"Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. menulis adalah bekerja untuk keabadian" (Pramoedya Ananta Toer)

Kamis, 07 April 2011

MENYOAL KISAH POTTRE KONENG

Di ujung paling timur Pulau Madura ada sebuah Kota Surga (Sumenep), kota ini masih ranum, sejarah bermula, juga bergegas. Kota Surga, Kota para Raja. Ada 35 Raja pernah pemimpin Kota ini. Kini Kota Surga tak lagi dipimpin oleh Raja atau adi kaulo, Kota Surga sekarang mengalami perubahan “berevolusi”, 14 Bupati pernah mengisi dan menggantikan kedudukan-Raja. Kota Surga sebagaimana Kota-kota lain.

Kota adalah paradoks jaman, Kota merupakan anak peradaban. Kota selalu bergegas mengimbangi zaman. Di Kota Surga berdiri kisah menggelitik, juga mistis. Yang mistis selalu tak terjangkau, namun ada-nya kita terima, Kisah Pottre Koneng sebagaimana kisah Wanita suci, taat ibadah, “Maryam”. Ya Kisah mistis ini mirip dengan kisah Maryam yang memiliki anak Isa. Di dalam Al-Kitab Maryam digambarkan sosok wanita suci, taat beragama, dicintai Tuhan, kemudian Tuhan berkenan menitipkan Isa dalam rahim-nya. Kisah Maryam memang paradoks dengan keadaan dan kecanggihan tegnologi, namun itu kebenaran. Kebenaran yang wajib diyakini. Bagaimana dengan kisah Pottre Koneng ..?

Raden Ayu Pottre Koneng, Wanita bangsawan ini, memiliki kisah unik, menggelitik, “mistis” hampir mirip dengan kisah Maryam. Pada satu waktu Raden Ayu Pottre Koneng pamit ber-tapa kepada kedua orang tuanya, keinginannya direstui oleh keluarga ayah-ibunda-nya. Kemudian Pottre Koning pergi ke goa Payudan “bertapa”. Selama dalam pertapaan Pottre Koneng tidak makan juga tidak minum. Satu saat dia tertidur dan bermimpi didatangi seorang pemuda bernama Adipoday. Pottre Koneng adalah wanita petapa, Suci, taat beragama , Ia mencintai Tuhan sebagaimana Maryam. Pottre Koneng hamil dan dikaruniai anak Jokotole dan peristiwa terulang pada anak kedua Jokowedi.

Sejarah bagai air petuah, tertuang dalam gelas yang kosong siap saji. Sejarah mengalir melampaui zaman. Kita tak pernah bertanya “menggugat” apakah sejarah itu, benar dan mengandung kebenaran. Generasi tak pernah menyoal hal itu, mereka bagai gelas pasif, kisah diisikan, dan tertuang dalam kehidupan selanjutnya. Kekuasaan memang mudah menciptakan sejarah, karena ia dapat membentuk opini, dan bisa mempengaruhi publik. Tapi kita lupa satu hal, bahwa yang mistis itu tidak selalu benar apa lagi mengandung kebenaran.

Jika kisah Pottre Koneng benar atas kehendak suci “bukan perselingkuhan”, mengapa kandungan itu disembunyikan dan setelah lahir dibuang. Satu pertanyaan manusiawi karena Pottre Koneng dan Adipoday juga manusia. Kita sebagai manusia patut mempertanyakan kebenaran kisah itu. Tentu kita dan anak cucu terus dicekoki kisah yang tak diakal itu. Memang pertanyaan dan jawaban tidak bisa mengembalikan peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Penegasan serta permurnian kisah Pottre Koneng bersama Adipoday perlu diluruskan mengingat kedua-nya merupakan orang yang pernah berpengaruh dijaman-nya juga keturunannya. Jika kekuasaan dan pengaruh yang melekat pada kedua-nya dijadikan taming “memanipulasi sejarah-dan kebenaran sejarah”, tentu yang rugi adalah anak cucu kita. Apakah kita akan menerima kebohongan sejarah. Apakah anak-cucu kita akan dibiarkan menelan kisah yang jelas tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Kisah Pottre Koneng hampir mirip dengan kisah Maryam. Jika kisah Pottre Koneng dibenarkan berarti hal itu melawan kebenaran Firman Tuhan. Jika kehamilan Pottre Koneng terjadi dalam mimpi toh Jokatole dan Jokowedi kedua-nya ada dalam alam nyata. Jokatole dan Jokowedi berjasa pada bangsa ini. Saya curiga potrre Koneng memang berseingkuh dan melakukan hubungan gelap dengan Adipoday.

Kecurigaan saya bukan tanpa alasan pertama, saat Pottre Koneng hamil dia kabur dari kerajaan, kedua, saat melahirkan anak-nya dibuang. Ketiga peristiwa itu terulang sampai kedua kali. Kenapa Pottre Koneng lari dari keraton, kenapa anaknya dibuang kenapa itu terjadi sampai dua kali. Kita tak mungkin mendapat jawaban pasti karena pelaku sejarah itu telah tiada. Namun kita juga tak hendak fakum dan menerima begitu saja. Selama ini kita memang senang pada yang baik-baik. Namun kita tak sadar bahwa kebaikan itu tak bisa berdiri sendiri.

Ya cerita Pottre koneng-adipoday dikemas dalam kebaikan dan kesucian. Namun ada yang janggal dalam hal yang baik itu, ada yang ganjil dalam kemasan kisah Pottre Koneng. Keganjian dari kisah Pottre Koneng ketika ia kabur (diusir dari kerajaan), membuang darah dagingnya sendiri. Jika pada waktu itu ada komnas HAM anak tentu Pottre Koneng akan dituntut dan kena hukuman karena telah membuang dan menelantarkan anaknya.

Kecenderungan kita pada yang baik melupakan kodrat ketidak baikan itu sendiri. Kisah Pottre Koneng adalah cermin ke-tidak-baik-an yang dikemas dalam kemistikan yang baik. Baik itu bukan satu yang statis, baik adalah satu yang dinamis tapi juga realistis. Mungkinkah mimpi atau bermimpi bisa menyatukan dua gen yang berbeda. Mungkinkah sepisis (seperma) dapat dikirim atau terbang dan dengan sendirinya. Bagaimana hukum logis dan dunia modern menjawab hal itu.

Barangkali kita tak suka mendengar Raja Sumenep ke 13 adalah buah perselingkuhan yang tidak direstui “haram”, apa sikap kita jika kita tahu bahwa Adipoday (Raja Sumenep ke 12) adalah seorang yang pandai berselingkuh. Tentu kemanusian kita akan bangkit, jika peristiwa itu terjadi hari ini pastilah rakyat akan berontak. Namun kita juga tak pernah tahu kebiasaan para Raja, kita juga tak pernah mengerti perilaku daleman yang rigit, konon juga suka berfoya-foya. Bukankah berfoya-foya merupakan kebiasaan buruk dari para raja juga penjajah.

Wallahua’lambissowaff
Baca Selengkapnya di sini..

Rabu, 06 April 2011

KISAH CINTA NUTANIMRA DAN INUMSA (Satu Kesaksian : Kisah nyata)

Cinta tak ditentukan lokasi, kondisi geografis dan batas usia. Cinta juga tidak bisa terhalang oleh kelompok/kalangan, adat, dan suku. Hal ini pula yang dialami Inumsa dan Nutanimra teman saya di kampung. Inumsa pada saat itu berusia sekitar 17 tahun, sedangkan Nutanimra berusia 16 tahun keduanya masih masa puber. Usia puber merupakan peralihan juga pergolakan batin , transisi menuju pematangan sikap dan keinginan. Pada usia puber perasaan cinta sering melanda seseorang termasuk Inumsa dan Nutanimra teman saya.

Inumsa tinggal di sebuah Dusun (Dsn) Paramaan. Paramaan tempat tinggal Inumsa pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) disebut Dsn Gunung Paramaan, Masuk Desa Gapura Barat III, Kec. Gapura, Kab. Sumenep. Paramaan terletak 2 km utara Pasar atau Kantor Kecamatan Gapura. Paramaan termasuk daerah yang terisolir. Pada tahun 2001 tidak ada jalan beraspal sebagai akses masyarakat menuju Pasar atau Kecamatan. Akses satu-satu-nya menuju Kecamtan atau Pasar masih berupa jalan setapak. Tak ada aspal atau jembatan seperti sekarang.

Pembangunan infra struktur Dsn Paramaan sangat tertinggal kalau dibandingkan dengan Dusun yang ada di bawah struktur Desa Gapura Barat III. Pembangunan Desa khususnya ke-utra kecamatan memang terkesan dianak tirikan. Padahal masyarakat utara kecamatan, khususya Dsn Paramaan dusun-dusun taat membayar pajak sebagaimana dusun yang lain. Tapi mengapa pembangunan di Dsn Paramaan tidak mendapat prioritas ? pertanyaan ini tidak ada yang bisa menjawab secara pasti. Namun kalau dilihat dari tingkat pendidikan, memang Dsn Paramaan tertinggal dibanding dengan masyarakat Dsn lain, khususnya masyarakat sekitar kecamatan ke selatan.

Pada masa pemerintahan kepala Desa (Rasidi) 2009 ini, pembangunan infrastruktur di Dsn Paramaan baru mendapat prioritas. Masyarakat kini dapat menikmati jalan beraspal dan jembatan baru. Namun ada beberapa jalan yang masih mentah batu-batu ditata sebagaimana ada-nya tanpa ada proses penghalusan. Jalan baru ini juga belum diaspal.

Namun jalan tak bisa menghalangi hak dan perasaan “cinta” sang pengguna. Cinta tak harus hidup di jalan ber-aspal atau bertengger pada jembatan sekala Eropa. Jalan hanya alat yang mempermudah akses secara fisik tidak pada gejolak hati remaja di Dsn. Paramaan. Dsn. Paramaan memang tertutup dan bahkan bisa dikatakan sebagai dusun puritan yang ke-seharian-nya hanya dicekoki oleh dalil-dalil gama dan kitab kelasik. Namun perasaan cinta tidak bisa dikunkung oleh budaya dan adat sekalipun..... cinta bagai api akan merebak dan membakar setiap jiwa.

Sikap orang tua yang menutupi kisah masalalu-nya seakan ingin menyusun perkembangan anak dalam manuskrip kemauan ayah dan ibu, anak diperlakukan seperti robot. Namun si anak bukanlah robot. Anak juga bakal ibu atau ayah kelak, yang tidak bisa menutupi kehendak pada masanya. Anak belajar cinta dan kasih sayang dari orang tuanya. Cinta diajarkan pada anak oleh ibu-ayah semenjak di dalam kandungan. Dan perkembangan usia mengharuskan si anak menerapkan pelajaran cinta yang diperoleh “masa perkembangan, menuju usia matang”.

Pada waktu-nya anak pun akan belajar mencintai. Mencintai keluarga sebagaimana ia menuruti kehendak orang tuan. Mencintai sahabat, sebagaimana ia beradaptasi dengan teman sepermainanya. Mencintai lingkungan sebagaimana anak belajar menanam pohon bunga di pengarangan. Kemudian usia perkembangan mengharuskan ia menyatakan kesukaan ”cinta” pada lawan jenis. Cinta pada lawan jenis adalah kodrat. Sebagaimana Siti Zulaikha jatuh cinta kepada Nabi Yusuf. Begitupun gelora cinta yang dialami oleh sepasang pemuda -pemudi di Dusun Paramaan.

Dsn. Paramaan berada di bawah bukit (Gunung Lau'). Sebelah barat daya terdapat bukit ayam-ayam (jem-a-jem) di bukit ini terdapat banyak pohon Kurnis. Namun sekarang banyak yang dibabat untuk lahan perkebunan. Bukit jem-a-jem terletak di Desa Panagan, 10 m dari perbatasan Desa Gapura Barat III/ Dsn. Paramaan. Kecamatan Gapura selain penghasil pertanian : Jagung, Padi, kacang tanah, kedelai juga termasuk salah satu kecamatan penghasil kelapa. Wajar bila di Paramaan terdapat banyak pohon : Pohon Kelapa, Bambu dan pohon hijau lain-nya. Tak ada yang istimewa dari Dsn ini selain dari adat dan kultur masyarakatnya. Masyarakat Dsn amat menjujung adat ke-timur-an, maklum masyarakat di dusun ini di-apit oleh empat padepokan sekaligus. Bagian agak selatan ada Padepokan Lambi Capbhi. Sementara dibagian timur ada padepokan “pesantren” Sema. Bagian utara diapit oleh salah satu padepokan tinggina/K. H. Kabpul, yang sekarang merintis pesantren modern. Sementara bagian barat ada pesantren Al-in'am (pesantren modern).

Dsn. Paramaan adalah tempat lahir Inumsa dan Nutanimra. Semasa kecil kedua menjalani pendidikan ngaji (padepokan) di tempat berbeda. Nutanimra mengaji di padepokan Lambi Capbhi. Sedangkan Inumsa mengaji di padepokan K. Farisi.

Inumsa adalah pemuda yang periang, mudah bergaul tapi juga sederhana. Kedua orang tuanya termasuk kalangan orang mampu, tapi tidak loyal pada anak. Inumsa mempunyai seorang adik perempuan alimej (dipanggil alal). Isuaf adalah teman paket “akrap” Inumsa dari sejak sekolah SD. Bahkan waktu meneruskan ke SMP mereka juga bersama-sama. Namun pada perjalanannya Inumsa drob aut dengan tanpa alasan yang diketahui.

Konon Inumsa drob aut sekolah lantaran asmara. Saat kelas 2 SMP Inomsa jatuh cinta kepada Nutanimra salah satu gadis sekaligus teman main di kampung. Saat itu Nutanimra masih kelas 1 MTs. Lantaran cinta Inumsa tidak lagi konsentrasi pada sekolahnya. Dia sering bolos. Bahkan guru yang datang dari sekolahnya tidak pernah ditemui. Pada akhirnya Inumsa menyelesaikan pendidikan SMP-nya dengan ikut persamaan atas saran guru-nya (wali kelasnya).

Nutanimra adalah gadis primadona di kampung. Namun Nutanimra ditunangkan oleh kedua orang tuanya semenjak ia masih sekolah di MI. Awalnya Inumsa dan Nutanimra adalah teman bermain di kampung. Keduanya sering bertemu saat nonton TV di tetangga. Maklum pada saat itu TV masih jarang di kampung, hanya beberapa orang yang memilikinya. Boleh dibilang TV menjadi barang yang istimewa. Keduanya sering bertemu dan bercanda di tempat nonton TV, saat itulah benih-benih cinta bersemi.

Inumsa sekaolah di salah satu sekolah negeri menengah peratama (SMP) sedang Nutanimra sekolah di MTs. Jarak sekolah Inumsa dan Nutanimra sekitar 2 km. Mereka sering ketemu sepulang dari sekolah. Keduanya bertemu di jalan yang berpasir, di pinggir jalan berderet pohon kelapa, dan beberapa bunga melati yang ditanam di pagar rumah. Mereka menikmati dengan seksama tiap disetiap ayunan langkah mereka. Perjalanan cinta terlarang diantara Inumsa dan Nutanimra tak mengkerdilkan. Nutanimra tak lagi menghiraukan tunangannya. Nutanimra cukup menegaskan pada diri dan kedua orang tuanya dia menolak pertunangan dirinya dengan familinya itu. Ya Pertunangan Nutanimra itu terjalin antara kedua belah pihak orang tua yang masih ada ikatan famili.

Nutanimra nampak nyaman di samping Inumsa, begitu pun Inumsa. Canda tawa memecah jalanan yang berdebu. Maklum saat itu masuk musim kemarau. Udara yang membawa debu pasir membuat keduanya saling berbalik badan. Namun keadaan itu tak mengurangi rasa senang dan kebahagiaan dua insan yang tengah dilanda cinta. Tak banyak tahu bagaimana mereka membangun percakapan menelusuri kelokan bahkan membentur tembok budaya. Namun dunia kecil melirik dan memperhatikan dua si joli ini. Kasak-kasuk “gosip” merebak. Keadaan memanas dan mereka terdesak. Mungkin cinta mereka tak seindah Lolita, Cleopatra atau Arjunan. Namun kisah mereka menjadi penanda : pemberontakan dan perjuangan meski dalam babak-nya mereka kalah. Tapi langkah itu cukup menjadi simbol “cinta itu tidak dapat dikekang, perasaan itu tidak dapat dipaksakan”.

Cinta memang tidak bisa dibatasi jarak, dan dipisahkan oleh adat dan budaya. Begitupun cinta antara Nutanimra dengan Inumsa, cinta mereka berjalan walau dengan sembunyi-sembunyi. Masalah adat dan budaya tak mengharuskan mereka mengurung diri apa lagi saling menutupi perasaan masing-masing. Cinta mereka berjalan indah penuh romansa. Namun mereka sadar terhadap apa yang dijalani, “menjalani cinta terlarang, mendobrak adat--kebiasaan bukan satu hal yang mudah bagi mereka”.

Sikap orang tua yang tidak mengakui keberadaan “perasaan” anak menjadikan para remaja di Dsn Paramaan melakukan pelanggaran (menjalin cinta secara sembunyi-sembunyi). Sebenarnya cinta Nutanimra dengan Inumsa tidak mesti sembunyi bila orang tua dan lingkungan bisa mendewasakan diri secara proporsinal. Mereka bisa belajar dari sejarah. Anak hari ini bukan buah dikotomi. Saat Lingkungan tak lagi memberi ruang mereka akan berontak dengan cara dan jalan modern.

Bila anak remaja dilarang menjalin perasaan “cinta”, kenapa perselingkuhan kerap ditontonkan oleh mereka yang mengaku dewasa. Jika kia'i melarang pacaran toh mereka poligami, memang poligami tak melanggar asas sebagai mana cinta Nutanimra dengan Inumsa. Mengapa kia'i tak mengajarkan asas cinta yang sehat. Tunangan bukan produk agama, ia Cuma lahir dari tradisi. Pacaran sebagaimana tunanagan. Keduanya lahir dari produk budaya dan tradisi. Jika tunangan lahir dari budaya-tradisi daerah, maka pacaran merupakan prodak budaya/tradisi barat.

Sejarah perkembangan budaya barat di negri ini selalu terganjal oleh kesukuan dan paham agama. Dulu hal yang berbau barat dianggap kafir. Ha ini terjadi pada Bung Karno sang tokoh proklamator, konon saat Bung Karno akan dinikahkan dilarang memakai jas-dasi, karena pakaian itu dianggab pakaian kafir dan tidak mencerminkan lokalitas. Tapi pernah kita berfikir bahwa tak selamanya lokalitas itu baik dan mampu menopang zaman.
Baca Selengkapnya di sini..

Selasa, 05 April 2011

SENDAL JEPIT DI PUSARAN KAUM ELIT Refleksi Pada Bedah Buku : Membangun Madura Pasca Suramadu

02 April 2011

Pejabat, apa yang terbayang di benak anda saat mendengar kata itu. Pejabat didudukkan sebagai orang terhormat, karena mereka memiliki kedudukan strategis dan gaji yang lumayan besar, atau ke-ilmu-an-nya. Barang kali itu yang menyebabkan mereka dihormati atau kita hormat pada mereka. Jabatan menigasikan strata sosial tinggi di kalangan masyarakat. Dan para pejabat menikmati ha itu, wajar bila para pejabat itu selalu diistimewakan dalam setiap keadaan. Tak terkecuali dalam perhelatan akademis pejabat memiliki tempat atau disediakan tempat teristimewa dibanding mahasiswa atau tamu lain.

Maka wajar bila kita gila pada jabatan, ya setidaknya jabatan dapat mengimbangi hidup dan menjamin hidup, apalagi menjadi PNS. Kata orang “kalau jadi PNS enak, ngak kerja juga dapat bayaran”, barang kali itu yang menjadikan generasi berbondong-bondong mendaftar CPNS. Berbagai cara ditempuh demi menjadi PNS, menyogok, mengandalkan kerabat yang sedang dekat dengan kekuasaan, pakai dukun atau ngak tidur semalam suntuk demi lolos jadi PNS.

Tapi saya tidak akan bicara soal bagaimana pejabat itu dihormati atau peroses jadi PNS. Saya akan bercerita bagaimana seorang pejabat bersikap atau menyikapi gaya pakaian. Hem, siapa yang tak tahu pejabat. Penampilan pejabat : pakaian, cara bicara, bergaul akan tercermin dan beda dengan kelas non penjabat. Pejabat selalu identik dengan berpenampilan rapi. Sepatu kinclong, baju mentereng, dan berbagai asesoris lainnya yang tak kalah menarik terutama para ibu pejabat. Hehehehkinclong tenan..!!!!

Pada tanggal 02 April 2011, saya berkesempatan menghadiri undangan bedah Buku MEMBANGUN MADURA PASCA SURAMADU ditulis oleh DR Ir. Soedjarwo Soeromihardjo dan DR Risnarto, MS. Tentunya mereka juga pejabat. Heheheh...., beberapa pejabat teras turut hadir dalam acara bedah buku, pejabat pemda Malang, bupati Bangkalan Rektor Unijoyo dan beberapa pejabat Malang dan pejabat pentimg Jatim.

Buku MEMBANGUN MADURA PASCA SURAMADU diterbitkan oleh Unmer Press. Dan merupakan terbitan perdana. Setelah saya membaca biodata penulis ternyata keduanya bukan orang Madura, DR Ir. Soedjarwo Soeromihardjo lahir di Warujayeng Nganjuk, 28 Oktober 1936 sedangkan DR Risnarto, MS lahir di Banjarmasn, 9 Januari 1950.

Enak jadi pejabat, seenak dua penulis mengeksplorasi keadaan Madura dalam konsep pembangunan Pasca Suramadu. Sebagaimana dikatakan para pembedah “salut atas perhatian Ir. Soedjarwo Soeromihardjo dan DR Risnarto, MS, terhadap pembangunan Madura”, namun saya lebih setuju dengan sikap Prof. Dr. Ir. Arifin, MS Rektor Tronojoyo “saya tidak akan memuji penulis nanti takut sombong” ungkap-nya.

Sederhana tapi penuh makna. Karena pujian selalu bias dengan kepentingan. Heheheh
Ya setiap pujian yang mengalir dari mulut tidak mencerminkan ketulusan. Selalu ada kepentingan besar dalam puja-puji manusia. Jangankan kepada sesama-nya kepada Tuhan pun pujian itu tak benar-benar tulus, selalu ada harapan dibalik pujian. Ada keinginan yang mengintip. Ada keinginan berbalik antara manusia dan yang menciptakan “Tuhan”. Pujian itu sikap potilis.

Saya tidak memuji, bukan tidak mengapresiasi, tapi saya lebih memilih objektif pada hasil karya mereka (DR Ir. Soedjarwo Soeromihardjo dan DR Risnarto, MS), yang banyak salah, Di dalam buku wisata potensial Sumenep halaman 25 disebutkan “Kecamatan Dasuk juga dikenal memiliki Pantai Lombang paling Timur Kabupaten Sumenep” mana ada pantai Lombang di Dasuk. Dicari keobang semut pun tak bakal ada. Lombang terletak di kecamatan Batang-batang. Wah jujur saya kurang srek dengan Buku MEMBANGUN MADURA PASCA SURAMADU, yang mencantumkan Gamabar tanpa sumber keterangan, maklum kan sekarang jaman canggih di internet gambar serupa banyak. Apa iya asal comot, heheheh

Jujur saya kurang begitu suka pada buku MEMBANGUN MADURA PASCA SURAMADU. Tapi terlanjur dikasi ya diambil. Ketidak sukaan karena buku itu banyak salah, saya harap ditinjau ulang agar benar-benar bermanfaat. Tidak menyesat gitu... oyi.. hehehh

Tapi yang paling menarik dalam acara itu bukan penampilan para pejabat yang necis, atau para ilustrasi penulis soal buku, apalagi komentar para pembedah. Para pejabat duduk di deratan depan kursi tempat duduk, ya mereka bergegas kedepan setelah ada permohonan protokoler “kepada seluruh undangan dan mahasiswa untuk duduk di kursi depan yang masih kosong”... seketika undangan berdiri pindah dan sebagian lagi tetap.

Saya yang duduk di bangku no 2 dari belakang segera bergegas ke tempat duduk paling depan. Ketika sampai di kursi paling depan ada teman madura “hei jangan duduk di depan situ... itu tempat para pejabat”.... saya menoleh ke kanan dan ke kiri. Tepat disamping kiri saya rektor UNMER dan sebelah kiri pejabat teras daerah Malang. Coba bayangkan bagaimana perasaan anda duduk dengan orang-orang yang terhormat itu ? dek-dekan nerfes atau .....

Taukah pada saat itu saya memakai sendal jepit Sollow dan di samping kanan kira saya “pejabat” memakai sepatu yang kinclong-kinclong. Dalam hati saya bilang “kalau selama ini sendel jepit hanya bertugas menghantarkan si tuan saat sembahyang kini dia berbaur dengan sepatu kinclong para pejabat elit”. Hehehheh saat itu orang di samping kiri saya tanya “sampean dari mana?” dari Sumenep, jawab saya. “bukan dari perguruan tinggi mana” ooooo dari UIN... kemudian dia melihat kekaki saya. Waooooh terhormat sekali sendal jepit ini sekarang “kata saya dalam hati”. Jarang-jarang dilihat oleh elit. Ciciciciciik.
Wallahua’lam
Baca Selengkapnya di sini..

Senin, 04 April 2011

PAHIT MANIS MENJADI MAHA-SISWA (gelar-penjara-sosial : Mahasiswa kok nganggur )

Saat paling indah di kampus adalah ketika Orentasi Pengenalan Kampus (OSPEK). Perasaan haru , semangat, takut, berbaur saat itu. Ospek mengingatkan kita pada masa-masa Masa Orentasi Sekolah (MOS) di SMP-SMA. Karakter antara Ospek dan Mos tidak jauh berbeda. Saat Ospek-Mos adalah hal-hal yang sengat menguras tenaga tapi membuat kita bahagia. Pada saat Ospek-Mos kita dikerjain habis-habisan oleh (panitia) kakak kelas.

Saat Ospek-Mos cinta lokasi menjadi rahasia umum. Ya kakak kelas secara sembunyi atau terang-terangan memperhatikan kita (peserta). Dan kita senang dengan cara yang mereka lakukan. Terkadang kita pun mengambil kesempatan atau mencuri perhatian panitia. Ada semacam kebanggaan sebagai peserta Ospek-Mos bila kita dapat menarik perhatian mereka.

Akan tetapi sikap panitia terkadang membuat kita kesal dan marah. Permintaan dan aneka hukuman dijadikan senjata : diminta ber-nyanyi, joget, menangis atau sekedar membuat teka-teki. Padahal cara-cara itu hanya sebagai cara untuk melakukan pendekatan , bisa ngobrol sama kita. Hari-hari itu sungguh melelahkan apa lagi saat panitia memberikan tugas disertai ancaman.

Hari-hari itu kini menjadi kenangan dan masa lalu yang tak akan kita lupakan. Masa-masa Ospek-Mos merupakan awal sekaligus cermin perjalanan kita selanjutnya. Masa selanjutnya adalah sebuah ritual yang lebih membosankan. Ya kuliah adalah hal yang paling membosankan. Lebih-lebih saat dosen pengampu kuliah kiler. Kemudian Ospek-Mos menjadi cerita menarik disela rehat atau saat kita sedang menunggu dosen yang agak malas, dan sering bolos.

Paska Ospek-Mos kita benar-benar menjadi siswa / maha-siswa sejati. Gelar siswa / mahasiswa (pelajar) bagai mantra yang selalu menjadi perhatian publik. Baik dan buruk menyeimbangi perjalanan seorang pelajar (mahasiswa/siswa). Publik menaruh harapan yang besar terhadap laju dan kemajuan bangsa ini terutama kapada pelajar.

Dulu demo hanya dimonopoli oleh mahasiswa, jarang-jarang siswa sekolah melakukan demo (mendemo guru atau kepala sekolah) yang sering bolos. Tapi sekarang demo tidak hanya dimonopoli oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Siswa pun kerap melakukan demo. Mungkin ini adalah hadiah terbesar dari pencapaian demokrasi bangsa kita. Semua boleh berpendapat. Semua punya hak menolak dan menyatakan pendapatnya.

Kampus-mahasiswa. Nama dan gelar itu seperti menjadi puncak pendakian dari petualangan orang yang haus ilmu secara konstitusi. Maha-siswa gelar itu hanya ada pada mereka yang menempuh pendidikan strata 1, 2,3. Maha-siswa. Maha dalam kamus berarti : besar ; paling, ter-:sangat. Jadi mahasiswa meruapakan pelajar yang ada di perguruan tinggi.

Menjadi mahasiswa adalah mimpi setiap anak negeri. Namun biaya dan kemiskinan menjadikan anak negri hanya bisa bermimpi. Tak pernah dapat mencicipi. Saya dan beberapa teman pernah jalan-jalan ke salah satu masjid ter-mengah di Turen (masyarakat menyebutnya sebagai Masjid ajaib), waktu itu saya sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan Integratif (PKLI) di salah satu MTsN Turen. Ketika saya jalan di sekitar area mesjid, ada segerobolan santriwati (santri dari pengelola Masjid ajaib) “enakya jadi mahasiswa bisa jalan kemana-mana” ungkap segerombolan santriwati pada temannya. Santriwati dapat mengenali teman-teman sebagai mahasiswa dari Jas Al-mamater yang dipakai oleh kita saat itu. Saya dengan keenam teman (empat perempuan dan dua laki-laki) hanya tersenyum harus dan terus melangkah mengelilingi Masjid mengah itu.

Itulah satu ungkapan tulus dari para santriwati Masjid ajaib. Ungkapan semacam tidak hanya ada pada para santriwati. Semua anak negeri berpengharapan sama, bisa menjadi mahasiswa. Sepintas mereka menilai kebebasan seorang mahasiswa yang bisa (jalan-jalan) bergerak atau berkunjung ke tempat-tempat tertentu.

Praktek Kerja Lapangan Integratif (PKLI) merupakan titik tengah yang sangat menantang bagi mahasiswa. Saat PKLI ini mahasiswa dituntut dapat mengaplikasikan teori yang telah dipelajari di bangku kuliah. Pahit manis PKLI menjadi romansa yang tak kalah indah dengan pelaksanaan Ospek-Mos. Ya ketika PKLI mahasiswa mengasah serta mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin dan dan lebih penting adalah melatih ke-mandiri-an, karena pada pelaksanaan itu mahasiswa mengemban amanat dan nama besar lembaga.

Cinta : kata itu selalu mewarnai setiap sisi perjalanan hidup, tak terkecuali ketika pada pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Integratif (PKLI). Cinta Lokasi. Cinta lokasi adalah rahasia umum di kalangan mahasiswa yang melaksanakan PKLI. Pertalian cinta membuka kemungkinan diantara kelompok, bahkan tak jarang seorang PKLI menjalin cinta dengan peserta didik-nya.

Setelah masa-masa Ospek-Mos dan PKLI dilalui hal yang tak kalah menantang adalah penyelesaian tugas akhir kuliah (Skripsi). Skripsi ini adalah puncak derita seorang pelajar. Puncak seorang mahasiswa bergelut dengan tumpukan buku. Namun jalan pintas selalu ada dalam setiap hidup. Begitu pun saat akan menggarab skripsi. Jasa pembuat skripsi menjadi angin segar kepada mahasiswa yang hendak menyelesaikan skripsi. Dari pada pusing dan sibuk bolak balik perpus atau toko buku kan lebih enjoi memanfaatkan jasa pembuat skripsi, atau kita kopy paste dari dari kampus lain.

Saya percaya teman-teman tidak akan melakukan hal koyol (menggunakan jasa pembuat skripsi / copy paste) itu, kalau pun ada mungkin hanya satu atau dua orang saja. Plagiat “copy paste” dalam kegiatan akademik menjadi rahasia umum. Lolosnya beberapa sekripsi kemudian terbongkar, merupakan kelemahan dari para dosen pembimbing. Maklum para dosen sibuk dengan berbagai kegiatan, hingga mereka tidak maksimal dalam memberikan bimbingan, tapi tanggungjawab hendaknya menjadi prioritas.

Ketika skripsi disetujui dan selesai, kebahagian terpancar disetiap wajah mahasiswa. Mahasiswa yang bosan berhadapan dengan buku mengibarkan bendera. “sudah selesai penderitaanku” kira-nya kata itu pas mewakili apa yang berkecamuk di hati mahasiswa yang malas. Bersama selesainya skripsi, tugas belajar yang menjadi tanggungjawab seluruh insan (wajib mencari ilmu “belajar” semenjak buayan-hingga liang lahat) purna. Ikrar kesarjanaan serempak terucap dari bibir yang selama ini berlumur doa (takut tidak lulus), bergetar bak memecah langit ketujuh.

Saat ritual “wisuda” selesai, saat gagab gembita bersama teman berakhir, mereka kembali pada lumbung asal berdiri. Sendiri, sepi dan kata yang paling tidak kita inginkan dalam kesendirian adalah “pengangguran terdidik S1” , kata itu menjadi momok yang menghantui setiap saat, namun ketidak berdaya menjadikan kita ingklud-mengamini.

Pengangguran terdidik, kata itu sungguh sangat menyedihkan dan ironi yang tak berkesudahan. Ya... bagi mahasiswa yang pas-pasan : tidak berprestasi, tidak punya link, atau bukan anak pejabat, pengangguran merupakan predikat yang mau tak mau harus diterima dengan logowo. Nilai bagus tak menjamin masa depan, realitas itu menjadi hal umum di kalangan republik ini. Tapi nilai jelek juga jadi persoalan tersendiri untuk meniti karir.

Kata teman “kesuksesan tidak bisa diukur dengan karir dan memiliki pekerjaan tetap”, kata itu mungkin ada benarnya, selebihnya adalah alibi dari orang yang idialis. Orang butuh makan, makan tidak dapat diperoleh secara gratis kerja dan memiliki pekerjaan tetap setidaknya akan menjadi bumbu bahagia bagi keluarga-lingkunagan. Gelar bukan kebahagian ketika kita tidak bisa mengimbangi dengan kapasitas. Perlahan dan pasti gelar justru menjadi penjara sosial. Mahasiswa kok nganggur !!!


HOIRUNNAZI YAMFA'UNNAZI'

Selamat Buat teman-teman yang akan wisuda... semuga Allah senantiasa menganugrahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin
Baca Selengkapnya di sini..