adalah dalam mencapai pertumbuhan dengan akumulasi modal akan mengubah distribusi pendapatan dalam jangka panjang (distribusi personal), tetapi terdapat jumlah tenaga kerja berlimpah dengan tingkat upah subsisten. Sistem ekonomi ini semula terdapat di Eropa masa klasik tetapi sektor subsisten mengecil, kemudian keadaan itu dijumpai secara luas di negeri-negeri Asia. Sektor kapitaslis yang modern mempunyai tenaga kerja terampil, dengan tingkat upah tinggi, produktivitas tinggi, sedangkan di pihak lain tersebar luas sektor subsisten dengan produktivitas yang sangat rendah, teknologi tradisional dengan tingkat upah yang rendah. Pada sektor subsisten terjadi kelebihan tenaga kerja. Tingkat upah subsisten itu ditentukan dengan kebutuhan minimum atau tingkat produktivitas rata-rata pada sektor pertanian.

2.Investasi yang dilakukan di sektor kapitalis secara umum tidak meningkatkan upah, namun lebih berarti dalam pembentukan laba dan laba ini sangat kecil yang diinvestasi kembali karena penanam modal mempunyai kepentingan di luar negeri, maka dapat terjadi ekspor modal. Ekspor modal tentunya mengurangi pembentukan modal di dalam negeri. Bahkan kebutuhan dalam negeri sebagian berasal dari impor yang relatif mahal. Keuntungan komparatif dapat dimiliki negeri ini, tetapi karena adanya proteksi maka persaingan dapat kalah dari negeri-negeri lain yang relatif mempunyai pasar bebas.

Teori Pembangunan Klasik
Teori Klasik, Aliran Pembangunan yang Bertumpu pada Akumulasi Modal:
a.Muncul pada abad 18, dengan sedang berlangsung Revolusi Industri di Inggris.
b.Teori Klasik, bahwa peranan modal penting artinya bagi pembangunan ekonomi. Pembangunan modal tersebut ditekankan untuk meningkatkan penawaran setinggi-tingginya. Penawaran yang tinggi akan diikuti oleh permintaan yang tinggi pula.
c.Kenyataannya, penawaran yang tinggi tidak mesti diikuti oleh permintaan yang tinggi pula sehingga akibatnya timbul:
•Over produksi,
•Pengangguran,
•deflasi.

Asumsi Teori Klasik:
a.Perekonomian dalam keadaan full employment,
b.Perekonomian dalam dua sektor (konsumen, produsen),
c.Tidak ada campur tangan pemerintah,
d.Pembangunan ekonomi tergantung dari mekanisme pasar.

Tokoh Teori Klasik:
a.David Ricardo, Adam Smith.
b.John Stuart Mill, Robert Malthus.
Teori Keynes
a.Teorinya bertitik tolak dari teori klasik yang gagal terutama dalam sektor pengangguran.
b.Teori Keynes, pentingnya peranan modal dalam pertumbuhan perekonomian dimana penggunaan modal itu ditekankan pada permintaan yang tinggi, diharapkan pada akhirnya dapat diikuti oleh penawaran yang tinggi pula.
c.Kenyataannya, hal ini tidak berhasil sehingga akibatnya timbul:
•inflasi,
depresi.

Asumsi Teori Keynes:
a.Perekonomian dapat dalam keadaan full employment maupun non full employment,
b.Perekonomian dalam tiga sektor (konsumen, produsen, pemerintah),
c.Ada campur tangan pemerintah,
d.Perekonomian dianalisis dalam jangka pendek.

Teori Pembangunan, terdiri dari 5 aliran teori pembangunan:

1.Teori model pertumbuhan bertahap linear (linear stages of growth models),
2.Teori dan pola-pola perubahan struktural (the structural change theories and pattern),
3.Revolusi ketergantungan internasional (international dependence revolution),
4.Kontra revolusi pasar bebas neo klasik (neoclassical free market counterrevolution),
5.Teori pertumbuhan ekonomi baru atau endogen (new or endogenous theory of economic growth)

Paradigma Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development).
Proses kristalisai paradigma pembangunan berkelanjutan dimulai dari tahap perdebatan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas lingkungan pada tahun 1960-an hingga tahun 1970-an. Kemudian pada tahun 1980-an hingga awal tahun 1990-an mulai dikenal konsep dan argumen pentingnya pembangunan berkelanjutan.

World Commision for Environmental and Development (WECD) mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang”. Esensi pembangunan berkelanjutan adalah “perbaikan mutu kehidupan manusia dengan tetap berusaha tidak melampaui kemampuan ekosistem yang mendukung kehidupannya. Sedangkan ekonomi berkelanjutan merupakan buah dari pembangunan berkelanjutan, yaitu “sistem ekonomi yang tetap memelihara basis sumberdaya alam yang digunakan dengan terus mengadakan penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan-penyempurnaan pengetahuan, organisasi, efisiensi teknis dan kebijaksanaan (IUCN, UNEP, WWF, 1993).

Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga pendekatan, yaitu pendekatan ekonomi, ekologi, dan sosial. Pendekatan ekonomi menekankan pada perolehan pendapatan yang berbasis pada penggunaan sumberdaya yang efisien. Pendekatan ekologi menekankan pada pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati yang akan memberikan kontribusi pada keseimbangan ekosistem dunia. Sedangkan pendekatan sosial menekankan pada pemeliharaan kestabilan sistem sosial budaya meliputi penghindaran konflik keadilan baik dalam satu generasi maupun antar generasi (Munasinghe, 1993).

Sumbr Bacaan :
Todaro, Michael P. 2000, pembangunan Ekonomi Dunia Ketiga PT. Gelora Aksara Pratama Ritonga, dkk., Pelajaran Ekonomi, Jakarta, Erlangga
Todaro, Michael P. 1998. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Reisman, David A. Ekonomi. Teori Campuran tersebut (Teori ekonomi campuran). Pickering & Chatto Ltd. ISBN 1-85196-214-X . Pickering & Chatto
Koentjaraningrat, 2000, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta
Subandi. 2008. Sistem Ekonomi Indonesia. Bandung: Alfabeta
Baca Selengkapnya di sini..

Pram Dan Yang Lain-lain

“Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa (pemerintah) dengan perlawanan (koreksi)”. (Prammudya Ananta Toer)


TOKOH legendaris Prammudya Ananta Toer (Pram) banyak menginspirasi dan menjadi penyemangat pergerakan “pemuda” Nasional. Pram memang selalu gigih menghadapi teror dan ancaman terhadap dirinya. Sikap Pram yang tidak mau kompromi menjadikan Ia tumbuh sebagai orang visioner. Di era pemerintahan belanda (masa penjajahan) Pram di kucilkan, karena dianggap sebagai pembangkang. Kemudian pada saat kemerdekaan, di era Soekarno Pram dicekal dan sebagian karya-nya dibakar oleh pemerintah.

Pram dihujat. Dia dituduh PKI, yang harus dimusnakan dari negri-nya sendiri. Di tengah tuduhan dan sangkaan yang mendsikriditkan, Pram tetap konsisten menyuarakan suara rakyat yang tidak bersuara. Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Suharto tidak juga memberi angin segar bagi Pram. Pram tetaplah Pram. Penguasa tetap tidak memberi ruang, Pram dijebeloskan ke penjara di Pulau buruh, tanpa proses hukum. Pram dianggap membuat makar terhadap pemerintah. Ya pemerintah dengan alat kekuasaanya secara membabi buta menggilas rakyat yang kritis seperti Pram.

Meletusnya revormasi pada tahun 1989 perlahan namun pasti hak-hak Pram mulai diberi ruang. Setelah tumbang-nya rezim diktator Suharto Pram baru mendapkan Visa (Baca Catatan Pinggir Goenawan Muhammad), kemudian ia terbang ke Negeri Paman Sam (AS). Di Universiti Newyork Pram memberi kuliah tentang sejarah pergerakan bangsanya. Ia disambut dengan gagab gembita oleh masyarakat A.S disaat negeri-nya sendiri tak bisa memberi rasa aman dan nyaman.

Baru pada era pemerintahan Gusdur Pram mendapatkan hak dan kebebasannya sebagai rakyat yang merdeka. Dulu saat pencekalan Media ragu mendekati Pram, tapi setelah era revormasi wartawan berbondong-bondong untuk mengutip pernyataan dan pendapat-nya tentang negerinya. Di jaman Gusdur atau setelah penggulingan kekuasaan suharto, buku-buku Pram mulai beredar terbuka. Sebelum itu jangan coba-coba.

Pram adalah Pram, yang tak mungkin disamai oleh anak bangsa di negeri ini. Ya Pram bukan cetak biru, Pram cukup memotret kisah kelam bangsa di masa lalu. Generasi digital saat ini dapat merenungkan kisah bangsanya di waktu silam lewat karya-nya. Dan seluruh pemimpin hendak-nya bisa mengaca pada masa lalu. Pemenjaraan dan pengkerangkengan fisik tidak dapat memenjarakan ide seseorang. Rezim boleh saja berutal dan kaku pada rakyat-nya, pemikiran dan kemanusian akan tetap menjadi penyaksi yang tak mudah ditundukkan apalagi terkerdilkan.

Aku tak punyak banyak referensi untuk mengulas kehidupan “Pram” tokoh besar yang tak diakui oleh negri-ini. Dari beberapa buku yang ia persembahkan pada bangsa-nya aku sedikit membaca. Seperti dikatakan tadi, Pram tak mungkin kita samai. Pram akan berdiri dengan keadaan bangsa saat itu. Tapi cara pandang dan produktifitas Pram bisa kita pelajari. Belajar tidak harus sama, bisa lebih bahkan lebih.

Jika Pram pada masa-nya banyak menceritakan kebobrokan pengadilan dan perilaku elit yang tak pernah mau akrab dengan rakyat, maka hal semacam itu pun dapat ita lihat saat ini, cuman cara dan bahasanya yang diperhalus. Demokrasi tak juga meniadakan kelaliman penguasa dan pengusaha. Kerakusan dan ketamakan tetap menjadi bumerang dalam setiap keadaan. Kisah-kisah dan petuah dalam Tetra Logi : Bumi Manusia, Rumah Kaca, Anak Semua Bangsa memotret kehidupan reil masa lalu yang terpanjar di saat ini. Maklumat dan bahasa yang menggugah membuat kita sadar bahwa kakuasaan itu tak pernah sungguh-sungguh melayani rakyat.

Kehidupan saat ini tak lebih baik dari pen-dahulu-kita. Di negeri ini, rakyat tetap jadi bulan-bulan politik. Hukum bisa dibeli, kita tentu masih ingat bangaimana Artalita menyuap hakim Urip Trigunawan. Kita juga msih ingat penjara yang di tempati Arta Lita yang super mengah. Kita ingat bagaimana Gayus H. P Tambunan memperdaya penegak hukum. Dalam sejarah tidak ada tahanan yang dapat keliaran apalagi sampai berselancar ke luar Negeri, kecuali Gayus yang tertangkap kamera wartawan saat ada di Bali. Dan ketika jalan-jalan keluar negeri Singapur, Malasia dll, “soping” bersama istri. Ya kasus semacam itu memang melukai hati kita sebagai rakyat. Namun rakyat juga tak bisa berbuat apa, Demo, Unjuk rasa atau apa di negri ini sudah kebal hal-hal semacam itu.

“Patah satu tumbuh seribu” pepatah ini pas untuk kita sandingkan dengan keberadaan negeri ita yang ditimpa masalah silih berganti. Kekerasan atas nama agama di Cykesik dan Pandagelan Banten yang berujung pada kematian. Teror bom buku yang ditujukan kepada politis Demokrat Ulil Abshor Abdala. Kasus yang tak kalah membaut meris, Melinda Die, Perempuan dengan tubuh seksi ini, berhasil menipu puluhan nasabah. Kini beberapa awak kapal yang di Rompak oleh bajak laut somalia. Aduh sungguh kening ini jadi panas bila mengikutis parade dan kisruh negeri ini.

Masih menurut Pram, Elit itu suka-nya pada yang fulgar dan erotis. Ya bukankah sejarah Kerajaan dahulu mempersembahkan upeti, wanita merupakan hal yang biasa. Wajar bila dalam kode etik DPR disebutkan “DPR tidak boleh ke tempat perjudian ....... prostitusi......”, karena mereka senang hal-hal yang demikian. Saat sidang Pari purna kemarin Elit dari PKS yang berbasis islam ketangkap lihat Filem Porno. Padahal saat sidang pari purna membahas hal yang sangat urgen ya itu soal pembangunan Gedung DPR baru yang menelan anggran Triliunan Rupiah.

Saya jadi ingat posting teman di FB “Jika pada saat di dalam Gedung (sidang paripurna) anggota DPR asyik nonton Vidio (Porno), terus di luar Gedung (sidang) para anggota ngapain-yaaaa” .. jawabnya jadi ngak enak.... “kalau di luar Gedung selesai sidang mereka asyik Buat Vidio sendiri”. Ya bukankah sudah banyak anggota Dewan yang membuat Vidio Porno.

Ya dewan terhormat, yang tidak terhormat hanya mementingkan perut sendiri. DPR tidak pernah melihat bagaimana rakyat yang masih bercibaku dengan penderitaan dan kelaparan. Apa yang mereka lakukan selain bersitengang menyoal kebijakan yang tak bijak. Merebut simpati rakyat. Rakyat tak akan simpati kepada orang yang tak punya empati. Orang-orang DPR itu tak punya empati pada rakyat hingga ngotot membangun gedung baru. Jika keadaan seperti ini mungkin kita harus kembali menyoal bangsa ini, merenungkan kata-kata Pram “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa (pemerintah) dengan perlawanan (koreksi)”.
Baca Selengkapnya di sini..

Senin, 11 April 2011

Meletakkan Pembangunan Madura pada Akar Rumput

Jembatan Suramadu, mempertegas pada kita “bangsa Indonesia” juga Dunia bahwa Madura mempunyai kekayaan alam yang bisa diperdayakan, untuk memberdayakan manusia Madura dan Indonesia secara umum bahkan “dunia”.

Jembatan Suramadu adalah simbol Madura dan kemegahan Indonesia. Jembatan Suramadu sebagai lintas selat Madura menghubungkan Pulau Jawa di Surabaya dengan Pulau Madura di Bangkalan. Panjang Jembatan 5.438 meter dan lebar 30 meter, merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Tujuan dibangunnya Jembatan Suramadu untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan rakyat.

Tujuan pembangunan Jembatan Suramadu sungguh amat mulia, dan membawa angin segar bagi kehidupan rakyat yang ada di Pulau Madura. Selama ini Madura memang terkesan dikesampingkan oleh pemerintah. Pembangunan dibidang infrastruktur di Madura sangat jauh tertinggal dibanding dengan Daerah-daerah lain. Infrakstruktur jalan yang menjadi akses penting bagi masyarakat sangat minim.

Pemerintah Daerah sebagai garda terdepan dalam pemetaan pembangunan pun terkesan lamban. Kepentingan politik pragmatis masih mendominasi dalam setiap pengambilan kebijakan. Sementara kesejahteraan yang harusnya menjadi prioritas menjadi bulan-bulan politik. Wakil rakyat sebagai pendorong pun hanya berkutat dengan komoditi kelompok dan golongan. Lagi-lagi rakyat jadi korban. Pasca dibangunannya Jembatan Suramadu, Madura benar-benar menjadi perhatian dalam dan Luar Negeri.

Seluruh komponen masyarakat di Madura harus bersatu dan merumuskan visi dan misi-nya kedepan. Keterlibatan seluruh komponen masyarakat amat menentukan keberlangsungan pembangunan di kawasan Madura tanpa harus menghilangkan karakter keunikan yang selama ini mengakar di kalangan masyarakat Madura. Pembangunan dan pengembangan Madura tidak boleh mengenyampingkan kepentingan rakyat.

Oleh sebab itu pemetaan dan penentuan visi dan misi pembangunan Madura harus mengakomodasi dan mengutamakan kepentingan rakyat Madura bukan investor semata. Keterlibatan orang Madura dalam pembangunan dan pengembangan sangatlah urgen karena sosio kultur Madura sangat menjunjung nilai-nilai regional “religi”.

Madura Yang Dicela
Stigma miring terhadap orang Madura : orang Madura kasar, keras. Lingkungannya gersang ddl, stigma semacam itu sering terlontar dari orang di luar Madura. Madura yang dulu dicela dan dijauhi kini perlahan mulai diakrapi, setidaknya bagi orang yang berkepentingan “inves” dalam jangka panjang di Madura. Berbagai penelitian dilakukan. Saya malah tertarik dengan liputan TIME pada tahun 2000 yang mengangkat keunikan Madura secara khusus ().

Ada satu pertanyaan yang sangat mendasar dengan dibangunannya Jembantan Suramadu. Mengapa Madura yang selama ini distikmakan sebagai Daerah, miskin, dan gersang justru menjadi prioritas pembangunan mega proyek “Jembatan Suramadu” ?. Kemudian apakah pembangunan Jembatan akan mampu mengangkat kehidupan rakyat Madura dari kemiskinan?.

Sebagai orang Madura saya berharap cita-cita penmbangunan Jambatan Suramadu benar terwujud dan tidak membuka ketimpangan baru antara pemodal dengan penduduk asli Madura.

Jembatan Suramadu tidak hanya hanya untuk mempercepat lalulintas Madura-Surabaya, kemudian orang-orang Madura berbondong-bondong belanja ke sualayan besar di Surabaya. Penduduk Madura harus mampu mengangkat komoditi unggulan, yang bisa mengangkat kehidupan orang Madura lebih baik. Pemerintah dengan regulasinya menjadi kunci arah masa depan orang-orang yang ada di Madura.

Mak tak mau Jembatan Suramadu “pembangunan modern” telah mengilhami anak bangsa di tanah Air. Kini Daerah-daerah lain juga menggagas pembangunan yang sama. Madura, Bangkalan, Sampang dan Sumenep, ke-empat sendi Madura kini mulai bergegas menentang zaman. Anak bangsa yang bertautan mengintip mendaki.

Madura yang dulu disegani karena stigma-nya (keras-kasa) kini tidak lagi, orang-orang di luar Madura kini datang berbondong-bondong sekedar tahu Madura “Jembatan Suramadu”. Para keluarga dan kerabat menyediakan waktu khusus untuk sekedar mengetahui Jembatan Suramadu. Ya Madura yang disinonimkan keras dan kasar kini mulai didekati. Orang pada ingin tahu, para pembisnis besar berburu ingin menanamkan investasi.

Madura bagai gula di mata orang berduit. Madura adalah mahligai bagi yang berkpentingan di masa depan. Tapi orang Madura yang teruji oleh zaman, tentu tak ingin hanya menjadi penonton apa lagi budak di bumi sendiri. Orang Madura harus berperan aktif dalam dibidang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat jangka panjang. Orang Madura harus mampu mengimbangi kemajuan dalam pembangunan Madura ke depan. Orang Madura orang bisa menentukan masa depannya sendiri bukan orang diluar Madura.

Orang Madura tidak boleh diam disaat orang-orang dari luar Madura berebut investasi. Pemerintah sebagai pengendali kebijakan harus mengedepankan kepentingan orang Madura ketimbang investor. Segala bentuk kebijakan yang berkenaan pengembangan Madura harus dikontrol oleh masyarakat khususnya orang Madura.

Masyarakat Madura yang dikenal ulet dan tegas, harus menjadi modal penting dalam menata pengembangan dan pembangunan Madura ke depan. Jika masyarakat asli Madura tidak dilibatkan maka jangan harap pembangunan Madura berjalan lancar. Keberhasilan pembangunan Jembatan Suramadu tidak akan berdampak apa pun “mempercepat jarak tempuh” bagi orang Madura, apa bila pemerintah mengenyampingkan peran dari penduduk Madura.
Baca Selengkapnya di sini..

Jumat, 08 April 2011

SURAT UNTUK ANAK-KU KELAK

Setelah kalian membaca dan mengetahui surat ini, mungkin aku sudah tidak di dunia lagi. Anak-ku, kamu akan melihat Ijasah Ayah sebagaimana ada-nya. Di dalam Ijasah nama Ayah dan tanggal lahir. Sutaman, Idumham 09 Juni 1984. Sedang orang tua ayah di sana tercatat atas nama Ta’am.

Anak-cucuku yang yang berbahagai, kalian akan melihat hal itu sebagai satu kebenaran yang saklrek karena itu tercatat di dalam ijasah ditulis oleh oragng yang berpendidikan yang kecil kemungkinan akan salah. Tapi saat ini dan perlu kalian ketahui kelak bahwa nama ayah atau kakek, atau buyut-mu itu tidak seperti yang tertera sebagaimana ada di lembar kertas itu.

Nama ayah memang Sutaman, Idumham tapi tanggal lahir itu bukan seperti di ijasah. Kemudian nama orang tua di ijasah tercatat atas nama Ma’at, padahal dalam eluraga tidak ada nama Ma’at. Kalau kalian tanya apakah dulu ayah dari ayahmu Ma’at. Kalian tidak akan menemukan petunjuk, atau orang tidak akan mengenal nama itu. Nama ayah-dari ayahmu ini adalah Mas’ud (orang kampung memanggilnya Tu’sam / Tu’am).

Kesalahan atas pencatatan nama ayah terjadi terjadi ketika aku masih duduk di bangku SD. pada saat itu Guru menanyakan siapa nama ayah, aku tidak menjawab hanya teman-teman dan kakak kelas yang saling bersahutan menjawab pertanyaan guru. Aku sendiri tidak mengerti mengapa guru menayakan nama ayah. Guru tidak pernah menayakan KTP atau sekedar memanggil orang tua untuk mengklarifikasi nama ayah-mu ini.

Kesalahan administrasi yang dilakukan oleh kalangan terdidik tidak terjadi hanya sekali atau pada saat ayah masih duduk di SD. Kelak kalian akan menemukan hal serupa dengan kasus berbeda. Bagaimana kesalahan itu bisa terjadi ? nak dinia ini apa pun bisa terjadi, secanggih dan semaju apa pun teknologi kesalahan itu tetap akan terjadi.

Dulu tidak ada dokter ahli bedah dan tidak ada korban meninggal gagara-gara dibedah. Tapi sekarang setiap hari dilain waktu dan tempat kesalahan dari kecanggihan alat modern itu sering berakhir pada maut. Untung jika korban yang dibedah langsung mati, berarti dokter membantu mempercepat untuk mengahiri penderitaan secara keduniawian. Tapi banyak juga yang tergeletrak lumpuh karena kesalahan serupa. Dokter tidak pernah mengaku salah atas tindakannya, mereka selalu punya alasan atas tindakan medis yang dilakukan.

Kasus kesalahan pencatatan nama dan tanggal lahir di iajasah, kurang lebih seperti itu. Jika kita mau menuntut mereka yang berkedudukan lebih tinggi, akan banyak alasan dan mereka menganggab tindakan-nya sesuai prosedur. Tak tahu bahwa prosedur yang mereka jalankan, mereupakan prosedur salah, merugikan orang. Ayah adalah korban dari kecorobohan prosedur.

Nak ... orang miskin itu selalu tidak punya ruang di negri ini. Itu terjadi sejak masa penjajahan sampai era sekarang. Sejak masa otoriter sampai demokrasi saat ini. Tak pernah ada perubahan hidup yang berarti yang bisa dinikmati dan dirasakan oleh orang miskin. Orang miskin selalu termarginalkan dari kekuasan dan hak-hak hidup layak. Penyiksaan terhadap orang miskin masih terjadi. Jika dulu di era penjajahan dituntut kerja rodi. Di zaman modern hal semacam itu masih terjadi. Lihat para buruh, mereka bekerja sampai larut malam, lupa waktu hanya digaji berapa, Rp. 500-750.00, itu upah di era modern sekarang.

Kamu tahu uang sebesar itu apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, biaya pendidikan juga kesehatan ??.. uang sebesar itu hanya bisa dibelikan dua setel baju, lalu kapan orang miskin bisa hidup bahagia sebagaimana orang lain ?. pertanyaan yang tak pernah terjawab zamannya. Nak orang miskin selalu menderita ini adalah fatka sejak dulu sampai saat ini.

Pemerintah menggalakkan dan mendorong agar tercipta lapangan kerja. Tapi saat pedang kaki lima menjajahkan berjualan di pinnggir jalan, mereka diusir mereka dikebuki. Orang miskin dilarang usaha. Apa yang keliru, mereka berusaha untuk sekedar mendapatan makan atau sekedar mendapat hidup layak..??. Mungkin PKL itu tidak punyak banyak uang untuk menyogok Satpol PP itu. Mereka pun harsu terusir dan diusir bak penjahat, itu terjadi di negri yang konon menganut asas Demokrasi. Ya konon para satpol PP suka disogog. Begitulah nak hidup dijaman dulu-juga sekarang.

Nak ..., ayah terpaksa menceritakan ini supaya kamu mengerti. Kelak bila kamu dewasa sudah tahu hitam putih hidup. Sudah mengerti apa itu arti kemanusian, sudah paham menderita itu tidak baik. Maka berbuatlah adil pada dirimu. Perlakukan orang lain sebagaimana memperlakukan diri kamu. Belajarlah dari perjuangan orang-orang bawah. Jangan kam mengaca pada elit yang suka mengadu domba.

Hidup memang harus seimbang. Orang miskin tidak mungkin dihapuskan dari muka bumi ini, karena itu sudah kodrat dan menjadi warna kehidupan sesuai kehendak yang Tuhan ciptakan. Tapi bukan berarti kita bisa sewenang-wenang terhadap orang miskin. Bukan berarti kita seenaknya merampas hak dan kebebasan mereka.
Baca Selengkapnya di sini..